I’m Still Here — Chapter 11

Kandidat berbagi kos berikutnya juga mudah saja. Selesai kuliah, hari itu, Nada mampir ke Unit Kesenian Aceh. Dini ditemukannya sedang membuat rujak pepaya mengkal bumbu pliek u¹. Beberapa kawan lain riuh rendah merubung, tak sabar menunggu bumbu rujak itu siap. Nada bergabung, mengambil seiris pepaya dan mencolekkan ke bumbu. Lalu menggamit Dini: “Din, keunoe lé, sini dulu sebentar,” katanya.

Dini mendorong kacamatanya ke pucuk hidung dengan punggung tangan, karena jarinya penuh bumbu pliek u.

Peu lé? ada apa?”

Nada menarik Dini menjauh. Mereka bicara sambil duduk mencangkung di tepi serambi, di luar ruang Unit. Sekitar sepuluh menit, urusan itu pun kelar sudah. Dini mau. Dia malah sangat senang memikirkan bisa tinggal di paviliun itu.

“Bayar sewa pun sebenarnya aku mau,” katanya riang. “Paviliun itu nyaman sekali. Dapurnya bagus. Dan karena aku cuma harus bantu bayar listrik dan air, jadi tambah nyamaaaan rasanya!” dia tertawa girang.

Nada ikut tertawa, meski ada sedenting gugup dalam tawanya.

“Tapi, Din….”

Peu lom? apa lagi?”

“Paviliun itu berhantu lho.” Nada menahan nafas, menunggu reaksi Dini. Dini mengerutkan kening, lalu mengangkat bahu.

“Waktu aku nginap di sana, aku nggak lihat apa-apa tuh,” katanya. “Biar sajalah hantunya di situ. Mereka kan punya alam lain. Kita punya alam kita sendiri juga.”

Bukan main leganya Nada! Begitu lega sampai ingin rasanya melonjak-lonjak dan menari. Tapi kemudian masih ada masalah lain.

Nada tak punya ide, siapa lagi yang akan diajaknya berbagi paviliun itu. Karena itu diputuskannya untuk membuat pengumuman saja, yang akan dipasangnya di beberapa papan buletin seputar kampus. Dibuatnya menggunakan kertas roti, bahan yang paling banyak tersedia di studio. Sambil menulis pengumuman, Nada berpikir-pikir apakah ia akan berterus terang mengenai paviliunnya yang berhantu. Kalau ia berterus terang, jangan-jangan takkan ada lagi yang mau tinggal bersama.

Tapi sejak awal Tante Hanum sudah mengatakan bahwa tempat itu berhantu. Jadi memang sebaiknya ia juga berterus terang pada calon kawan sepaviliunnya yang seorang lagi nanti. Itu adalah hal pertama yang akan dikatakannya langsung pada orang yang berminat.

Nada melepaskan ketiga lembar kertas roti itu dari meja studio, digulungnya. Dalam saku jinsnya dibawanya segulung plester kertas. Plester begitu biasa digunakan untuk melekatkan kertas pada meja gambar, karena dapat dilepaskan dengan mudah, tanpa merobek kertasnya. Direkatkannya satu poster itu di papan pengumuman himpunan jurusan, satu di papan buletin Unit Kesenian Aceh dan selembar lagi di papan Liga Film Mahasiswa.

Nada tengah melengketkan plester terakhir pada poster di LFM ketika Yasmin, anak tingkat dua yang pernah menjadi binaan Nada dalam program hunting foto, muncul sambil bersenandung. Gadis itu tomboy, hobinya mengenakan jaket himpunan atau sweater yang dilengkapi hoodie, sandal gunung dan celana kargo. Dia selalu mengenakan pashmina alih-alih jilbab biasa. Kenyataan bahwa ia menuntut ilmu di jurusan Teknik Pertambangan, dan aktif di klub pencinta alam tertua di Indonesia, makin menegaskan karakternya yang lugas dan seadanya.

“Eh… lhoo….,” katanya, membaca pengumuman Nada. “Kakak cari kawan untuk berbagi kosan, Kak?”

“Iya. Ada dua kamar segede-gede gambreng di tempat tinggalku, makin lama rasanya makin berlebihan buat kutempati sendirian saja,” Nada mengiyakan. “Sudah ada dua kawan yang mau. Tapi karena kamarnya gede-gede banget, satu kamar cukup untuk berdua, kami masih cari satu orang lagi.”

Yasmin memandangi pengumuman Nada, menggigit-gigit bibir.

“Memangnya rumah Kakak di mana sih?” tanyanya. Nada menyebutkan alamat paviliunnya. Yasmin tampak semakin tertarik.

“Berapa besar share-nya sebulan, Kak?”

Nada tersenyum lebar.

“Cuma biaya listrik sama air aja, Yas. Dan itu juga dibagi empat.”

Yasmin berpaling. Begitu cepat hingga salah satu ujung pashminanya terlepas, berkibar mengikuti gerak putar kepalanya.

“Ah! Yang bener!”

“Iya. Bener,” Nada menahan nafas. Dia suka pada Yasmin. Sifat gadis itu terbuka dan adil. Selama mengenal Yasmin, Nada belum pernah mendengar anak itu menjelek-jelekkan orang lain. “Kamu berminat, Yas?”

Baca Juga: I’m Still Here — Chapter 10

Yasmin ketawa.

“Apa aku berminat? Kira-kira bagaimana coba?” tawanya. “Count me in, Kak!”

