Mengingatmu di Wartel Kenangan

#CintaReceh

~ Pada 1990-an, wartel adl sebuah tempat utk menelpon org

Ada banyak hal yang melintas dalam kenangan jika aku kembali mengingat wartel itu. Ya, wartel atau warung telekomunikasi tempat aku menelponmu saban malam Minggu itu, dulu, ketika aku takut untuk pergi mengapelimu.

Takut pada ayahmu yang galak dan kampungan. Malas diejek oleh abang-abangmu yang petentengan.

Hanya melalui wartel itu, aku bisa terkoneksi denganmu melalui SLJD alias sambungan langsung jarak dekat, dan menikmati malam Minggu penuh bunga.

Bunga apa? Mungkin anyelir atau bisa-bisa kamboja.

Aku memang suka mencandaimu. Hidungmu yang bangir itu akan selalu kusentil dengan ujung jari supaya pipimu merona dan tersipu malu. Sementara aku akan cekikikan di sampingmu.

Sungguh sebuah cinta monyet yang bangsat. Di tahun itu, ketika Aceh masih perang, dan Corona, jangankan datang, namanya saja tak pernah kita dengar.

Di wartel itu, bermodalkan Rp10 ribu atau mungkin Rp5 ribu__aku nggak ingat pasti__setelah jam delapan saban malam Minggu, aku pasti sudah duduk mengantre di kursi plastik samping meja operator.

Aku menunggu giliran tiba. Menunggu penelepon lain menghabiskan cakapnya di dalam bilik yang jumlahnya cuma tiga. Setiap bilik ditutupi kaca berparas hitam supaya orang di dalam tidak terlalu jelas kelihatan.

Biasanya tak lama aku mengantre. Ketika mesin printer sudah berderit-derit di meja operator, itu tanda ada telepon siap pakai.

Aku pun bergegas ke bilik kecil itu, lalu memijit tombol angkanya satu demi satu. Ya, ke nomor rumahmu yang telah kuhapal di luar kepala. Cuma lima angka, sih, apa susahnya untuk diingat.

Aku tau, di rumahmu pasti kau sedang duduk di sofa dekat telepon menunggu pesawat ciptaan Antonio Meucci itu berdering.

Kau harus sigap dan tangkas saat meraih gagang telepon. Sembari memastikan seisi rumah sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Jika tidak, suasana akan berbeda. Ayahmu pasti akan merebut telepon dan memarahiku dengan suara baritonnya.

Ya, ayahmu memang seram (pake banget). Selain suara bariton, beliau punya kumis yang sangat tebal dan lebat di atas bibirnya. Entah berapa berat kumis itu jika ditimbang.

Jadi, jangankan mengajaknya berkelahi, menatap matanya pun lututku pasti bergetarlah. Aku tahu ayahmu kan jagoan. Dia preman pasar. Banyak orang katanya takut pada ayahmu.

Tapi sejago-jagonya ayahmu, beliau tak tahu yang mana pacar anaknya. Walaupun saban hari kami bertemu ketika aku naik labi-labi ke sekolah. Yang beliau tau cuma suara saja.

Jeh, kok jadi cerita ayahmu?

“Halo,” suara itu yang ingin kudengar. Suaramu. Suara yang sedikit serak tapi ceria.

“Apakabar?” Lalu sesudah itu kita akan bercerita tentang apa saja.

Sesekali kau menahan tawa ketika aku melemparkan joke garing. Sementara di dalam bilik wartel aku terbahak-bahak dengan puas. Tak peduli apa kata orang yang mengantre di luar.

Setelah lelah bercerita, kita kemudian sering menyepakati untuk janjian bertemu. Bukan di cafe atau taman, tentu saja, karena kita belum terlalu berani untuk berduaan di tempat itu.

Takut dipergoki ayahmu. Bangsat!

Selama aku bersamamu, kita ibarat Romeo dan Juliet. Seringkali, kita tertukar. Kau Romeo, aku Julietnya. Entah kenapa, tapi begitulah cara kita sebagai anak muda saat jatuh cinta menjelang berakhirnya milenium kedua Masehi itu.

Tempat janjian yang paling sering kita sepakati adalah kantin dekat sekolah atau halte. Sesekali ke perpustakaan kalau masih buka sepulang sekolah. Tapi itu sangat jarang karena kita berdua cuma suka membaca komik Donal Bebek.

Buku emang jendela dunia tapi kalau kita sudah punya dunia sendiri, buat apa lagi buku, ya kan?

Kalau bertemu kita tak lama. Paling cuma 15 menit. Mukamu sudah terlihat lelah setelah belajar seharian. Tapi masih terlihat menawan. Ya, setidaknya aku tetap suka melihatmu dalam kondisi-kondisi lusuh seperti tawanan perang itu.

Lalu, kita pulang sama-sama, menumpang labi-labi yang sama dan duduk berdempetan. Di siang bolong ketika labi-labi penuh anak sekolah, berdempetan denganmu adalah sebuah hal yang sangat indah.

