~ Ya, biasa sajalah, bakar terus rokokmu!

Ketika perokok berhenti merokok apakah sesudahnya dunia akan aman sentausa? Apakah Korsel akan berdamai dengan Korut lalu membentuk sebuah negara unifikasi? Atau apakah Israel akan tobat dari hobinya mengganyang orang Palestina? Stop memikirkan itu semua karena jelas tidak masuk akal. Pisang berbuah durian hanya ada di lagu Rano Karno, tapi dunia mungkin bakal makin brengsek ketika perokok berhenti merokok. Akan tetap ada perang di dunia ini.

Paragraf pembuka di atas sengaja dibuat ngawur supaya terkesan ingin mem-framing tentang stop merokok. Tapi saya sungkan berterus terang. Saya enggan bilang: rokok itu berbahaya, berhentilah mengisapnya. Tidak Pulgoso, akan ada banyak orang yang tersakiti gara-gara ucapan itu. Entah kawan, mantan, lawan, atau tetangga saya. Apalagi, mendekati Pilpres ini, sensi merebak di mana-mana. Maksud hati berjanda, eh bercanda, tapi orang melihatnya serius. Semacam dark joke: cuma membuat orang jengkel dan ingin melempar kita dengan asbak.

Lagipula, saya bukanlah aktivis antirokok, paramedis, atau petugas KB. Saya juga tidak ingin bilang bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan. Sebelumnya, saya pernah memposisikan diri sebagai prorokok. Namun, saya tidak menganjurkan orang merokok. Itu hanya bentuk sindiran kepada pihak-pihak yang begitu permisif terhadap rokok.

Saya juga tidak pernah mengatakan merokok sebuah perbuatan tercela. Jika itu saya lakukan tentulah saya termasuk ke dalam golongan orang tercela.

Lalu, sekarang saya “memutuskan” tidak merokok lagi? Iya, tapi saya tidak bangga dengan itu. Sama tidak bangganya saya dengan merokok. Saya berhenti merokok baru tiga pekan. Kawan saya bilang,

Jangan sok paten kau, aku yang udah bertahun-tahun berhenti biasa aja

See, ini salah satu alasannya.

Berhenti tiga pekan bukan sebuah prestasi tentu saja. Bisa dikatakan, inilah masa-masa krusial, halah pe**r. Tapi tenang sajalah, jika saya nanti merokok lagi, sudah ada para “stakeholder” yang bisa saya salahkan. Siapa lagi kalau bukan pabrik rokok dan pemerintah.

Saya dan rokok punya cerita putus nyambung yang akut. Saya pernah beberapa kali berhenti merokok, dengan cara dan sebab berbeda. Suatu kali, saya berhenti tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Lalu sesudahnya diikuti mengemil dan banyak minum air putih. Cobaan sungguh dahsyat. Saya cuma bisa bertahan dua pekan sebelum terdegradasi ke posisi bawah klasemen.

Namun, yang saya lakukan di dua pekan itu sungguh di luar dugaan. Saya seperti aktivis antirokok. Kemana-mana bicara bahaya rokok. Ketika melihat perokok saya sinis. Semua kawan yang merokok saya ejek. Tak peduli apakah mereka marah, geli, atau keki melihat tingkah saya. Ketika itu, saya menemukan rokok sebagai benda yang harus saya benci sepenuh hati, seumur hidup.

Ternyata saya salah, bukan begitu caranya berhenti merokok. Membenci sesuatu berlebihan, ujungnya tak baik. Karena setelah dua pekan itu saya terjebak lagi ke dalam lingkaran asap rokok. Saya sungguh malu dan bertekad tak akan pernah berhenti merokok. Tapi, setelah bercermin sepuasnya di kolam ikan, saya lega kembali. Saya yakin ada banyak perokok yang bernasib serupa. Ingin berhenti merokok tapi susah. Sudah berhenti, eh merokok lagi. Emang enak, Bung!

Saya bukan perokok yang tergantung atau setia pada merek. Asal terasa ringan dan tidak bikin kerongkongan terlalu sesak. Saya rasa, tidak banyak perokok bersikap demikian. Kebalikannya, ada banyak perokok setia pada merek tertentu hingga bertahun-tahun. Mereka rela menua bersama sampai pabriknya tutup. Jika sesekali dada sesak, mereka berani bilang bukan rokoknya yang salah tapi diri sendiri. Para perokok model beginilah yang saban tahun menyumbangkan pendapatan bagi negara. Keberadaan mereka menyelamatkan pabrik rokok dari kebangkrutan.

Namun, di tengah tipe perokok ini menyusup sebuah genre lain: para perokok “sehat”. Di mata mereka, tingkat bahaya rokok itu berbeda-beda. Tergantung merek, tergantung berapa takaran tar dan nikotinnya. Cukup melihat dari kemasan rokok, mereka bisa menilai mana rokok yang berbahaya dan tidak. Ajaib kan? Kalau ada riset yang menunjukkan bahwa ribuan racun dan bahan kimia bersemayam di setiap batang rokok, mereka tentu menertawakannya.

Jadi, jika suatu hari Breeders menemukan perokok seperti itu, peganglah dahinya dan tanyakan apakah Yang Bersangkutan sedang demam? Rokok apa pun, kecuali yang berisi manisan, tentu berbahayalah. Mau sekali sedot saja atau sejuta kali, asap rokok itu sudah berbahaya. Yang tidak merokok saja bisa terkena efeknya, kan?

Stop (berhenti) merokok

Apa pasal saya berhenti merokok? Apakah yang mendorongnya? Tak usah saya ceritakan supaya tidak menginspirasi Breeders yang ingin berhenti merokok. Saya setuju jika kita tidak perlu percaya pada cerita sebuah kasus yang dijadikan alasan berhenti merokok. Kalau mau berhenti, silakan cari sendiri alasannya. Bukan dari mempercayai cerita orang.

Ketika berhenti merokok, saya merasa sebuah kenikmatan hilang. Akibatnya sering terbengong-bengong ketika berada di suatu tempat. Jiwa saya kosong. Mulut jadi aneh saat melihat orang merokok. Sementara dada terasa ringan. Sesaknya berkurang. Dulu, saya pikir tak bisa fokus bekerja jika tak ada rokok. Sekarang, ada dan tak ada rokok ya sama saja.

Cerita tentang berhenti merokok ini tak usah dipercaya. Para perokok haruslah tetap semangat merokok. Tanpa kalian, negara ini sudah lama bubar. Merokok juga sebuah kenikmatan dunia. Apa rela meningggalkannya? Rokok membunuhmu? Ah, bullshit!

Komentar

Komentar