Sungai Depan Rumahku yang Tak Layak Masuk Instastory

~ Di tepi sungai itulah aku dilahirkan dan dibesarkan heuheuheu

Ini cerita tentang sebuah sungai yang kebetulan badannya melenggok dekat rumahku. Wujudnya tak menarik. Bukan sungai berbatu yang mengalirkan air nan jernih sehingga cantik jika dipotret. Ini sungai lumpur yang penampakannya agak tak patut untuk masuk instastory (in(t)-stə-ˌgram ˈstȯr-ē). Menyedihkan.

Yang selalu kuingat dari sungai itu adalah warna airnya mirip kulit bunglon: berkamuflase sesuai musim. Kadang airnya secokelat ini teh susu. Kalau pasang datang dari laut barulah badan sungai seperti selembar karpet hijau. Hijau tosca malah. Ah, dulu kan aku tak tahu tosca itu apa, makanya kusebut saja hijau.

Sungai menyedihkan itu airnya memang tidak pernah jernih. Dasarnya berisi tanah liat campur lumpur. Jika dipijak akan lengket di kaki. Bau lumpur sudah terhidu hanya dengan berdiri di pinggirnya.  Bau yang selalu kuingat jika siang-siang pulang sekolah dan membenamkan diri di sana. Acara mandi yang harus kucing-kucingan supaya tidak kena setrap ayahku. Beliau tidak pernah sudi aku mandi di sungai itu. Kotor dan menjijikkan, kata beliau.

Tapi tentu tidak bagiku. Sungai itu layaknya surga karena waktu itu mungkin aku belum menemukan surga-surga dan kesenangan dunia yang lain, hehehe.

Di tepi sungai atau persisnya di spot tempat aku dan kawan-kawanku mandi, ada sebatang bak jampe atau pohon bakau api setinggi delapan meter. Tiga dahannya yang besar menjorok ke sungai yang lebarnya sekitar lima meter. Posisi ketiga dahan berada di ketinggian berbeda. Jika kau ke kolam renang, tentu pernah melihat papan loncat yang berbeda-beda tingginya. Nah, dahan-dahan tersebut seperti itulah ecek-eceknya.

Dahan itu digunakan untuk berpose? Ya nggaklah, Mae. Dari dahan itu kami jumpalitan ke sungai. Koprol depan, koprol belakang, jatuh gaya buah, dan lain-lain (Btw, aku susah mendeskripsikan bagaimana maksud jatuh gaya buah, maaf ya). Intinya saat jatuh ke air harus pakai gaya.

Yang koprol dari dahan tertinggi akan dianggap paling keren. Apalagi yang jatuh dengan gaya koprol belakang, wah, akan diceritakan ke mana-mana, wei.

Namun aku tidak pernah berani mencoba dari dahan tertinggi. Paling sering dari dahan pertama, sesekali dahan kedua. Bukan apa-apa, pernah aku loncat dari dahan ketiga tapi jatuhnya tak sempurna karena lutut terpeleset akibat gemetaran. Jadinya, sebagian punggungku jatuh menghantam air. Dan itu pedih sekali jendral.

Punggung tanpa baju dan body yang totally naked jatuh menghantam air pasang rasa asin dari ketinggian delapan meter? Selain pedih, ini anak pasti akan diejek hingga sebulan.

Namanya juga gengsi. Walaupun badan perih dan muka meringis aku juga harus tertawa dan bersorak-sorai membalas ejekan itu. Lain apa mau bilang, biar nggak kalah malu, ya kan.

Aktivitas mandi itu biasanya cuma berlangsung dua hingga tiga jam. Kalau anak kota maen PS-nya berjam-jam, kami anak kampung cukup tahu diri. Kesenangan itu secukupnya, akhirat sebanyak-banyaknya. Hahaha, serius Pak?

Yaa iyalah, setelah itu sebagian kami ada yang pergi mengaji. Sebagian lagi mengajinya malam. Bukan mengaji layaknya mendengar ceramah Mamah Dedeh tapi belajar alif ba ta, kitab masailal, dsb. Tempat mengajinya di teungku yang berbeda tapi mazhab mereka tetap sama.

