I’m Still Here — Chapter 7

Menjelang magrib Nada pulang dengan tampang sumringah. Begitu masuk ia menyalakan app musik dan menghubungkan dengan pelantang suara di ruang tengah, lalu ke dapur untuk minum air es segelas besar. Masuk kamar mencari handuk dan piyama—lalu langsung tertegun. Ada sesuatu yang tak biasa. Ia dapat merasakannya.

Nada menyimpan pakaian dalam dua lemari: sebuah lemari gantung dari kayu jati belanda, dan satu lemari laci setinggi dada. Bagian depannya dari jalinan rotan. Di atas lemari itu ia meletakkan foto kedua orangtuanya, mengapit vas terakota kecil berisi bunga kering. Kini tampak bahwa bingkai foto Ayah miring ke arah yang salah. Dan ada segumpal bunga yang rontok. Nada tertegun. Menghampiri lemari, meluruskan pigura. Dipungutnya bunga yang rontok, menyapukan pandang ke seluruh badan lemari. Lalu terlihat olehnya bahwa laci sebelah atas tak menutup sempurna.

Nada tertegun. Jantungnya berdetak kencang saat membuka laci. Di dalam sana, tumpukan pakaiannya berantakan. Seperti diaduk-aduk seseorang.

Nada gemetar. Hanya ada dua pintu menghubungkan rumah ini dengan dunia luar: pintu depan dan belakang. Dan kedua pintu itu selalu terkunci. Atau—mungkinkah… ada yang mendobrak masuk?? Memaksa diri, Nada bergegas ke dapur. Ia segera tahu bahwa pintu ke pekarangan belakang masih terkunci. Gembok hitam masih tetap tergantung di tempatnya. Artinya tak mungkin ada orang masuk melalui pintu itu. Dan pintu depan, ia sendiri yang membuka kuncinya saat pulang tadi. Tapi jelas ada yang masuk dan mengacak-acak—mungkinkah hantu yang melakukan ini? Poltergeist?

Nada lari ke ruang tengah, mengambil teleponnya di rak buku. Ia sudah akan mengetuk ikon speed dial nomor Ronggur—lantas berhenti. Ragu-ragu. Perlukah menelepon? Perlahan Nada kembali meletakkan teleponnya. Tanggapan Ronggur pastilah menyuruh Nada pindah—dan Nada tak ingin itu terjadi. Sulit menemukan tempat yang dekat dengan kampus, apalagi dengan kondisi sebagus rumahnya ini. Ditambah tak perlu membayar pula. Nada tahu dia tak mau pindah. Dia tak boleh pindah.

Gadis itu kembali ke kamar, berpikir-pikir. Mungkin ia salah mengingat. Mungkin ia sendiri yang pagi tadi menyenggol bingkai foto Ayah. Tadi pagi ia memang tergesa-gesa, ada kuliah pukul setengah delapan. Bisa jadi ia sendiri juga yang telah mengacaukan tatanan pakaian dalamnya di laci. Nada mengebaskan kepala. Mungkin—mungkin ia sendiri yang mengacaukan, lalu lupa.

Bertekad bahwa apa pun yang terjadi takkan bisa mengusirnya dari rumah ini, Nada membuat secangkir teh. Membuka stoples keripik, duduk di depan meja gambar mencoba memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan. Ia tak bisa mengganti kunci pintu depan dan belakang. Kedua pintu itu model kuno, barang buatan tahun 1930-an. Mustahil mencari kunci baru yang cocok. Tapi ia bisa memasang selot dan mengganti gembok. Pintu kamar juga akan dipasanginya selot-selot dari dalam. Demikian juga jendela-jendela. Semua jendela di paviliun itu memiliki terali belah ketupat dari besi cor, tapi Nada merasa tak ada salahnya menambahkan selot pada kunci yang lama.

