Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Tiga Belas

Dua lagi jelas orang Indonesia. Yang seorang perempuan jangkung langsing, berusia sekitar tiga puluhan, mengenakan pashmina diikat menutup kepalanya. Walau ditutup pashmina, Dinda bisa menebak bahwa rambut perempuan itu sangat pendek, karena tak ada ikatan rambut yang melembung di bawah pashminanya. Kakinya panjang, diujungi sepatu kanvas warna burgundi. Lengan kemeja merah perempuan itu digulung, sehingga lengannya yang coklat dan ban jam tangannya yang lebar tampak jelas.

Yang membuat jantung Dinda mau copot adalah pemuda yang berjalan di samping perempuan itu.

“Serigala….” desis Dinda sendiri.

•••

Keenam tamu yang baru datang mengambil meja di bawah pohon keben. Si ‘Serigala’ belum melihat Dinda. Ia duduk di samping perempuan bersepatu merah tadi. Bang Mulkan menyambar buku menu dari bar, langsung menghampiri keenam orang itu.

“Panjang umur. Itu para ilmuwan yang kubicarakan tadi,” kata Ayah. “Yang pakai pashmina itu Project Leader-nya.” Ayah beranjak dari tempatnya berdiri. Menghampiri meja para ilmuwan. Sambil berjalan ia menepuk dinding di samping bar kopi. Lampu-lampu sebesar bola pingpong yang dipasang berangkai dari pohon ke pohon di halaman, menyala serentak. Demikian juga lampu-lampu serupa obor di tepi halaman. Memecah temaram senja merangkak ke magrib.

Dari balik bar jus, Dinda memperhatikan Ayah bicara dengan tetamunya. Sepertinya ia sedang menjawab pertanyaan pemuda berambut putih tadi, tentang menu di tangannya. Pemuda itu manggut-manggut, mengatakan sesuatu pada Bang Iqbal, yang langsung menulis dalam bloknot. Satu persatu, para tamu itu menyebutkan pesanannya dan Bang Iqbal mencatatnya. Tahu-tahu, sebelum Dinda sempat kabur atau bersembunyi, si serigala alias Razak bangkit. Memutar badan dan langsung beradu tatap dengan Dinda.

“Woah… Hai,” tangan Razak terangkat, setengah melambai setengah salah tingkah. “Kamu di sini juga, Koala?”

“Ya… Uh… Anu. Ini kafe ayahku…,” Dinda agak kesulitan mencari kata. Teringat nama panggilan Razak yang didengarnya tempo hari, Dinda menambah pelan: “….Wolf.”

“Oh,” Razak berdiri dengan sikap badan kikuk. “Eh… Anu. Musala di mana?”

Dinda mengerjap. Dia baru saja tahu bahwa keluarganya punya kafe. Baru saja datang ke tempat itu. Dia sama tak tahunya tentang layout kafe itu, dengan Razak.

“Oh… wah,” Dinda baru mau menjawab ketika Cik Anwar ikut campur.

“Di samping, dik,” katanya. “Ada jamboe di situ. Itu musalanya. Tempat wudu di situ juga, di belakang musala.”

“Terima kasih, Cik,” kata Razak. Ia nyengir pada Dinda, seolah pamitan. Lalu beranjak ke tempat yang ditunjukkan Cik Anwar. Dinda menarik nafas panjang. Lega. Selain lega karena Cik Anwar sudah menyelamatkan mukanya, dia juga lega karena Razak sudah berlalu.

Baca Juga: Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Sebelas

Setiap kali hadir, makhluk itu menimbulkan perasaan campur aduk dalam dada Dinda. Perasaan yang sulit didefinisikan. Dan itu menjengkelkan. Karena Dinda tidak suka sesuatu yang tidak jelas. Apalagi kalau ketidak jelasannya melibatkan ritme detak jantung yang berubah.

Dinda pergi ke belakang bar jus. Menemukan gelas tinggi, dan sekotak besar es kristal dalam lemari pendingin. Dinda menuangkan air, memenuhi gelasnya dengan es. Lalu menyeret bangku pendek, diposisikannya sedemikian rupa agar kalau ia duduk, tak ada yang bisa melihatnya. Dinda menyesap air esnya. Merasakan dingin air itu menenangkan sarafnya. Ia sangat memerlukan ketenangan untuk mencoba menyusun segala peristiwa yang dialaminya sepekan terakhir.

