(Sebuah Ode Tanpa Kalimat SPOK)

PEKAN lalu, ketika asyik meriung di ruang studi jamaah @kanotbu, seorang sahabat dari masa lalu berkata. “Apa kita buat grup WA (WhatsApp) saja?” ujarnya. Agak sedikit terhenyak, saya langsung mengiyakan. Tak butuh waktu lama, tanpa proklamasi dan regulasi, grup itu pun berdiri. Setelahnya, sahabat yang menjadi admin ini “memerintahkan” orang-orang yang hadir di situ mencari nomor telepon “alumni” yang akan dimasukkan ke grup.

Mulailah saya, @ihansunrise, @burong7, @bookrak @marxause dan beberapa sahabat masa depan saya, bertungkus-lumus mencarikan nomor-nomor telepon yang dimaksud. “Aduh, sama aku nggak, hapeku jatoh di sumur, nomor ilang semua. Cak qe tanya sama yang laen.” “Oh, iya, sama aku ada ini, tapi keknya nggak aktif lagi nomornya.” Percakapan model ini terulang beberapa kali dengan kalimat-kalimat yang susah di-google-translate-kan ke dalam bahasa Inggris.

Setelah puluhan orang diundang ke grup, si admin bertanya. “Apa bagusnya nama grup ini?” Ia enggan memutuskan sendiri. Saya mengusulkan, biarlah tanpa nama dulu hingga semua orang di grup itu sadar, siapa saja yang ada di dalamnya. Usul diterima.

Hanya beberapa menit kemudian, hape mulai bergetar-getar. Secara beruntun notifikasi grup masuk tanpa mampu dibendung. Seperti letupan birahi (versi KBBI: berahi) dari dua alay yang pacaran di bawah jembatan layang.

Kurang dari sejam, barulah semua orang di grup itu menyadari, ternyata dulu mereka pernah bersama-sama di sebuah tempat kerja. Syukurlah (kawan-kawan saya itu memang memiliki daya nalar luar biasa). Setelah semua kesadaran itu menyatu, dinamakanlah grup tersebut dengan KPA. Akronim dari ‘Kita Pernah Akrab’. Suatu waktu di tahun-tahun sebelumnya, Anda mungkin pernah kalimat ini tercetak pada sampul sebuah majalah.

Namun, tulisan ini bukan tentang grup yang umurnya masih merah tersebut. Ini cerita yang mungkin dialami banyak orang, kecuali ending-nya. Nama dan lokasi grup sengaja dirahasiakan demi kenyamanan pembaca.

Sejak memasang WA di hape pintar saya, ada banyak grup WA yang mampir tanpa diundang. Hampir semuanya datang dengan tekad serupa. Semangat juangnya adalah mengumpulkan para alumni di mana pun berada, bertemu dalam sebuah ruang maya buatan Jan Koum dan Brian Acton itu.

Di awal-awal, biasanya admin rajin memberitahukan tujuan dibuat grup, apa visi misi dan program kerja 100 hari. Walaupun telah terpampang jelas dengan huruf kapital tebal kata ALUMNI di situ. Ya, apa boleh buat, karena ketika ada anggota baru masuk, kerap muncul pertanyaan, “Ini grup apa, ya?” tanpa menggulung layar untuk mengecek penjelasan sebelumnya.

Untungnya, sebagian admin kreatif. Pesan itu akan disalin dan ditempel lagi ketika pertanyaan serupa muncul. Malangnya, di beberapa grup kreativitas itu mengundang protes penghuninya. “Admin apa ini. Kok, nggak bisa ngetik, itu-itu aja yang dikirimnya!”

Di sebuah grup WA yang lain__sebut saja grup B, saya juga diundang masuk. Lagi-lagi, ini grup alumni tapi dari lokasi yang sama. Jika yang saya ceritakan di atas itu__sebut saja grup A__berisi para alumni sekolah A, grup B ini khusus untuk angkatan tertentu di sekolah itu juga. Jika grup A memakai kata ALUMNI, grup B menggunakan lema SILATURAHMI sebagai tajuk.

Diundang dua grup, saya senang. Ibarat mendapat undangan khanduri di dua tempat. Artinya, saya masih dianggap oranglah, ehm. Repotnya, saya pusing harus berinteraksi di grup mana. Setengah anggota grup B juga berada di grup A.

Awal-awal terbentuk, keriangan menjalar di dalam grup. Para abang dan kakak leting saling melepas kangen. Saling menanyakan kabar. Kenapa kakak leting yang itu sekarang lebih putih padahal dulu jerawatan. Lalu, abang leting yang ini kok sudah buncit walaupun usia belum tua-tua kali.

Lambat laun keriangan itu berubah jadi saling ejek. Si Fulan yang tidak berada di grup A, digosipkan oleh Si Fulen yang ada di kedua grup. Gosip berubah jadi kebully ketika di grup B bermunculan screenshot percakapan tentang Si Fulan.

