Atas Nama Toa Meunasah

~ Mumpung puasa, mari kita kunyah itu mic meunasah

Salah satu keniscayaan masjid dan meunasah di Aceh adalah pelantang suara berbentuk corong. Orang banyak menyebutnya dengan nama perusahaan pembuatnya, Toa.

Menurut literatur, Toa pertama sekali masuk ke nusantara dibawa oleh para kafir kolonial. Ihwal kapan Toa itu masuk ke Aceh hingga bisa demikian bersenyawa dengan masjid dan meunasah belum diketahui tepatnya tahun berapa?

Namun perihal para teungku terdahulu yang notabene punya surplus kebencian pada segala bawaan orang-orang kafir penjajah bisa berdamai dengan Toa ini tidak lain karena bentuknya.

Di samping fungsinya yang bisa membuat para bilal meunasah terbebas dari derita ceumiriek rungguek (melar pita suara). Ini menguatkan alasan bahwa memakai barang kafir itu tidak ada salahnya. Tidak berdosa.

Konon, sangkakala yang ditiup malaikat Israfil di akhir zaman nanti berbentuk kurang lebih sama seperti Toa. Boleh dikata Toa adalah sangkakala dalam ukuran super mini.

Dan memang, selain untuk membahanakan suara azan, menggemuruhkan pengumuman gotong royong, alat ini juga digunakan untuk mengumumkan salah satu kiamat kecil yang rutin terjadi.

Seperti tatkala pengumuman yang keluar dari corong Toa diawali dengan kata, “Innalillahi…”

Khusus bulan Ramadan, Toa punya pengaruh besar demi menghidupkan malam-malamnya yang penuh berkah.

Satu peruntukannya yang sangat cocok adalah untuk membangunkan orang-orang bangun dari tidur agar sempat menyiapkan dan makan sahur. Ini paling penting.

Kau tinggal mengunyah microphone di meunasah sambil menyanyikan kata-kata sahur berulangkali, dengan irama sesuka hati. Ditambah sedikit lengking efek swing, maka lengkaplah sudah.

Dengan segala kelebihannya bisa dipastikan pelbagai karakter tukang tidur akan seketika terbangun tatkala suara yang bergema dari Toa menerpa daun kuping mereka.

Entah itu karakter tidur batang kayu, kerbau sekarat, hingga yang berkuping biawak sekalipun, tidak terkecuali, semuanya akan gelagapan mengangkat selimutnya ketika tiba gilirannya Toa dari meunasah berbunyi.

Kesemarakan yang ditimbulkan Toa pada waktu sahur tidak tanggung-tanggung. Aku mengerti betul akan hal ini oleh karena tempat tinggalku sekarang terletak di antara banyak Toa. Sebagian Toa masjid, sisanya lagi Toa meunasah.

Toa masjid berada di utara, Toa meunasah di selatannya. Pendek kata, tunong-baroh rumahku dikepung pelantang suara paling legendaris ini.

Perihal kenapa kesemarakan yang kurasa bisa kurincikan secara lebih mendetil, dimulai sejak sahur berpangkal sampai sirine imsak berujung.

Baca Juga: Apa yang Harus Disiapkan Menyambut Puasa?

Pukul 03.45 WIB. Awalannya adalah suara ucapan salam. Lengkap sampai ke frasa wa barakatuhu.

Lantaran teungku rangkang tempatku mengaji dulu berpetuah menjawab salam itu wajib, aku selalu menjawab salam yang datang dari Toa secara sirr saja, tidak sekalipun jahr.

Inilah kewajiban yang tiap selesai kutunaikan menyisakan tanya dalam hati.

“Apakah salam dari Toa meunasah wajib dijawab oleh tiap pendengarnya?”

“Jika wajib, apakah ia berlaku secara ‘ain atau kifayah?”

Kerap pertanyaan-pertanyaan yang timbul seperti ini berakhir dengan penyesalan.

“Terkutuklah aku yang hanya lulusan pesantren kilat ini.”

Berturut-turut setelah salam terdengar adalah gema nyanyian panjang. Medley. Sahur… sahur… sahur…

Sebenarnya itu nyanyian sudah mendekati kategori teriakan. Iramanya campur-campur. Adopsi dari banyak lagu.

Tiap mendengar nyanyian yang tersiar dari Toa itu, merujuk pada iramanya, aku selalu membayangkan penulisan nama penyanyinya akan jadi begini: Anonim featuring Kangen Band, Rafly, System of a Down dan Nur Asiah Jamil.

Nama Kangen Band wajib disematkan gegara penggalan lirik salah satu lagu mereka, dikutip mentah-mentah dengan perulangan yang cukup konstan, terutama pada bagian, “Bapak-bapak, ibu-ibu, nenek-nenek, kakek-kakek,” dan seterusnya.

Meski rada-rada riuh begitu, nyanyian dari Toa itu mendatangkan semacam nostalgi. Kenangan semasa SMP dulu muncul di ingatan.

Dulu, aku bersama teman-teman di kampung juga berlaku lebih kurang sama di tiap bulan puasa. Rebutan kunyah mic di meunasah.

Hingga suara cempreng kanak-kanak kami membahana ke seantero kampung. Tentu saja dengan perantara Toa meutuah yang sedang kita bicarakan ini.

Pada masa-masa penuh kemenangan itu, perkara hasil kunyahan mic kami bisa membuat orang uzur sedikit lebih dekat dengan ajalnya, entah akibat jantungan atau apalah, itu urusan belakangan.

Yang penting seisi kampung bangun. Makan sahur.

Jangan sampai esok hari orang-orang loyo lunglai lantaran puasa soh. Atau bahkan tidak puasa sama sekali hanya karena kami malas-malasan membangunkannya.

Seturut nostalgi demikian bahagia membuncah dalam dada.

Ini kebahagiaan yang amat sangat singkat. Sebab lepas makan sahur, belum selesai ritual menyeruput sambil mengudut di teras rumah, giliran tanda imsak mengudara dari corong Toa yang sama.

Maka terdengarlah rekaman suara pejabat pemerintah mengucapkan selamat berpuasa. Ditutup doa semoga amal ibadah kita diterima Allah subhanahu wa ta’ala.

Baca Juga: Patok Lele dan Kenanganku Tentang Kapai Po

Jika didengar seksama, kentara betul ucapan-ucapan itu telah kena poles sana-sini. Tidak sepolos dan sejujur nyanyian sahur sebelumnya.

Penekanan intonasinya di kata-kata tertentu seakan membeberkan proses perekamannya hingga layak tayang menyedot anggaran yang tidak sedikit.

Sampai di sini, aku ingat perkataan Nek Wod enam tahun silam. “Pejabat pemerintah tak pernah habis akal merenggut kebahagiaan rakyatnya.”

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here