Setelah satu-dua hirup, Dinda menyamankan duduknya. Bersandar ke lemari kabinet di balik bar jus. Lalu dari persembunyiannya, Dinda mendengar suara Ayah. Bicara dengan seseorang. Dinda menggeser kepala sedikit. Cukup agar sebelah matanya bisa melihat ke balik bar. Tampak Ayah berdiri dekat tiang sebelah sana. Gerak tubuhnya mengatakan bahwa ia tengah menunjukkan sesuatu. Di dekatnya, berdiri perempuan berkemeja dan bersepatu merah tadi. Matanya memandang ke arah yang ditunjukkan Ayah.

Dinda buru-buru memendekkan tubuh, kembali bersembunyi, saat langkah perempuan itu membawanya melewati bar jus. Terus ke belakang, menuju musala.

Belum lagi selesai benak dan hati Dinda menata diri, sudah muncul lagi satu perasaan baru. Perasaan itu nongol di permukaan hati Dinda, seperti penyelam mencari udara. Mencuri kesempatan saat perasaan-perasaan lain tengah ditata.

Perasaan itu adalah sekilat rasa jengkel. Tertuju pada perempuan langsing berpashmina yang baru lewat. Melihat Ayah menunjukkan letak musala pada perempuan itu, Dinda diliputi rasa tak suka. Mendadak saja Dinda ingin melemparkan gelas di tangannya ke kepala perempuan itu. Tanpa sebab yang jelas.

Baca Juga: Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Dua Belas

“Sok cantik,” pikir Dinda geram, mengintai sepatu sneakers perempuan itu menyusuri lantai ke belakang kafe. “Itu kan sepatu anak muda. Ngapain nenek kayak dia pakai sepatu begitu. Pengen ditaksir Ayah, kayaknya. Lagian Ayah…. sok keren amat sih. Cewek itu kan bisa nemuin sendiri musala. Atau nanya sama Cik Anwar juga kan bisa. Nggak perlu amat Ayah yang nunjuk,” Dinda merasakan semacam api virtual naik dari dasar perutnya. Membakar dadanya. Terus ke matanya. Diujungi rasa panas, menyebabkan segelontor air mendadak pecah. Mengalir membasahi pipi.

Wajah Bunda terapung di kelopak mata Dinda. Senyum perempuan terkasih itu mengembang samar. Seperti panorama danau berkabut yang dilihat dari jauh. Dada Dinda sesak oleh kerinduan. Rasanya sudah begitu lama Bunda pergi. Dinda merasa tak berdaya. Tak bisa bertemu Bunda lagi. Tak bisa mendekap dan minta didekap. Bahkan tidak bisa membela Bunda, ketika Ayah berbagi perhatian, seperti sekarang ini.

Tahu-tahu Dinda mendapat ide. Cepat ia bangkit, lari mengendap ke musala. Sampai di belakang kafe dilihatnya Razak masih di situ. Bertekur khusyuk, tatapan lurus ke sajadah. Tak lama perempuan berkemeja merah itu muncul. Wajah dan lengannya basah. Pashminanya agak terkalai. Ia naik ke jamboe musala, meninggalkan sepatunya di bawah tangga.

Dinda menunggu. Begitu dilihatnya perempuan itu selesai mengenakan telekung dan mengangkat tangan ber-takbiratul ihram, Dinda melesat. Lari mengendap. Sampai di kaki tangga musala, Dinda berjongkok. Disambarnya sepatu merah perempuan berpashmina itu. Tanpa berdiri, dilemparkannya sepasang sepatu itu jauh-jauh ke kolong jamboe. Sepatu malang itu melesat deras, menumbuk tiang pondasi jamboe, lalu jatuh menggeletak. Berjauhan. Yang kiri di bawah tiang, sementara pasangannya mencelat lebih jauh, di tepi jamboe sebelah sana.

Dinda memandang hasil kerjanya. Tersenyum puas. Kemudian secepat kilat lari kembali ke kafe. Bersembunyi di balik bar jus. Dibukanya pintu kabinet tempat gelas-gelas, agar persembunyiannya lebih lengkap. Di belakang pintu itu Dinda yakin dia bisa bersembunyi dengan tenang.

Setelah beberapa lama didengarnya kesibukan di arah musala. Suara Razak bertimpaan dengan suara perempuan sepatu merah. Seperti bingung. Suara Razak kadang menjauh, sesekali mendekat lagi. Pastilah mereka tengah mencari sneakers merah itu.

Dinda menyeringai. “Rasain,” pikirnya senang. Ia menutup mulut dengan tangan, cekikikan pelan bersama diri sendiri. Lalu kaget karena mendadak mendengar Ayah memanggilnya.

(Bersambung ke Bagian Empat Belas)

KOMENTAR

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here