Setelah kami tinggalkan, sungai itu akan sepi. Ketika rembang petang, orang-orang yang buang hajat dengan “wc sarung” berdatangan. Jangan tanya di mana mereka jongkok ketika pup-nya, karena merupakan rahasia bersama. Syukur-syukur jika kau menemukan clue-nya dalam tulisan ini.

Kalau malam tiba sungai itu tak menarik sama sekali. Dalam benakku pastilah di sana ratusan burong tujoh dan hantu berbagai jenis berkumpul. Jika waktu itu suster ngesot sudah lahir, pasti dia bakal ke sana juga. Lalu mereka akan meniru loncat indah kami siang tadi. Atau berpesta pora saat purnama tiba diiringi lolongan anjing (baca: anjay) kebelet kawin. Suara-suara pesta hantu itu tak terdengar di telingaku yang awam. Mungkin cuma Pawang Dawod, dukun sakti di kampung kami, yang mampu mendengarnya.

Walau tak menarik, sungai itu tak pernah marah. Ia tak pernah membiarkan banjir dari hulu lewat dan mampir ke halaman rumahku. Pernah turun hujan berhari-hari. Puluhan batang kayu hanyut dari hulu oleh air yang sudah setara dengan badan sungai. Iseng-iseng, aku berharap banjir datang agar bisa mencemplungkan badan di halaman rumah. Namun hingga hujan usai, sungai itu masih baik. Dia memilih menerabas beberapa tanggul tambak di sebelah kanannya.

Walaupun ada “wc sarung”, tentulah tak sejorok Mumbai yang kau tonton di Slumdog Milioner. Sungai di depan rumahku itu saban hari bertugas membawa kotoran-kotoran hingga ke laut lepas. Sehari bersih, besok pagi tentu bakal kotor lagi.

Di kiri kanan sungai ada pohon limpah. Buahnya lonjong seperti lonceng. Kulit buahnya tebal berwarna merah tua kecokelatan. Bila dibelah, di dalamnya ada daging putih. Rasanya seperti kelapa muda. Manis dan segar. Mirip kolang-kaling tapi lebih mantap.

Kalau lelah bermain dengan sungai, inilah pelepas dahaganya. Sebulan sekali, mak-mak di kampung mengumpulkan buahnya. Setelah dicungkil dan dikumpulkan ada yang dijual per kantong kecil.

Pohon limpah salah satu tempat favorit tiram berkembang biak. Sementara akarnya menjadi rumah abadi para kepiting. Kepiting dan tiram yang saat itu belum dipercaya sebagai penyebab kolesterol, menjadi salah satu makanan mewah orang kampung. Faktor penyebabnya, mungkin selain soal rasa tentu cara mendapatkannya yang butuh perjuangan ekstra.

Tiram juga bersemayam pada kayu-kayu yang terperangkap lumpur di dasar sungai. Aku pernah menyelam mengambilnya. Caranya gampang tapi butuh konsentrasi supaya tak celaka. Cukup tahan nafas lalu dorong badan secepatnya ke dasar sungai. Karena dasar sungai penuh lumpur, ambang penglihatan terbatas. Di sini perlu ketekunan meraba-raba dan memilih potongan kayu yang banyak dihinggapi tiram. Tidak boleh gegabah supaya tangan tak tersayat tajamnya kulit tiram. Atau, supaya hidung tak kemasukan air. Pepatah sambil menyelam minum air tak dibutuhkan di sini.

Sementara kalau mengambil kepiting bakau aku tak berani. Terutama yang berukuran abnormal sebesar buah kelapa. Capitnya tiga kali lebih besar dari tangan. Jika ketemu yang model begitu, bilang sudah “meujen” atau dihinggapi setan. Agak malas memakannya karena takut kesetanan.

Selain kepiting dan tiram, ada satu satwa yang sangat terkenal di sungai. Bahkan lebih terkenal dari artis dangdut saat itu. Dialah biawak. Orang Aceh bilangnya meuruwa. Seperti komodo tapi bukan, se-moyang dengan komodo bisa jadi.

Biawak-biawak di sungai itu ukurannya beragam. Sekecil tali pinggang ada, sebesar batang pinang juga ada. Yang terakhir biasanya dipilih para pawang meuruwa karena kulitnya diambil untuk dijual. Tapi di spot pemandian kami, jarang terjadi penjagalan meruwa. Biasanya pawang memilih lokasi yang sepi supaya tak dipantau anak-anak. Makanya, sampai sekarang aku belum pernah melihat cara mereka menangkap biawak.