“Tapi begini Yas….”

“Tapi apa?” suara Yasmin langsung kehilangan keceriaan. Berganti cemas.

“Paviliun ini berhantu, Yas,” ujar Nada pelan-pelan. Yasmin menatapnya dengan alis terangkat.

“Hantu? Serius?”

Nada mengangguk.

“Kakak diganggu?”

Nada memikirkan pertanyaan itu. Apakah ia diganggu?

“Hmmmm….” Nada tidak sempat menjawab. Yasmin keburu mengebaskan tangan dan meringis.

“Aah, Kak,” katanya. “Alah lah ntun². Kami di gunung sering menemukan hal-hal yang tak bisa dijelaskan dengan rasio. Nggak apa-apa tuh, itu biasa. Kita ini kan co-exist dengan ‘mereka’. Paling-paling nanti mereka yang malas ketemu aku,” si tomboy itu lantas ngakak. “Aku ini punya bakat nggak disukai hantu lho Kak.”

Nada ketawa juga, dengan ketawa lepas yang berasal dari kelegaan luar biasa. Yasmin mengulurkan tinju kanannya. Nada perlahan menumbuk buku jari Yasmin dengan kepalan tangannya. Dengan demikian, persekutuan mereka telah diresmikan.

Kertas pengumuman yang baru ditempel, langsung dirobek lagi. Nada berlari-lari ke ruang Unit Kesenian Aceh dan ke papan buletin jurusan, untuk merobek pengumuman yang kepalang ditempelnya di sana.

Hari itu Nada menemui Tante Hanum, mengatakan bahwa akan ada tiga orang kawannya yang ikut tinggal di paviliun.

“Jadi mungkin akan sedikit berisik, Tante,” kata Nada. “Masing-masing kawan saya ada sepeda motor juga. Kalau pagi kemungkinan nanti suasananya seperti di sirkuit balap.”

Tante Hanum tertawa. Dikatupkannya tangannya di depan dada. Wajahnya berseri.

“Itu nggak apa-apa. Lagipula, kalian kan ada garasi sendiri,” katanya, merujuk pada jalan semen selebar tiga meter di samping kiri paviliun, yang ditutup atap dan gerbang besi tinggi. Jalan itu tembus ke pekarangan belakang rumah induk. “Itu malah bagus sekali. Paviliun kan jadi ramai,” dikedipkannya mata pada Nada. “Enak tinggal di situ, kan?”

Nada tersenyum.

“Ya Tante, terima kasih,” ia pamitan. “Nanti kalau kawan-kawan sudah datang, kami ke sini lagi. Kenalan.”

Tante Hanum mengedip lagi. “Oke,” katanya. “Salam dari Tante untuk kawan-kawan, ya.”

Hari itu juga, Yasmin meminjam pick up salah satu kawan di klub pendakinya untuk mengangkut barang-barangnya. Si pemilik truk menyupiri, seorang lain membantu Yasmin mengangkat kasur, lemari buku, meja dan komputer desk top. Monitornya sebesar jendela. Benda itu diperlukannya untuk pencitraan lapisan-lapisan tanah. Selesai mengangkut barang Yasmin, kawan-kawannya masih bersedia menolong Eri dan Dini untuk mengangkat barang-barang mereka juga. Dini membawa mesin cuci, dispenser air minum dan rice cooker. Emak-emak sejati, komentar Yasmin. Sesudahnya, gadis-gadis itu patungan “mengganti uang bensin” dan menraktir pemuda-pemuda itu makan siang.

“Baik banget mereka,” kata Dini setelah kedua pemuda itu meninggalkan paviliun. “Nah! Sekarang…. Masak yuk! Kita buat makan malam yang sedap, merayakan hari pertama kita tinggal bersama!”

Usulnya disambut meriah. Dini bilang ia akan masak mie goreng Aceh. Mendengar itu Eri dan Yasmin jadi girang sekali. Meninggalkan barang-barang masih tertumpuk di kamar dan ruang tengah, keempat gadis itu menyerbu dapur dan mulai memasak.

Nada sangat bahagia. Mendadak saja, paviliun yang sebelumnya terasa mengancam itu, berubah jadi menyenangkan.

“Mana-mana-mana-mi-nya Kak, sini-sini-sini-aku-bantu!” seru Yasmin, setengah bernyanyi dangdut. “Bikin yang pedas-pedas-pedaaas sedaaap….. Nanti aku minta dua-dua-dua-dua piring, yaaa Kaaak!” gadis itu berjoget sendiri. Kawan-kawannya ketawa melihatnya.

“Sabaaaar!” Dini mengeluarkan belanjaannya, yang tadi disimpan di kulkas. “Nih, Yas, cuci dan bersihkan udangnya. Eri, tolong kupas wortel, Nada patah-patahkan cabe. Aku kupas bawang.” Seperti seorang ibu, Dini membagi tugas di antara mereka berempat.

Nada yang kebagian mematah-matahkan cabe, mengambil blender di lemari dan memulai tugasnya. Mematah-matahkan cabe lalu memasukkannya ke blender. Ia begitu sibuk bekerja, diselingi mengobrol dan ketawa, sehingga tak begitu memperhatikan Eri. Sambil mengupas wortel, gadis itu dua-tiga kali menoleh ke arah ruang depan. Seperti mencari sesuatu.


¹ Kelapa tua yang sudah meragi dan dijemur, bumbu masakan Aceh

² Sudahlah (bahasa Minang)

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here