Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Pertama

Hy, Bree, menemani akhir pekanmu yang ceria, kami mempersembahkan sebuah Cerita Bersambung yang ditulis oleh Kak Dian Guci. Cerbung ini berkisah tentang gadis bernama Dinda yang bernama lengkap Adinda Kamila Zakaria, 16 tahun, yang terpaksa pindah ke Aceh mengikuti ayahnya.

Sang ayah, Zakaria Pawoh, biasa dipanggil dengan nick-namenya, Zach alias Jack, adalah seorang jurnalis, budayawan, penulis, yang patah hati setelah istrinya, Bidayasari, seorang penulis novel dan ilustrator buku anak-anak, meninggal karena serangan jantung.

Zakaria memutuskan untuk memindahkan keluarganya ke Aceh untuk berusaha mengobati hatinya. Dalam prosesnya mengobati diri sendiri, ia tak tahu bagaimana mengobati luka hati anak gadisnya, yang sangat kehilangan ibunya. Rasa kehilangan itu diperparah kenyataan bahwa dengan pindah ke Aceh Dinda juga kehilangan teman-temannya di kelompok graffiti, yang selama itu membantunya mengatasi rasa sakitnya kehilangan seorang ibu.

Kira-kira begitu blurb atau ringkasan ceritanya ya Bree. Cerbung ini akan tayang setiap Ahad. Siapkan cemilan dan selamat membaca yess!


Gadis Graffiti

Novela: Dian Guci (Bagian Pertama)

Dinda membuka mata. Jendela di kanan ranjangnya bermandikan cahaya. Kardus berbagai ukuran tertumpuk di ujung ruangan. Sinar matahari menampakkan dinding kuning lembut yang masih menampakkan pola pasangan batu bata. Barulah Dinda sadar, ia ada di mana. Ia di kamarnya, di rumah yang baru dibangun Ayah di kota kelahirannya di pantai Barat-Selatan Aceh.

Hati-hati Dinda duduk. Menurunkan kaki. Kakinya yang telanjang mendarat di atas lantai kayu halus. Satu-satunya benda yang dikenali Dinda di kamar itu adalah foto Bunda di atas nakas dekat ranjang.

Di luar terdengar ayam mengoceh. Air mengalir deras dari keran di dapur, menimpa sebuah panci. Nampaknya Ayah sudah mulai memasak kopi dan sarapan.

Ayah pandai masak. Dinda tergila-gila masakan andalan Ayah, gulai tuna asam pedas yang dibumbui bunga kincung, atau bungong kala. Sedap gurih bukan main. Walaupun Bunda juga pandai memasak gulai ini, tapi tidak bisa dibandingkan dengan gulai buatan Ayah. Bikinan Ayah bumbunya selalu meresap ke daging ikan dengan sempurna, rasa asamnya, gurihnya, wanginya betul-betul pas, mengundang selera.

Baru belakangan ini Ayah berminat memasak lagi. Sebelum ini, berbulan-bulan lamanya Ayah tak mau masuk dapur. Bahkan ke kantornya pun jarang. Ia hanya mau duduk di ruang kerjanya di rumah, berselimut syal besar Bunda. Syal itu oleh-oleh perjalanan Ayah dari Kashmir. Bunda sangat menyukainya, biasanya dikalungkannya di leher bila tengah bekerja.

Sebelum meninggal, Bunda meminta Ayah menyelimutkan syal itu ke atas badannya.

“Aku kedinginan,” kata Bunda. Senyumnya masih mengembang, walaupun sayup dan tipis. “Mana syal Kashmirku?” Ayah membantunya mengenakan syal itu. Menyelubungkannya menutup bahu dan dada Bunda.

Beberapa menit kemudian Bunda kehilangan kesadarannya. Ayah tak mau meninggalkan sisi perempuan yang telah mendampinginya selama dua puluh tahun terakhir itu. Bibirnya lekat di telinga Bunda.

Bunda berangkat pulang diantarkan suara lembut Ayah membacakan talkin dan ayat-ayat Quraan.

Lama sekali Dinda merasa tubuhnya mengambang. Ia hanya bisa melihat dunia berjalan di sekitarnya, tapi tak merasa ada hubungannya sama sekali dengan dirinya. Ia pergi ke sekolah, membantu Bang Tareq memasak dan mengurus rumah, menjaga Dedek tidak terlalu jauh bersepeda…. satu bagian dari dirinya tahu, bahwa Bunda sudah tiada. Satu bagian lagi berharap akan melihat Bunda, duduk di bangkunya yang biasa di dapur, mengetik novelnya atau mengerjakan ilustrasi buku, seperti biasa. Kesadaran bahwa ia takkan berjumpa lagi dengan perempuan yang melahirkan dan menyintainya selama lima belas tahun itu, datang pelan-pelan dan menyakitkan. Menggigit. Menggerogotinya. Meninggalkan lubang besar dalam dadanya.

Dinda mencoba menutup lubang besar itu dengan meninggalkan rumah sering-sering. Pulang setelah lewat tengah malam. Bersenjata cat semprot, kuas dan terpentin, ia berkelana di jalan-jalan kota. Mencari dinding yang dapat digambari.

Baca Juga: Cerpen: Minimi

Dinda merasa, dirinya dan dinding-dinding itu bicara dalam bahasa yang sama. Dinding-dinding itu kosong, menjerit minta diisi. Sama seperti jiwanya, yang kehilangan segala pilarnya ketika Bunda pergi. Dan Dinda memenuhi permintaan dinding-dinding itu. Diisinya bidang-bidang kosong itu dengan tulisan, lukisan, gambar-gambar. Saat menggambar, sesuatu dalam diri Dinda berubah. Ia merasa Bunda masih ada bersamanya. Masih mengajarinya menggambar, cara mendesain karakter, melukis. Masih mendorongnya untuk menyelesaikan novel grafis yang dibuatnya sejak kelas satu SMP.

