Belajar Motivasi dari Seorang Pecundang yang Babak Belur

~ Sungguh sebuah kisah beraroma faedah yang sangat menggugah selera

Di ruangan tengah rumah sempitnya, Herman duduk di depan TV tabung pemberian Mamaknya. Dua bola matanya serius menatap layar televisi. Terpampang jelas bahwa Herman sedang serius menonton sinetron “bergenre” azab sengsara. Dan terpampang jelas juga judul sinetronnya: Jenazah Tukang Sayur Penipu Musnah Dipatok Ayam.

Sekilas, penampakan Herman lumayan awut-awutan. Kostum kebanggaannya cuma sarung usang tanpa baju. Tulang-tulang badannya lebih menonjol dibandingkan dengan massa ototnya. Yang lebih berseninya lagi, ada hiasan-hiasan bekas cacar di badannya. Semacam gambaran baut-baut mobil yang berserakan. Polanya lumayan mengeluarkan cita rasa keindahan yang sempurna. Mirip dengan lukisan-lukisan abstrak kontemporer. Cocoklah dimasukkan ke rumah-rumah pelelangan.

Satu momen, saat sebuah iklan muncul memotong cerita sinetron, muka Herman beserta aksesorisnya berubah-ubah secara signifikan. Kadang mukanya mengkerut, kadang mengencang. Air mukanya sekejap porak-poranda. Dalam hati Herman, “Ee…BGSD. Apa maksud iklan ni? Nyindir mentang-mentang aku pecundang lemah? Oo, apa aku banting juga ni TV tabung? Eh, janganlah, marah Mamak nanti.”

Iklan yang dilihat Herman menampilkan sebuah produk rokok. Diceritakan di iklan itu, dua petarung sedang berduel. Salah satu petarung posisinya terdesak dengan cekikan menggunakan kaki. Sedikit lagi ia bisa kalah. Dalam keadaan kritis begitu, tiba-tiba muncul tulisan “I am not a loser.” Akhirnya, karena tidak ingin menjadi seorang pecundang, timbul kekuatan dari petarung yang terdesak tadi untuk membanting lawannya dan ia menang.

Herman masih merepet-repet di dalam hatinya. Ia masih merasa tersindir sebagai seorang pecundang yang cenderung abadi. Tidak bisa bangkit-bangkit. “Tae-tae! Hidup kok gini terus? Kerjaan nggak ada. Lamaran kerja udah ke mana-mana aku kirim, satu pun nggak ada yang manggil. Masih untung kuliah tamat, yah, walaupun untuk nyelesain skripsi harus di-ruqiyah dulu sama keluarga.”

Acara menonton sinetron azab sengsara seketika bubar. Bagi Herman, sinetronnya sudah tidak menarik lagi gara-gara intervensi iklan rokok tadi. Membuat mood Herman terperosok jauh ke dalam palung kenistaan. “Halah, mending aku makan kalo kayak gini. Bikin kenyang, mana tau jadi kreatif. Pokoknya aku harus tenang. Aku harus selalu berpikir positif,” lanjut Herman di dalam hati.

Setelah itu, Herman langsung berteriak manja, “Istriku tersayaang…tolong siapin makanan buat abang. Nanti abang…”

Herman terdiam, lalu kekeh sendiri. “Xixixi…lupa aku. Aku kan belom nikah. Kok bisa lupa ya? Udah tiap lebaran disiksa sama pertanyaan ‘kapan kawin?’, masih bisa lupa juga. Apa ini namanya halusinasi? Nasib-nasib. Masak Indomie lah.”

Segenap tenaga Herman kerahkan untuk mengangkat pantat buriknya ke dapur. Sesampainya di dapur, menit-menit berlalu dibunuh Herman dalam rangka meraih kelezatan Indomie yang hakiki. Senyum puas terukir manis tatkala wangi Indomie memenuhi setiap sudut dapur.

Sayang disayang, semerbak Indomienya tidak sebanding dengan tampilan fisiknya. Tampilan fisiknya sangatlah buruk. Seandainya Chef Farah Quinn mengatakan, “This is it! Indomie rebus bertabur lada hitam.” Kali ini, Chef Farah Quinn akan mengatakan, “This is it! Indomie rebus bertabur kerak hitam panci.”

Maklum saja, panci yang digunakan Herman sudah menua dan kurang dirawat. Tebalnya lapisan kerak hitamnya sebelas dua belas dengan lapisan kerak bumi. Akibatnya, ada beberapa yang terlepas dan membentuk gugusan kerak hitam di semesta kuah Indomie. Berharap Indomie rebus yang cantik. Apalah daya. Panci tak sampai.

Nggak apa-apa buruk rupa, yang penting wangi

Herman pandang dalam-dalam Indomie rebus hasil olahannya. “Ah, ini bukan jadi suatu masalah. Sesuai dengan prinsip hidupku. Nggak apa-apa buruk rupa, yang penting wangi,” pikirnya. Kemudian, bermodalkan piring kaleng dan sendok, sebuah rangkaian eksekusi yang kejam diperagakan oleh Herman. Tidak pakai lama, Indomie rebus bertabur kerak hitam panci ludes tak bersisa.

Selesai makan, seiring dengan sibuknya sistem pencernaan bekerja, Herman memilih duduk di teras rumahnya. Sebatang rokok dibakar. Hembusan asap rokok seakan-akan menggambarkan harapannya: semoga kenyang ini membangkitkan kreatifitas di tengah kepungan keterpurukan.

Satu jam berlalu.

Dua jam berlalu.

“Anjiir…mau kenyang, mau lapar. Ya, gini-gini juga. Buntu kreatifitas. Kayaknya, pecundang ya pecundang aja. Nggak usah minta lebih.”

Ia rebahkan badannya. Pikirannya menerawang jauh. Terkenang kembali olehnya kata-kata salah satu sobat miskinnya, yaitu kita harus selalu berpikir positif di semua masalah yang kita hadapi. Tidak dipanggil-panggil wawancara kerja, mungkin ada kerjaan besar yang menanti di masa depan. Belum nikah-nikah sampai saat ini, mungkin kita akan diberikan bidadari surga yang terbaik di masa depan.

Tapi, lama-lama, Herman bisa menangkap sesuatu yang lain dari perkataan sobat miskinnya. Bukankah jika kita selalu berpikir positif terhadap masalah yang kita hadapi, itu akan malah memberikan kesan kita menghindari masalah tersebut? Itu bukan solusi untuk menyelesaikan masalah. Yang ada, kita lari dari masalah. Kita menentang bahwa masalah itu ada.

Herman merasa sobat miskinnya salah. Selalu berpikir positif malah menghilangkan kesempatan kita menyelesaikan masalah. Akui saja kebenaran sesungguhnya bahwa hidup kita penuh masalah, brengsek, dan seorang pecundang. Tugas selanjutnya, pecahkan setiap masalah tersebut.

“Shit! Udah betul lah ini. My life sucks! Aku emang pecundang,” ujar Herman singkat, padat, dan jelas.

Komentar

Komentar