Nada bangkit. Dibawanya cangkir teh dan keripiknya. Ransel dan tabung gambarnya menggeletak di lantai ruang tengah. Tapi Nada tak berminat membuka tabung, mengeluarkan kertas-kertas gambar sebesar pintu, lalu menempelkannya di meja gambar. Sekarang ini yang diinginkannya hanya berkurung dalam kamar, membungkus diri rapat-rapat dengan selimut.

Beberapa hari berlalu. Kondisi di paviliun tenang. Nada membeli selot dan gembok paling kukuh yang dijual di toko besi. Lalu meminta Heru, sahabatnya satu angkatan, menolong memasangkan kunci-kunci itu.

Nada sengaja tak meminta bantuan Ronggur, takut pemuda itu akan curiga, bahwa ada sesuatu yang membuat Nada takut di paviliun itu. Dan kemudian dengan instingnya yang selalu ingin melindungi, dia akan meminta Nada untuk pindah. Dan itu artinya mencari pondokan baru lagi, mencocokkan budget lagi, dan…. sudahlah. Sekali ini, Nada memutuskan untuk bohong saja pada Ronggur. Lebih simpel.

Edun suredun gini pertahananmu, Nad,” komentar Heru saat selesai memasang semua selot. Dia duduk di ruang tengah, menghadapi secangkir kopi yang disuguhkan Nada. “Gembok itu gak bakalan patah kalau nggak dipotong pakai alat khusus. Gede banget,” Heru ketawa kecil. “Kalau takut tinggal sendirian, ajak kawan dong, Nad,” katanya lagi.

Nada menggaruk poninya. Memasukkan angin ke keningnya yang berkeringat.

“Ya, dua kamar memang kebanyakan buatku sendiri. Kayaknya nanti akan kuajak Eri atau siapalah,” sahutnya. “Kan butuh waktu untuk pindah. Gak mungkin juga Eri mau kalau mendadak kuajak.” Heru kenal Eri. Pemuda itu memang cukup sering bergabung bersama kelompok nongkrong akhir pekan Nada dan Eri beserta geng geologi.

“Yaaaah….” Heru memandang berkeliling. Tatapannya menilai. “Bagus sekali paviliun ini ya.” Dperhatikannya bingkai pintu-pintu kamar dan balok-balok penyangga yang berjajar rapi di langit-langit. “Kusen, pintu, jati semua. Beam itu kelihatannya jati juga, ya? Wow. Harganya pasti selangit. Orang Belanda pemilik pertama rumah ini pasti kaya raya.”

“Katanya pengusaha perkebunan di Lembang, Pangalengan juga,” ujar Nada, mengingat-ingat. “Eh, kau mau kue? Kayaknya aku masih punya. Tante Hanum, yang punya rumah ini, kemarin mengirimiku bolu gulung.” Nada bangkit. Teringat perempuan tua yang selalu berkebaya, yang kemarin mengetuk pintu dan menyodorkan piring berisi kue bolu ke depan hidungnya. Nada menarik kesimpulan bahwa perempuan itu adalah asisten rumah tangga Tante Hanum.

“Wah, nggak usah repot Nad. Bawa saja semua,” Heru antusias.

Nada ketawa kecil.

“Siapkan perutmu. Aku masih punya keripik pisang, singkong dan keripik bawang kiriman Bunda,” Nada beranjak ke dapur. “Kau juga perlu mencicipi rempeyek kacang super renyah khas kampungku. Pasti bakal nagih.” Bolu isi keju dikeluarkannya dari kulkas, diletakkan di atas meja bundar. Lalu dibukanya lemari gantung, mengeluarkan keripik bawang dan rempeyek. Saat mencari keripik pisang dan singkong, ia tertegun. Stoplesnya tidak ada.

Baca Juga: I’m Still Here — Chapter 6

Kening Nada berkerut. Ia yakin kemarin malam stoples-stoples kaca itu masih ada. Di sini, di antara kotak-kotak teh, kopi, biskuit dan bungkusan mie instan. Tapi sekarang tidak ada. Ataukah ia yang salah meletakkan?