Mengisi dinding-dinding kosong batas jalan tol dalam kota, benteng-benteng rumah orang kaya dan pilar jembatan, memberi Dinda semacam tujuan hidup. Dinding busuk yang buruk rupa itu, berubah ketika Dinda selesai menyentuhnya. Bidang kosong yang semula adalah lambang keangkuhan, kekejaman kota yang tak mempedulikan rakyat kecil, berubah menjadi warna-warna penuh harapan. Dinda menyurahkan dirinya ke dalam grafiti dan mural yang dibuatnya. Membuat apa yang sekedar banal, menjadi berarti. Anak-anak jalanan bermain di bawah pilar-pilar jalan yang dilukisi Dinda. Para pedagang sayur keliling berhenti, duduk-duduk mengobrol di depannya. Sore hari, warga kampung sekitar berjalan-jalan, kadang-kadang selfie atau welfie di depan graffiti Dinda.

Mereka menikmati hasil karya Dinda, mendapat hiburan dari warna-warni yang diciptakan Dinda di situ. Lukisan Dinda memberi sedikit latar cerah bagi dunia mereka yang muram. Karena Dinda, ada sedikit ceria dalam hari-hari mereka yang berat. Dan itu membuat Dinda merasa hidupnya sendiri kembali punya arti.

Saat menjalankan “Operation Jakarta Underground”, begitu mereka menyebut ekspedisi membuat graffti ini, Dinda selalu pergi bersama-sama dengan seniornya di sekolah. Abiyoga, Hasan, Akbar dan Haidar. Berlima mereka mengendarai jip kecil Abie, menyusuri kota mencari kanvas jalanan. Dinding kosong yang akan diubah menjadi sebuah pesan.

“Setiap grafiti dan mural itu ada artinya, ada pesannya,” kata Abie. “Bukan sekedar corat-coret egois.” Abie melanjutkan dengan ceramah panjang lebar tentang Banksy. Seniman jalanan Inggris yang karyanya berteriak lantang dengan protes sosial, politik dan lingkungan hidup. Dia juga menyebut Jean Michel Basquiat, yang gaya melukisnya sangat dikaguminya.

“Misi kita memanusiakan Jakarta,” kata Abie lagi. “Kita bikin manusia-manusia Jakarta yang sudah boyak dikunyah kerakusan metropolis, kembali jadi manusia yang fitrahnya menyukai keindahan!”

Ada sebuah kupluk yang disimpan Dinda seperti menyimpan emas. Kupluk beanie itu kesayangan Bunda. Dikenakannya setiap hari, masa kuliah di Bandung dulu.  Dalam tahun pertama setelah Bunda tiada, hampir setiap malam Dinda mengenakan jins dan oblong butut, memasang kupluk beanie Bunda di kepala dan syal di leher. Menunggu jip Abie berhenti di muka rumah. Lalu dengan ransel penuh berisi cat semprot, diam-diam lari keluar. Tak pamitan pada seorang pun di rumah. Pulang menjelang subuh, mengendap-endap memanjat tembok belakang, masuk kamarnya di lantai dua melalui jendela yang sengaja tak dikunci.

Kelompoknya tengah menggarap sebuah masterpiece. Graffiti dan mural sepanjang dua belas meter di tembok jalan ring road, menghadap sebuah mal yang sangat populer. Untuk pertama kalinya, Dinda dipercaya kawan-kawannya untuk membuat desain karya besar mereka itu. Dinda memasukkan kenangan tentang Bunda dalam graffiti itu: cangkir kopi, laptop, globe, kura-kura tanah liat, kucing, perahu pinisi, semua kesukaan Bunda. Tulisan graffiti itu pun kata kesukaan Bunda: imagine. Kata ajaib, yang menurut Bunda dapat mengubah dunia.

Mereka berlima mengerjakannya bermalam-malam. Setiap selesai satu bagian, Dinda mengunggahnya ke akun sosial media miliknya. Ia terkejut ketika mendapati, foto-foto graffiti itu, beserta film-film pendek berisi proses pembuatannya, mendapat ratusan “like” yang cepat saja bertambah menjadi ribuan. Pengikutnya di media sosial berkembang pesat. Dari hanya dua ratusan menjadi dua ratus ribu. Dan berkembang terus.

Baca Juga: Cerpen: Esa Historia

Sampai suatu dini hari. Malam itu kelompoknya menyelesaikan masterpiece mereka. Untuk merayakannya, mereka berlima makan nasi goreng di sebuah warung yang buka sepanjang malam. Waktu sudah pukul setengah empat pagi ketika akhirnya mobil Abie berhenti di muka rumah.

Berusaha sepelan mungkin, Dinda memanjat tembok, melemparkan ranselnya masuk jendela lebih dulu. Ransel itu jatuh tepat di atas tempat tidur, yang memang sengaja digesernya agar berada di bawah jendela. Lalu Dinda menyusul, merayap masuk. Rumah sepi. Tak ada suara apa pun. Agaknya semua orang sudah tidur. Termasuk Ayah, yang biasanya menulis atau menonton Netflix sampai pagi.

Dinda mengunci jendela. Saat berbalik, nyaris saja ia menjerit: Ayah duduk dalam gelap di pojok kamar, memperhatikannya. Suara Ayah pelan dan sedih saat bertanya, “Dari mana, Ta?”

(Bersambung ke Bagian Kedua)

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here