Biawak dikenal sebagai binatang pemalu yang tak pernah ikut pemilu. Dia tak akan mau mendekati kerumunan anak yang mandi, walaupun disogok. Jika dikejar akan lari kemudian menyeberang sungai dengan tergesa-gesa.

Seingatku hanya sekali ada kejadian biawak mendekati kerumunan. Saat itu kami sedang bergerombol dekat pohon. Ada seorang teman yang posisi berenangnya agak jauh tiba-tiba berteriak “Buya!”. Sontak kami kaget dan berebutan naik bergelantungan ke dahan pohon jampe sembari membayangkan teman tersebut dikunyah buaya.

Tak sampai setengah menit, kepanikan itu buyar ketika ada yang berteriak mengklarifikasi bahwa bukan buaya cuma biawak. Dia menunjuk seekor biawak besar berenang panik ke sisi sungai yang jauh. Biawak itu mungkin sama kagetnya seperti kami.

Sementara anak yang berteriak tadi juga sudah “menyelamatkan” diri ke seberang sungai. Mukanya terlihat bersalah. Kami menambah rasa bersalahnya itu dengan cara: cabut secepatnya dari lokasi dan meninggalkan dia sendirian di seberang sana. Acara mandi sudah tak menarik.

Buaya termasuk ke dalam jenis hewan yang dipakai untuk menakut-nakuti anak yang mandi di sungai. Tentu saja kami tahu itu hoax bersama yang dibangun secara teroganisir oleh generasi sebelumnya. Sejak dulu tak pernah ada buaya di sungai. Kami paham betul. Tapi ketika ada yang berteriak buaya, nyali ciut juga sesaat.

Back to biawak. Walaupun introvert, biawak sesekali berguna. Terutama dalam urusan me-mamam bangkai. Perlu saudara-saudara ketahui, sering hanyut bangkai ternak maupun hewan piaraan seperti anjing (baca: anjrit). Bangkai ini terbawa arus pasang dan surut. Kadang-kadang, bangkai tersangkut di tepi sungai atau akar pohon yang dekat dengan spot loncat indah kami.

Saat itulah biawak-biawak tersebut menunjukkan jati diri sebagai pemakan bangkai sesungguhnya. Mereka akan mengerumuni bangkai hingga ludes.

Tentu kami sangat tahu diri. Jika ada bangkai tersangkut, acara berenang dibatalkan. Kami bertoleransi, membiarkan biawak berpesta pora hingga selesai. Lagi pula, mencium bau bangkai di sungai bisa memancing isi perutmu keluar.

Waktu berenang paling enak ketika pasang mulai meninggi dan mencapai puncak. Saat inilah arus sungai stabil bahkan cenderung diam. Badan sungai nyaris bebas sampah. Airnya tampak biru. Tapi masa puncak ini tak lama, kurang dari sejam. Setelah itu air akan surut.

Sesekali kami membuat rakit dari batang pisang. Rakit ini tak bakal bertahan lama karena cuma dibuat sekadarnya. Hanya satu jam, dia sudah koyak-koyak dan layak dibuang. Yang penting bukan rakitnya tapi berebutan naik ke rakit, itu tujuan utama.

Kini, sungai itu sepi sudah. Anak-anak kampung tak mau mandi lagi di sana, kecuali dibayar. Bergelantungan di dahan lalu menjatuhkan diri ke air dianggapnya bukan sebuah keasyikan. Mereka lebih memilih menekuni PS sebagai sarana bermain. Bukan salah mereka. Ini hanya soal pergeseran budaya yang tidak bisa ditangkal oleh siapa pun.

Selain itu, tak ada lagi orang buang hajat di sana karena di setiap rumah sudah terpasang toilet. Sekilas bagus karena persentase najis di sungai berkurang.

Namun, satu hal yang pasti, se-menyedihkan bagaimana pun, sungai itu pernah jadi saksi pertumbuhan kami tanpa susu SGM. Sungai tersebut juga guru bagi kami. Di situ kami tenggelam, belajar berenang, dan menumpahkan kekesalan. Lalu setelah itu bersenang-senang dalam taraf yang cukup sebagai generasi Orba segmen 90-an.

Komentar

Komentar