I’m Still Here — Chapter 4

Ronggur menandaskan tetes terakhir dari cangkir kopinya, mendeham, lalu lembut menyenggol Nada.

“Pulang, yuk.”

Nada memusatkan matanya yang kuyu pada wajah pemuda itu. “Ayo.”

Ronggur merapikan bawaan. Menyandangkan ransel Nada ke bahunya, menyomot sedikit keripik dengan tisyu dan mengantonginya. Nada bangkit di belakangnya, diikuti tatap teman-teman mereka.

“Lho! Mau ke mana! Masa pulang sih!” Agus melenguh. Satu-satunya joker dalam kelompok nongkrong akhir pekan mereka, Agus selalu ogah pulang. “Karena di kosan aku selalu hanya ketemu kasur dingin dan komputer butut,” dia bersungut-sungut.

“Aku ada seminar, pagi-pagi besok,” kata Ronggur dengan nada meminta maaf. Agus mengerutkan kening.

“Ya sudah, kalau gitu kita duduk aja di sini sampai subuh. Terus kau kan bisa langsung ke lab kampus dari sini, Bang,” sarannya. Mendengar itu Ronggur dan Nada meletus ketawanya. Eri juga terkekeh. Tapi ia ikut bangkit bersama Nada, menjawil bahu Daud sepintas. Daud berdiri, menguap dan menggosok mata.

“Pulang Gus. Jangan lupa beli guling,” katanya.

“Hah? Buat apa?”

“Buat nemenin. Katanya kau sudah bosan cuma ditemenin kasur dingin dan komputer butut,” tawa semua orang tersembur mendengar kata-kata Daud yang terakhir itu. Agus cemberut, tapi tak urung bangkit juga.

“Ya deh ya deh… Aniaya saja aku terus…terussss…. Aku tahu kelen semua sirik sama aku… Mentang-mentang aku yang paling tampan dan paling merdeka… Puas kalian haaaah?! Puaaas??” tukasnya, meletakkan selembar uang untuk tip di nampan cek. Tampangnya begitu memelas sehingga tawa teman-temannya makin keras. Ronggur merangkul bahunya.

“Memangnya kau pikir untuk apa kau kami ajak? Sadar diri dong. Kalau-kalau ban kempes di jalan, kau itu yang jadi ban serep—“ ketiga lelaki muda itu berjalan keluar, tertawa-tawa gembira. Seperti anak-anak kucing.

Eri menggandeng Nada.

“Eh… Bagaimana rumah barumu? Bagus?” tanyanya, membenahi jatuhnya tas di bahu.

“Nggak jelek. Kurasa aku akan betah.”

Eri merapatkan diri, lengannya erat melibat lengan Nada. “Lalu…hantunya?”

Nada tersenyum.

“Kurasa hantunya nggak suka padaku. Sampai sekarang mereka nggak pernah muncul.”

“Baru seminggu sih,” kata Eri seolah melamun.

Nada tertawa.

“Kau mendoakan agar aku diganggu hantu? Tega sekali!” ujarnya. Eri ikut tertawa.

“Bukan begitu—soalnya, Hana bilang hantu itu setia sekali. Selalu tampak atau terdengar pada malam-malam tertentu—aneh juga bahwa mereka belum memperlihatkan diri padamu.”

“Sudah kubilang, mungkin mereka nggak suka padaku. Atau takut mungkin,” Nada menyeringai.

“Apa karena kamu orang Aceh, ya Nad,” ujar Eri seperti setengah melamun.

“Memangnya kenapa kalau aku orang Aceh! Jadi karena aku orang Aceh terus hantu takut sama aku, gitu? Eggaaaak juga kaleeee!” Nada pecah ketawanya. Eri ketawa juga.

“Siapa tahu hantunya hantu Belanda, turunan anak buah Jendral Kohler…. Kau kan sesuku dengan Cut Nyak Dhien. Mungkin hantunya takut ditembak, kayak jendral moyangnya dulu!”

“Ngaco!” Nada ngakak.

Mereka sampai di basement parkir. Suasana sudah sunyi. Hanya tinggal satu mobil dan ketiga motor mereka, yang diparkir di dekat tiang. Tiang itu agak menghalangi cahaya lampu yang berasal dari langit-langit basement. Akibatnya, tempat mereka jadi agak remang-remang.

“Kenapa sih cowok-cowok aneh itu selalu memilih tempat paling gombal untuk parkir,” gerutu Eri. ”Kebayang deh, Mas Daud,  seperempat abad lagi… makin pelupa, yang dipedulikannya cuma koleksi model motornya, lupa kalau tadi ia ke mal bersama aku, terus aku ditinggal di mal, dia pulang sendiri.…”

Nada tertawa lagi. Eri lucu kalau mengomel.

“Di mana mereka, ya? Kok nggak ada,” gumam Eri, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan mencari-cari.

“Ke kamar kecil, mungkin.” Nada mengajukan dugaan. Eri mendengus.

“Ketiga-tiganya?”

“Bang Agus kan penakut.”

Eri menyeringai.

“Ya. Bang Agus…Acara nongkrong kita pasti payah kalau nggak ada dia,” kedua gadis itu menghampiri motor-motor, bersandar di joknya. Mereka bercakap dengan suara rendah sambil menunggu ketiga cowok itu muncul. Nada sedang menceritakan maket kawannya yang hancur tertimpa bocoran di studio ketika mendadak Eri mendesis.

