I’m Still Here — Chapter 13

Nada mematikan keran. Meletakkan ceret di kompor. Sambil menunggu air mendidih, sekali lagi Nada melirik ke luar.

Sosok itu masih ada. Masih berjuntai di pohon rambutan. Kedua kakinya diayun-ayunkan.

Nada menyeduh dan menyaring kopinya secepat ia bisa. Begitu selesai, setengah lari dibawanya mug-nya kembali ke ruang tengah. Baru saja ia meletakkan mug di dekat meja gambar, Eri menarik nafas panjang, bangkit dari hadapan laptopnya.

“Ih, aku lupa, jemuranku masih ada di luar,” katanya. “Aku ambil dulu deh.” Eri ragu sejenak. Lalu dijawilnya Yasmin. “Yayas, kawani aku yuk,” katanya.

“Ha? Oh, oke. Bentar Kak,” Yasmin merapikan karabiner-karabinernya, lalu melompat berdiri. Nada tak sempat mengatakan apa pun karena Eri sudah membuka pintu dapur, yang langsung berhubungan dengan teras belakang. Yasmin berlari menyusul. Belum berapa lama keduanya keluar ke pekarangan belakang, mendadak Dini dan Nada mendengar jeritan tertahan. Eri bergedubrakan lari masuk ke paviliun, dikejar Yasmin dari belakang. Yasmin membanting pintu dapur hingga menutup, secepat-cepatnya mengatupkan selot dan memutar kunci, lalu meloncat sipat kuping, kembali ke ruang tengah.

“Astaghfirullahal adzhim!” Dini berseru. “Ada apa, Er? Yayas??”

Eri menjatuhkan diri di dekat Dini, jemuran yang baru diangkatnya ditumpukkannya begitu saja di karpet. Yasmin datang seperti terbang, melompat menyuruk ke antara teman-temannya. Keduanya terengah-engah, tak menjawab pertanyaan Dini.

“Eesh, kenapa sih ini? Kenapa, Yas?” Dini, agak senewen, menatap Yasmin dan Eri bergantian.  Nada menatap kedua kawannya itu. Eri pucat dan gemetaran, Yasmin nampak seperti sedang berusaha keras untuk kelihatan tegar.

Dini masih sibuk berusaha memperoleh jawaban dari keduanya. Nada mengerling ke arah pintu dapur. Dalam hati ia telah menebak, apa kiranya yang membuat Eri dan Yasmin menjerit dan lari tadi.

Ia baru saja hendak turut bergabung, duduk di lantai, ketika mendadak tuas pintu dapur disentakkan ke bawah. Drak!

Sontak, keempat gadis itu terpekik. Empat pasang mata melihat ke arah pintu dapur. Tuas pintu bergerak. Dua kali berturut-turut.

Dini mencengkeram tangan Nada. Jemarinya dingin.

“Siapa itu,” bisiknya tanpa mengharapkan jawaban. Nada menelan ludah. Dalam benaknya terlintas sosok yang duduk di dahan rambutan. Baru saja Nada hendak membuka mulut, terdengar bunyi baru dari arah pintu. Bunyi ketukan.

Cengkeraman Dini semakin kuat. Sekarang tangan Eri dan Yasmin juga saling menggenggam.

“Ada yang ngetuk,” bisik Eri.

“Kami juga dengar kalau itu sih, Kak,” desis Yasmin.

“Pintu itu—dikunci?” tanya Dini.

“Tadi sempat kukunci, Kak.” Yasmin terdengar bersyukur. Nada juga sedang bersyukur. Ia bersyukur peristiwa ini terjadi setelah ketiga temannya pindah ke paviliun menemaninya. Tak terbayang kalau ia masih sendiri di sini….

“Kita…. tidur saja yuk,” ajak Eri pelan. “Sudah jam sebelas.”

“Ayo,” Nada berdiri. Dini dan Yasmin langsung ikut berdiri juga.

“Kami tidur di kamar kalian malam ini, ya,” kata Dini. Yasmin mengangguk-angguk. Nada dan Eri menatap keduanya.

“Ayolah,” Nada berbisik.

Keempatnya masuk ke kamar depan. Waktu Nada hendak menutup pintu kamar, terdengar lagi bunyi ketukan dari pintu dapur. Lambat-lambat, dengan jarak satu-dua detik tiap ketukan. Bukan menggedor, tapi cukup keras. Seperti disengaja agar gadis-gadis itu dapat mendengarnya dengan jelas, dari bagian mana pun di dalam paviliun.

Suara ketukan itu terdengar lagi saat keempat gadis itu sudah membungkus diri dengan selimut. Lalu lagi. Lagi. Sepanjang malam. Diselingi sentakan-sentakan pada tuas pintu. Berhenti sebentar, lalu mulai lagi. Terus menerus.

Lepas subuh, Yasmin sudah mengenakan jaket dan celana olah raga. Ia duduk di lantai, menalikan sepatu kets. Ketiga kawannya mengawasinya, dari balik selubung selimut masing-masing.

Tak lama Yasmin melompat berdiri.

“Aku mau lari di Gasibu,” katanya. “Pusing nih. Kali aja jogging bisa bikin segar. Ada yang mau ikut?”

“Aku mau!” Nada langsung membuka selimutnya. “Habis itu kita makan bubur ayam yuk! Ayo Din, Er, kalian ikut jugalah!”

“Boleh,” Dini cepat setuju. “Sebentar, aku ganti baju dulu.”

