Standar Ganda Seledri

ALKISAH, ia kerap hadir di dalam genangan kuah mi rebus, mi bokom, mi bakso, dsb (dan sebangsanya). Kadangkala hanya dijadikan pelengkap, bersanding taburan bawang goreng. Bedanya, bawang goreng mesti disayang-sayang lebih dulu dengan dikupas kulitnya, dicuci, lalu digoreng. Ia tidak demikian, cukup ditebas atau dicabut dari pokoknya yang imut mungil lalu dijejerkan di atas talenan bersama kawan-kawannya kemudian diiris dalam potongan-potongan pendek. Tentu harus dicuci sebelum dipotong.

Sejak itu pula, hidupnya berakhir sembari mengirimkan rasa gurih ke lidah penyantapnya. Semangkuk sup ayam menjadi lebih beraroma, salah satu karena perannya. Dialah seledri. Tak ada dicari. Jika tidak ketemu juga tak mengapa.

Seledri memiliki daun, batang, akar, bahkan buah. Daunnya hijau tua dan hijau muda bukan karena ia mewakili partai, ormas, atau klub bola tertentu tapi karena begitu Tuhan menciptakannya.

Seledri gampang ditanam. Sepertinya, cuma berbekal satu pot kecil dan tanah gembur, ia bisa tumbuh dengan senang hati. Seledri ditanam sejak biji. Yaiyalah, masa dicangkok. Ketika sudah tumbuh, jangan lupa disiram air. Seledri ini ibarat bayi yang baru kenal kamar mandi, senang dimandikan. Kalau lupa disiram, seledri gampang terkena penyakit kuning. Itu loh, ketika daunnya menguning.

Bukan, daun menguning itu lebih karena diserang kutu daun. Caranya cukup kasih insektisida. Lambat laun daunnya akan hijau kembali jika kutu-kutu telah mati.

Seledri kadang murah, di lain waktu mahal. Di Kalimantan Timur pada 2013 harganya pernah mencapai Rp100 ribu per ikat. Ini terjadi saat seledri langka. Biasanya di bawah Rp10 ribu per ikat. Tak jarang Rp2.000 ribu tiga ikat.

Seledri memang susah dimainkan harganya oleh kartel pasar. Ia cuma tahan beberapa hari jika disimpan dalam kulkas. Jika pun dimainkan, seledri jarang masuk berita. Berbeda dengan tomat atau cabai yang gemar masuk berita walaupun harganya tiba-tiba mahal seribu rupiah. Jika suatu hari ada mak-mak pulang dari pasar dengan muka masam, percayalah itu bukan karena harga seledri naik.

Seledri. (Foto Breedie/Fauzan)
Seledri. Breedie/Fauzan

Seledri aslinya bukan dari Indonesia. Itu kata Wikipedia. Seledri atau nama latinnya Apium graveolens ini disebut tanaman rawa yang telah dibudidayakan sebagai sayuran sejak zaman dulu. Ia dibawa Belanda yang telah dengan senang hati menjajah kita begitu lamanya.

Dalam bahasa Inggris tumbuhan ini bernama celery. Belanda menyebutnya selderij atau selder. Tiba di Indonesia, dalam bahasa Jawa ia berubah menjadi seledri sedangkan di Sunda dipanggil saladri. Giliran orang Aceh, namanya menjadi On Sop, seperti terjemahan dari daun sop dalam bahasa Indonesia secara umum. Ngomong-ngomong, siapa orang Belanda yang iseng menambahkan huruf d ke dalam kata celery?

Seledri merupakan jenis terna, tumbuhan berbatang lunak. Tinggi seledri minimalis, semeter kotor alias kurang dari semeter. Tapi pendek-pendek begitu, batangnya padat atau semok.

Selain digunakan sebagai sayuran, seledri juga ampuh mengusir ragam penyakit yang diderita manusia sejak dulu hingga kini. Kita harus percaya karenanya, seledri bukan tumbuhan sembarangan. Standarnya ganda.

Tak percaya? Google-kan saja. Ada banyak situs yang menulis kegunaan seledri. Mulai dari batang, daun hingga akar semua berguna. Ada yang menulis 10, 20, bahkan 30 khasiatnya untuk kesehatan.

Dari puluhan faedah itu kita ambil satu saja: mengembalikan nafsu makan yang hilang. Maka tak heran bila para penjual mi Aceh selalu menaruh batang seledri di raknya. Dengan begitu, orang-orang akan ketagihan terus menyantap mi tersebut. Yang ini belum ada penelitiannya dan tak perlu dipercaya, ya.

Tulisan ini bukan ingin memuji standar ganda seledri. Lebih kepada mengajak kebaikan saja. Kalau breeders ketemu seledri tercecer di jalan, kembalikanlah ke yang punya. Atau, jika sekali waktu makan mi tanpa seledri, ingatlah bahwa ia telah berjasa begitu banyak dalam hidupmu.

FYI
– Cara makan seledri: Dikunyah, jangan ditelan mentah-mentah.
– Jika menanam seledri, lindungi dari panas berlebih. Bila perlu kasih payung.
– Oya, daun bawang dalam bahasa Belanda disebut de prei.

Komentar

Komentar