“Sst!” telunjuknya menempel di bibir.

“Apa?” Nada kaget.

“Kau dengar nggak?” Eri membeliak. Pupilnya mencelat bolak balik, seperti mencari-cari sesuatu. Jantung Nada mencelos. Ekspresi muka Eri membuatnya takut.

Baca Juga: I’m Still Here — Chapter 3

“Apa? Dengar apa?”

“Tadi. Seperti suara ketawa.”

“Masa sih. Aku nggak dengar….,” Nada merasa tengkuknya merinding. “Yang betul, Er. Suara ketawa gimana?”

“Kayak cewek. Cekikikan gitu.” Bisik Eri. Matanya semakin membesar, menatap Nada.

“Jangan gitu, ah, Er,” bisik Nada. “Mungkin cowok-cowok. Ketawa-ketawa di wese.”

“Suaranya kayak suara ketawa cewek. Kalau cowok ‘kan ketawanya besar. Ngakak gitu. Ini lebih mirip ngikik.”

Nada terdiam. Tanpa sadar, dia dan Eri saling mendekat. Saling merapatkan punggung. Tatapan mereka gelisah mengukur seluruh ruangan basement.

Terdengar sebuah bunyi. Pelan sekali. Seperti suara seretan sandal di lantai kasar.

“Itu—“

Nada nyaris terjerit karena Eri mendadak menyambar tangannya.

“Ap—apa, Er??”

“I—itu…” telunjuk Eri teracung. Jari itu gemetar, menunjuk ke kegelapan ruang maintenance di samping pintu lift.

Refleks, Nada langsung menekap mulutnya. Sepasang mata menyala mencorong dari kegelapan di sana. Bayangan sebuah kepala tirus nampak samar-samar di balik nyala mata itu. Sepertinya, apa pun yang ada di kegelapan itu, kepalanya bergantung terbalik.

“Nad—“ cengkeraman Eri di tangan Nada menguat.

“Jangan mundur Er,” bisik Nada. “Tetap di sini. Jangan takut. Kalau dia tahu kita takut, nanti dia mendekat.”

Eri mengeluarkan suara seperti tikus terjepit.

“Aku emang takut Nad….,” cicitnya. “Nad…. itu apa…?”

“Hus,” Nada mencoba tak mengalihkan tatapan. Sepasang nyala di kegelapan itu bergeming. Terus mencorong ke arah mereka.

“Coba baca ayat suci, Er,” bisik Nada.

“A… ayat apa?”

“Apa aja!” Nada setengah membentak setengah berbisik. “Apa aja.”

Ia sendiri sudah sibuk mengucapkan doa yang diajarkan ibunya. Keduanya begitu sibuk berusaha berdoa sehingga tak mendengar suara langkah mendekat.

Mendadak Eri merasa bahunya disentuh. Ia menjerit sekuat-kuatnya. Nada yang kaget setengah mati, ikut menjerit juga. Dua-duanya menjerit seperti kambing mau disembelih.

“Hei hei heeeei….! Kenapa kalian ini??” terdengar suara Daud. Eri berputar seperti gasing, membalik. Daud, Ronggur dan Agus berdiri di belakang kedua gadis itu. Wajah mereka penuh tanda tanya, sekaligus terkejut dan tak mengerti.

“Mas Uuttt!” ujar Eri, menyebut Daud dengan nama panggilannya. “Aduuh! Untung kalian sudah di sini!” tak malu-malu Eri melompat, memeluk pemuda itu. Tampang Daud bingung, tapi campur senang juga. Balas dipeluknya Eri.

“Ada apa sih? Wow, kamu gemetar, Yang. Kenapa? Ada apa??”

“Mas Ut, aduh,” Eri menoleh, ke arah ruang maintenance. “Itu. Di sana.”

“Apa sih? Di mana?”

Sementara itu Nada sudah membungkus diri rapat-rapat dengan lengan Ronggur. Ia melirik ke arah lift. Nyala ganjil yang mereka lihat tadi masih ada di sana. Ketiga cowok yang baru datang menengok ke arah yang ditunjuk Eri. Nada merasa lengan Ronggur menegang.

“Apa itu,” suara Agus tercekat. Sesaat tak ada yang bicara. Kemudian Ronggur tertawa kecil.

“Itu kucing,” katanya. “Mata kucing ‘kan menyala dalam gelap.”

“Tapi itu kayaknya menggantung terbalik, Bang,” bantah Daud pelan. “Lebih mungkin monyet.”

“Monyet apaan di mal kayak gini,” Ronggur setengah tertawa. “Coba. Mana senter,” dirogohnya saku mengambil ponsel. Menyalakan senter. Lalu diangkat, ditujukan ke arah lift. Ternyata nyalanya tak sampai ke sana. Ronggur hendak mendekat, tapi ditahan Nada.

“Jangan!” kata Nada. “Ngapain ke sana!”

“Aku mau lihat, binatang apa itu. Harus agak dekat, supaya sinar senter hape-ku sampai.”

“Ih. Kalau itu bukan binatang bagaimana??”

“Kalau bukan binatang, begitu kena cahaya pasti langsung hilang.”

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here