“Aku juga,” Eri mengiyakan. “Aku tahu lapak bubur yang uenak bangets!”

Sepuluh menit kemudian keempatnya sudah di luar gerbang De Zonnen, mengendarai dua buah motor. Langit Timur menunjukkan seiris matahari, menyepuh awan keriting dekat cakrawala dengan warna jambon yang segar.

Lapangan Gasibu, seperti biasa, sudah penuh manusia. Tapi Nada dan Dini dapat menemukan tempat parkir yang cukup baik. Setelah mengunci motor dan meletakkan helm, keempatnya masuk lapangan. Yasmin langsung mulai berlari, diikuti Nada. Eri dan Dini berjalan cepat, masih sanggup bertukar obrolan.

Baca Juga: I’m Still Here — Chapter 12

Setelah dua puluh menit, keringat sudah bercucuran di wajah Nada dan Yasmin. Keduanya berebutan meminta kertas tisu pada Eri, yang sudah beberapa menit duduk mencangkung di pinggir track lari bersama Dini, menunggu kawan-kawan mereka selesai.

Lapak bubur ayam yang menurut Eri “uenak buangets” itu terletak di dekat Monumen BLA. Maka keempatnya berjalan kaki ke sana, menikmati hangat matahari. Yasmin membuka jaket olah raganya, mengikatkannya di pinggang.

“Dulu waktu masih di Padang kupikir di sini itu dingin,” katanya. “Ternyata kok sama saja dengan Padang. Panaaashsh….”

“Harusnya kamu ke sini waktu ibuku masih balita, waktu kakekku masih tinggal di jalan Tubagus Ismail,” Eri ketawa. “Kata ibuku, setiap subuh minyak goreng beku, kayak mentega.”

Keempat gadis itu sampai ke lapak bubur. Memesan empat mangkok, pasangannya teh hangat. Nada, seperti biasa, memesan kopi. Mereka makan dengan lahap, kesegaran lari berputar mengelilingi lapangan mendorong nafsu makan.

“Ya ampun, banyak amat cabenya, Yas,” kata Eri, melihat Yasmin memasukkan sesendok munjung pasta cabe rawit ke dalam mangkoknya.

“Yang kayak semalam itu bikin aku pengen makan yang pedas sepedas-pedasnya, Kak,” kata Yasmin, menyuap lahap. “Aku nggak bisa tidur sekejap pun. Berisik banget jadi setan….”

Mau tak mau ketawa teman-temannya tersembur.

“Memangnya yang semalam itu setan?” Nada mencoba menantang logika.

“Jadi siapa dong? Tante Hanum?” dengus Yasmin. “Masa’ gentayangan tengah malam begitu. Nenek-nenek kayak Tante Hanum pastinya sudah nyenyak.”

“Tante Hanum bukan nenek-nenek biasa euy,” Dini ketawa. “Badannya tegap gagah begitu. Wajahnya juga masih dirias…. Lebih jago Tante Hanum pasang eye liner daripada aku.” Teman-temannya tertawa lagi.

“Iya, Tante Hanum cantik banget ya.” kata Eri. “Tapi kenapa ya dia nggak mau kita buat pengajian,” Eri merenung.

“Kan dia sudah bilang, dia nggak mau cap “berhantu” pada rumahnya semakin melekat,” kata Dini.

“Tapi kan kalau—“

“Menurutmu ‘hantu’ di rumah kita itu apa, Er? Apa yang kalian lihat semalam di tempat jemuran?” potong Nada tiba-tiba. Eri tercekat. Nyaris tercekik bubur yang sedang disuapnya. Nada menangkap lirikan Yasmin ke arah Eri.

“Kamu lihat apa, Yas?” sambar Nada cepat dengan suara rendah. Yasmin mendeham. Kelihatan merasa tak nyaman.

“Nggak ada,” sahutnya pendek.

“Kalau nggak ada kok semalam kalian menjerit dan lari serabutan begitu,” Nada mendesak. Sangat penting baginya untuk tahu, apakah kedua temannya melihat makhluk lain, atau yang sama seperti yang dilihatnya di ruang tengah tempo hari. Kehadiran makhluk itu meruapkan sesuatu yang mengerikan, yang dapat dirasakan dengan jelas. Sesuatu yang asing dan dingin. Seperti yang kita rasakan bila melihat ke air yang dalam dan gelap. Nada tak ingin teman-temannya mengalaminya.

“Aku nggak mau ngobrolin itu,” sergah Eri. “Kalau dibicarakan, mereka itu akan semakin kuat, tahu,” wajah Eri seperti mau menangis. “Aku dan Yayas sepakat nggak akan ngomongin tentang apa pun yang kami lihat.”

“Jadi kalian memang melihat sesuatu?” darah Aceh Nada mengukuhkan sifat tak mudah menyerah. Ditatapnya Eri dan Yasmin lekat-lekat. “Apa? Kuntilanak?”

Yasmin batuk. Eri menatapnya tajam.

“Yas. Kita sudah berjanji lho.”

Yasmin terdiam. Nada mendesah.

“Begini Er,” katanya. “Urusan ini bikin aku ngerasa super bersalah pada kalian semua. Bagaimana pun, kan aku yang mengajak kalian untuk tinggal di paviliun De Zonnen. Aku nggak bisa diam saja melihat kalian jadi menderita gegara…. apa pun itu, yang mengganggu kita semalam.” Nada memperhatikan bubuk kopi turun dari sisi cangkirnya.

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here