Nada membuka lemari di sebelahnya. Nyaris kosong, kecuali beberapa piring dan mug. Perasaan Nada tidak enak. Ke mana stoples-stoples itu? Nada mencoba melihat di kabinet di bawah tempat cuci piring. Namun seketika itu juga ia menjerit. Seekor kecoak lari keluar dari kegelapan di belakang pipa cuci, melintasi kaki Nada yang telanjang. Tempat itu bau lembab. Dengan kesal Nada membanting pintunya kembali menutup.

“Woi, ada apa? Kalau bolunya nggak ada, nggak apa-apa. Jangan marah-marah,” wajah berjerawat Heru muncul di ambang lubang servis yang dibuat di dinding di antara ruang tengah dan dapur.

“Eh—ada kok, ada,” Nada buru-buru menegakkan berdirinya. “Kau bawa saja piringnya Ru. Itu di meja. Sekalian kripiknya.”

“Dengan senang hatiii….” Heru menjangkau lewat lubang servis, sebelah lengan merangkul kedua stoples keripik, tangan lainnya menating piring bolu. Nada masih berdiri sebentar di tengah dapur, berkacak pinggang memandangi lemari kabinet dengan bingung. Ke mana dua stoples sialan itu? Kan mustahil menghilang terserap begitu saja ke dalam udara?

“Hoi Nad, sinilah. Kalau tak kau jaga, semua ini bisa kuhabiskan lho!” seru Heru. Nada menghela nafas. Setengah terpaksa akhirnya bergabung kembali dengan si kawan di hadapan rak buku besar di ruang tengah.

Heru masih tinggal dan mengobrol satu jam lagi, baru pulang. Waktu itu cuaca sudah remang. Magrib datang dengan cepat, ungu lembayung di antara dahan kemboja. Selesai mengantar Heru ke pagar Nada kembali ke paviliun, masuk dan mengunci pintu. Ruang tamu gelap karena lampu belum dinyalakan. Waktu berbalik hendak berjalan ke ruang tengah, mendadak sudut mata Nada menangkap sesuatu. Seseorang. Seorang gadis kecil. Bergaun tanpa lengan, dengan dua buntut kuda berpita besar di kanan kiri kepala.

Nafas Nada tercekat. Berbalik secepat kilat, menghadap ke sudut tempat anak itu berdiri tadi. Kosong. Anak itu sudah menghilang.

Nada mengerjap. Tengkuknya meremang.

Keluarga Belanda yang dibantai itu, mereka memiliki dua orang anak. Bocah lelaki sembilan tahun, dan adik perempuannya, lima tahun.

Nada mencoba memikirkan artikel-artikel yang pernah dibacanya tentang earth bound spirit. Arwah yang masih tersangkut di dunia. Nada menelan ludah.

“Oke,” katanya, cukup keras agar bisa terdengar ke seluruh paviliun. Sekali lagi ia menelan ludah. Mencoba menenangkan getar dalam suaranya saat melanjutkan, “Liefje meis¹, jadi kalian masih di sini, ya. Baiklah. Sekarang aku sudah tahu. Kita kenalan ya…. Namaku Nada. Aku juga tinggal di sini sekarang. Kita bagi paviliun ini dengan adil…. Kalian di alam sana, aku di alamku. Kita tidak usah berbagi portal. Tidak usah saling ketemu.”

Bodoh, Nada memaki dirinya sendiri. Seharusnya jangan mencoba berkomunikasi. Bagaimana kalau itu membuat mereka marah—atau sebaliknya, semakin betah? Yang mana pun hasilnya, dua-duanya tidak menguntungkan bagi Nada.

Nasi sudah menjadi bubur. Apa boleh buat.


¹ Gadis cantik, bahasa Belanda

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here