(Bagaimana, apakah paragraf ini terasa membingungkan?)

Tak tahan digosipkan, Si Fulan “cabut” dari grup tanpa permisi. Kemungkinan, setelah ia itu akan membuat grup WA baru, Alumni Tandingan.

Setelah Si Fulan pergi, “The Next Victim” pun dicari. Biasanya, korban disasar dari anggota grup yang masa lalunya di sekolah itu berantakan. Misalnya, pernah kedapatan robek celananya ketika upacara bendera, dijemur di tiang bendera sama guru BP karena ketahuan merokok, dll. Kepingan cerita dicelotehkan sepotong-sepotong. Ketika diobrolkan bersama-sama, cerita menjadi lengkap dan utuh. Selengkap naskah sinetron Sandal yang Tertukar (pernah nonton?).

Selain orang dengan masa lalu hancur, penghuni grup berkategori cantik dan ganteng juga jadi sasaran empuk. Bahan cerita tetap dari kisah-kisah masa lalu. Misalnya, si cantik ini dulu pernah digosipkan pacaran dengan seorang guru. Saat itu, guru tersebut sudah memiliki empat anak dan sekarang sudah jadi kakek.

Untungnya, tak semua “korban” kabur dari grup seperti Si Fulan. Selalu ada orang-orang yang mampu bertahan di tengah kepungan ejekan. Ada juga yang bertahan dalam grup karena berpegang teguh pada prinsip mingkem, jarang berkomentar. Sesekali mengirim pesan, isinya cuma hihihi, hahaha, atau wkwkwkw. Masa lalunya juga terbebas dari noda dan ia baik-baik saja hingga sekarang. Orang seperti ini kisahnya terlampau dangkal untuk dijadikan sumber ejekan. Menggali ceritanya juga bikin habis waktu saja.

Di lain waktu, ketika gosip-gosip habis dan keriuhan pelan-pelan meredup, grup berubah menjadi toko online. Tanpa diminta, beberapa anggota grup berubah menjadi sales. Mereka memperdagangkan apa saja. Mulai dari giok, kosmetik, plafon rumah, madu, hingga anak kodok. Seorang anggota grup bahkan bisa “men-trading” beberapa jenis barang dagangan. Sesekali, seisi toko terganggu dengan melintasnya berita pencurian sepeda motor. Saat itu, biasanya usia grup menginjak tiga bulan.

Setelah tiga bulan ke atas, para sales mendadak diam. Soalnya, tak satu pun anggota grup merespon. Jarang ada yang tertarik kecuali diiming-imingi diskon. Grup mulai sepi. Jika sebelumnya sehari semalam ada 100 notifikasi kini berkurang menjadi 10 atau lima pemberitahuan tanpa percakapan.

Menjelang empat bulan, grup alumni tersebut berubah kian senyap. Lambat laun kesunyian ini menemukan jati dirinya dan berubah menjadi religius. Pesan berantai berbau petuah melayang-layang di grup. Pesan-pesan itu selalu memiliki pesan di bawahnya “wajib disebarkan, jika tidak bakal berdosa karenanya”. Kadang-kadang, dua pesan sama muncul di waktu agak berdekatan dari orang berbeda. Mulanya terpikir, oh, itu mungkin dikoreksi. Namun, ketika dibaca isinya sama. Dosa apa saya?

Sebenarnya, di bulan pertama saya ingin keluar dari kedua grup tersebut. Soalnya, setelah perkenalan awal, saya tidak punya cerita apa-apa yang bisa dibagi. Kisah masa lalu saya hambar, dingin, basi; tak bisa dijadikan penutoh. Konon lagi kisah sekarang. Ketika ingin mengirim tautan-tautan tertentu, rasa canggung menjalar, takut menganggu kemeriahan grup.

Namun, setelah enam bulan berlalu, saya berpikir untuk keluar dari kedua grup. Saat itu, perasaan saya campur aduk. Masygul sekaligus geram. Emosi ini hadir bukan karena masa lalu yang hambar tapi saya terus merasa kotor ketika membaca pesan-pesan religi tadi. Ketika satu pesan lewat, isinya memaparkan atribut-atribut dosa yang saya sandang. Saat pesan lain menyusul di belakangnya, atribut itu kian bertambah.

Setelah menancapkan tekad bulat dalam hati, tanpa pamit saya keluar dari grup. Saat itu, pupil mata sempat basah sejenak. Saya tak tahu dari mana keharuan itu muncul. Mungkin, karena saya tak menyangka ada sebuah grup alumni yang awalnya begitu hingar-bingar bak konser rock ternyata berubah wujud sebagai tempat pengingat dosa. Kini, dosa saya kian bertambah setelah meninggalkannya; tak mampu Bayclin memutihkannya lagi. Maafkan saya.

Ilustrasi by Pixabay.com

Komentar

Komentar