Izinkan Aku Menyesapmu dalam Secangkir Kopi

~ Dari kopi kau menjelma, mengirim cinta penuh gebu

Izinkan aku menyesapmu dalam secangkir kopi. Menghirup aroma tubuhmu melalui kepul uap kopi yang merasuk indera. Bagiku, kopi bukanlah sekadar minuman yang diracik dengan air panas biasa atau dengan campuran krim kental manis.

Bagiku, kopi adalah kamu. Jelmaan perasaan yang membuncah. Maka, menyesap kopi bagiku sejatinya ialah menikmati percintaan yang hangat denganmu. Cinta yang penuh dengan gebu. Dan rindu yang ruah dengan gelora.

Jangan tanya mengapa aku mereinkarnasi dirimu dalam wujud kopi. Jangan tanya pula apa alasanku mencintaimu. Buatku, mencintaimu merupakan wujud kemerdekaan atas diriku sendiri. Mencintaimu merupakan pilihan di atas pilihan. Diputuskan dengan kesadaran tingkat tinggi. Kemudian menikmati mabuk dalam tingkat yang tinggi pula.

***

Dari jarak beberapa meter aku mengamati perempuan itu. Sejak tadi ia sendiri saja di sana. Menikmati secangkir kopi hitam yang disajikan dalam cawan transparan. Setengah jam berlalu, aku bisa melihat, tinggal seperempat saja sisa kopinya di dalam cangkir.

Aku, dengan segala kesoktahuanku mulai mereka-reka adegan itu. Mencoba-coba menyusun kalimat. Kira-kira seperti yang di atas itulah. Setiap bibirnya rapat dengan bibir cawan, kulihat ia memejamkan mata, mungkin sedang membayangkan bahwa bibirnya sedang menempel dengan bibir kekasihnya. Dan matanya yang terpejam itu, mungkin ekspresi malu-malu yang mendebarkan hati?

Setiap kali tangannya menggenggam cuping cawan itu, mungkin saja dia sedang membayangkan tangan kekasihnya yang pernah menggenggam tangannya erat-erat. Mentransfer kehangatan atau kekuatan ke dalam dirinya. Membiarkan jari-jemari saling bertaut erat. Refleksi betapa eratnya ikatan batin di antara mereka.

Hm, aku merasa diri ini semakin sok tahu. Mungkinkah perempuan itu sedang menanti kekasihnya? Sebab, mungkin itu satu-satunya cara mereka menuntaskan rindu. Di warung kopi. Di tengah keramaian. Lalu berbisik-bisik saat mengatakan: aku mencintai kamu.

Aku tersenyum sendiri. Geli. Membayangkan itulah yang dilakukan kekasihku setiap kali pertemuan kami sudah sampai ke ujung. Dia nyaris tak mengeluarkan suara. Hanya berdesis. Tapi dari gerak bibirnya aku memahami kalimat yang ia ucapkan. Aku pernah bilang padanya, jika kita saling mencintai maka kita tak perlu berkata-kata dengan suara yang keras. Apalagi marah-marah. Suatu ketika, ia membisikkan i love you di telingaku, lalu aku membalasnya dengan i love you too. Aku melihat kembang sakura bermekaran di wajahnya.

***

Perempuan itu kembali meneguk kopinya. Kali ini habis dalam sekali sesap. Hm, dia pecinta kopi kronis sepertinya. Aku masih memandangnya dari jarak beberapa meter. Tiba-tiba aku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Sampai dia melihat ke arahku dan menyadari bila aku sedang memandangnya.

Ia, dari jarak beberapa meter memberiku sepotong senyum. Manis. Sangat manis. Membuat hatiku berdetak menerima senyuman itu. Matanya menatapku lembut. Bibirnya bergerak mengucapkan sesuatu.

Dari jarak beberapa meter, aku bisa memaknai gerak bibirnya. Dia bilang: I love you. Kemudian aku membalasnya dengan gerak bibir yang serupa: i love you too.

[Ihan Sunrise]

Komentar

Komentar