Sungguh. Tanpa bicara cuma saling melirik saja.

Saat kau turun, dari balik jendela aku akan terus menatapmu tanpa bosan. Sekaligus memastikan kau tidak salah jalan pulang ke rumahmu yang tersembunyi dalam gang-gang dekat pasar.

Ketika labi-labi mulai berjalan lagi dan kau menghilang di balik gang, aku meraba-raba kantong untuk memastikan apakah uangku cukup untuk membayar ongkos kita berdua.

Sesudahnya, yang kutunggu, lagi-lagi, cuma malam Minggu. Menuju wartel dan berbicara sepuasnya denganmu. Kadang-kadang topik yang sama diulang tanpa bosan.

Di wartel itu juga aku jatuh cinta padamu. Aku ingat kita berpapasan ketika kau baru keluar dari bilik wartel dengan tergopoh-gopoh.

Kita tidak saling bertubrukan seperti adegan dalam film India karena saat itu aku sedang duduk antre di kursi plastik.

Saat mata kita berpapasan, jantungku berdebar hebat. Sekujur tubuh seakan lemas, hanya bagian tertentu yang tegang.

Aku tak jadi masuk bilik walaupun sudah disuruh operator. Dari kursi plastik, mataku terus menatapmu hingga aku sadar, si operator telah tertawa melihat tingkahku.

Ah, persetan si operator. Aku cuma mau melihatmu dalam geming. Dan kau pun tersenyum, sedikit tersipu, setelah melihatku. Saat itu, aku ingin bilang, aku suka padamu tapi kayaknya lidahku seperti terkena es.

Ketika kau berlalu, aku menginterogasi si operator tentangmu. Namamu, rumahmu, sekolahmu, dan beberapa hal yang kuanggap penting. Si operator, agar tak mengecewakan pelanggan, memberikan semua informasi itu. Ini modal awal yang sangat bagus untuk mengenalmu.

Tak lupa, aku menitip salam kepadamu melalui operator itu.

Tahun-tahun itu, perkara salam ini menjadi aturan tak tertulis dalam dunia percintaan anak muda. Jika kau suka padanya, kirimkanlah salam kepadanya melalui orang lain, terutama teman dekatnya.

Jika salam itu dibalas dengan waalaikumsalam, artinya kau ditolak secara halus. Atau masih dalam pertimbanganlah, kau diterima atau tidak.

Salam yang kukirim itu kau balas, juga melalui operator warnet tersebut, yang tanpa sengaja telah menjadi mak comblang.

Aku senang, tentu saja, karena ini sebuah sinyal yang positif. Setidaknya, aku punya harapan besar untuk jadi pacarmu.

Namun, mendekatimu sungguh menjadi perkara pelik di beberapa hari sesudah itu. Selain soal ayahmu, aku juga tak punya alasan untuk bertamu ke rumahmu.

Kita masih anak sekolah, tapi tidak satu sekolah. Kamu SMP kelas 3, aku kelas 1 SMA. Tak mungkin aku ke rumahmu untuk alasan meminjam buku catatan atau mengerjakan PR bersama.

Entahlah, saat itu aku tak punya ide yang bagus. Maklum, Donal Bebek tak mengajarkan hal-hal seperti itu.

Hingga suatu hari pada Sabtu sore yang cerah, aku melihatmu dekat lapangan sebuah kantor bersama beberapa orang. Aku pikir kau sedang bergotongroyong bersama mereka.

Lalu musik hip hop menggema dari sebuah tape recorder. Dan kau beserta orang-orang itu meliuk-liukkan badan mengikuti irama tersebut. Aihh, anak dance rupanya kau, dek.

Setelah itu apa yang terjadi? Aku cuma tanya satu hal padamu, kapan ke wartel lagi? Kau bilang nanti malam. Kau ingin menelepon saudaramu di luar kota sana.

Saat kau bertanya kenapa, aku enggan menjawab. Namun, dalam hati memastikan kau benar-benar datang malam nanti.

Malamnya, kau baru tiba di wartel setelah jarum jam bergeser 15 derajat dari angka 9 (ke kanan bukan ke kiri). Sedangkan aku menunggu sejak jam setengah 8.

Di depan wartel yang lampunya agak sedikit remang, ketika kau bilang minta maaf, aku langsung memotong ucapanmu dan bilang, aku ingin jadi pacarmu.

Kau hanya mengangguk tanpa menjawab. Ya, aku tak butuh jawaban. Cukup anggukan dan seulas senyum dari bibirmu yang mungil itu.

Dan, sabtu malam pekan depan, aku akan ke wartel itu lagi. Lalu kita akan saling bercerita tentang apa saja. Mungkin, tentang bunga-bunga dalam pot tanah di depan rumahmu yang lupa kau siram.

Atau tentang wartel itu, yang memberikan begitu banyak kenangan bagiku. Nggak tau kalau buatmu.

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here