Detik-detik Kutinggalkan Pesantren karena Corona

Pukul 05.00 WIB, Bang Khumaina sudah bergegas ke musala untuk azan subuh.

Ketika azan berkumandang, semua penghuni asrama di Pesantren Baitul Arqam sudah bersiap-siap untuk ke musala.

Kami segera bergegas dan ketika telah tiba di musala, Ustaz Yasir menyuruh kami untuk salat sunah.

Setelah itu ustaz menyuruh Bang Iswar untuk ikamah, selanjutnya ustaz maju ke depan dan menjadi imam salat subuh.

Usai salat kami disuruh untuk muraja’ah (mengulang hafalan) Alquran hingga jam menunjukkan pukul 06.15 WIB.

Setelah itu ustaz memperbolehkan kami kembali ke asrama dan bersiap-siap untuk sekolah.

“Jangan ada yang telat, ya. Pukul 07.15 WIB semua santri sudah berada di depan kantor, ya,” ujar Ustaz Yasir.

“Iya, Ustaz,” jawab kami.

Begitu tiba di asrama, aku melepas mukena dan menggantungnya di belakang pintu.

Kemudian merapikan tempat tidur, menjemur pakaian di belakang asrama, lalu bersiap-siap untuk mandi karena melihat kamar mandi sedang kosong.

“Fatimah, di kamar mandi enggak ada orang, kan?” tanyaku pada Fatimah, salah satu teman satu asrama.

“Enggak ada, barusan aku keluar dari kamar mandi,” jawab Fatimah.

“Kenapa Amali? Mau mandi, ya?”

“Iya.”

“Oh, masuklah, enggak ada orang, kok,” jawab Fatimah lagi.

“Ooo, makasih ya, da da… aku mandi dulu,” ucapku dengan girang.

“Iya.”

Baca Juga: Sahur Stories: Puasa di Pesantren

Setelah mandi dan selesai berpakaian, aku pergi ke dapur untuk mengambil sarapan.

Karena antrean masih kosong, jadi aku mengambil sendiri nasi dan lauk pauk berupa telur bulat.

Kemudian kembali lagi ke asrama dan menyantap sarapan hingga habis.

Barulah setelah itu aku mengambil tas dan memakai sepatu, lalu bergegas ke depan kantor madrasah yang tidak begitu jauh dari asrama.

Sampai di depan kantor kulihat masih sepi, hanya ada satu atau dua santri sehingga aku pun memilih duduk santai sambil menunggu yang lain.

Lima menit kemudian seluruh santri sudah berkumpul dan selanjutnya kami masuk ke kelas masing-masing. Sampai di kelas, suasana terlihat ramai.

“Eh, Amali ko udah tau kabar belum?” tanya Ali padaku.

“Belum, emangnya kabar apa, Li?” tanyaku balik padanya.

“Kabar tentang semua sekolah udah diliburkan karena si Covid-19,” jawab Ali lagi.

“Emangnya ko dari mana tau?” tanyaku lagi pada Ali.

“Kan kemarin aku pulang, jadi aku baca internet makanya aku tahu,” jawab Ali.

“Oooo, baguslah kalau ko udah baca internet, udah tau tentang si Covid-19,” jawabku lagi.

Tidak lama kemudian, “Assalamualaikum,” Bu Nur Fadhilah mengucap salam.

“Waalaikumsalam,” kami menjawab salam dengan kompak dan sempurna.

“Lho, Ibu tumben terlambat?” tanya kami pada beliau.

“Karena Ibu baru tahu kalau di Baitul Arqam belum libur, soalnya anak (santri) Insan Qurani kemarin sudah pulang dari pesantren karena corona, makanya Ibu terlambat, maafkan Ibu ya karena terlambat,” ujar Bu Nur Fadhilah.

Baca Juga: Gara-gara Si Corona, Mudik Tak Seasyik Dulu Lagi

“Iya enggak papa, Bu, yang penting Ibu datang kok,” jawab kami lagi.

“Emangnya kalian belum libur?” tanya Bu Nur Fadhilah lagi kepada kami.

“Belum, Bu, kok lama sekali ya, Bu?” tanya kami lagi pada beliau.

“Mungkin nanti malam, kalian sabar aja, ya.”

“Iya, Buk,” kami menjawab dengan muka cemberut.

Dua jam kemudian.

Kring… kring…kring… Bunyi bel pertanda waktu istirahat telah tiba. Lalu kami keluar kelas dan bergegas ke asrama untuk salat duha.

Usai salat sunah itu, kami mengantarkan kotak makan siang ke dapur seperti yang biasa kami lakukan.

Selanjutnya ke kantin untuk jajan dan lima belas menit kemudian suara bel kembali terdengar.

Kami kembali ke kelas untuk melanjutkan belajar. Satu jam setelah waktu istirahat kelas sudah selesai.

Di luar kompleks pesantren sudah terdengar orang mengaji di cerobong masjid, jarum jam menunjukkan angka pukul 12.30 WIB. Itu artinya akan segera masuk waktu salat zuhur.

Para santri kembali bersiap-siap ke musala untuk salat zuhur berjemaah.

Setelah salat, kami langsung ke dapur untuk mengambil jatah makan siang yang telah disiapkan oleh ibu dapur.

Sampai di asrama, aku menaruh kotak nasi yang kuambil di dapur tadi, kemudian melepas mukena dan menggantungnya di belakang pintu.

Baru setelah itu aku makan dan dilanjutkan dengan membereskan kamar.

Aku juga sempat mencuci pakaian dan setelah itu aku tidur sebentar hingga menjelang asar.

Ketika terbangun pada pukul 15.42 WIB, aku turut membangunkan temanku Fatimah.

Baca Juga: Atas Nama Toa Meunasah

Selanjutnya kami kembali melakukan rutinitas yang biasa kami lakukan di pondok pesantren hingga setelah salat asar Ustaz Nouval meminta kami semua berkumpul di depan kantor.

Rupanya ada pemberitahuan mengenai libur sekolah karena adanya pandemi covid19.

Ustaz lantas membagikan surat libur dan jadwal kembali ke pesantren. Surat ini harus ditandatangani oleh orang tua atau wali santri nantinya.

Setelah itu kami bubar dan kembali ke asrama untuk berkemas-kemas. Siap-siap kembali ke rumah dan kampung masing-masing esok harinya.

Malam terakhir di pesantren hari itu, pada pertengahan Maret 2020, aku dan Fatimah sempat jalan-jalan sebentar di pekarangan pesantren setelah salat isya.

Esoknya, sebelum kami semua kembali ke rumah siang harinya, pagi harinya para santri melakukan gotong royong dan bersih-bersih kamar.

Aku sendiri turut membongkar tempat tidur supaya kasur dan barang-barang lainnya tidak berdebu.

Kami juga saling berpamitan sampai akhirnya satu per satu di antara kami meninggalkan pesantren.

Begitulah ceritaku tentang detik-detik meninggalkan pesantren karena dunia ini sedang dilanda wabah covid19. Semoga pandemi cepat berlalu agar aku bisa kembali ke sana.

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here