Kopi dan Saya: Till Death Do Us Part

Berpuluh tahun silam, sebagai mahasiswa yang selalu dianiaya dengan tugas menggambar denah berskala 1:100 di atas kertas sebesar-besar daun pintu, mengakrabi larutnya malam adalah keniscayaan.

Teman setia lain, sebagai semacam syarat mutlak mahasiswa bergaya hidup burung hantu, adalah mi instan. Mi instan berbagai rasa, rebus atau goreng, yang penting banyak cabai rawit cincangnya. Lalu dilengkapi radio yang siaran hingga pukul dua pagi.

Kadang-kadang, kalau sedang awal bulan dan tulisan-tulisan untuk naskah komik atau buku sudah dibayar, ada juga roti bakar tebal berlumur coklat dan keju.

Tapi, tanggal tua atau muda, sobat yang tak lekang pastinya kopi. Selalu kental berbuih, diseruput tujuh menit setelah diseduh, menunggu bubuknya agak mengendap. Karena tak disaring, maka di tepian gelas akan tertinggal dedak hitam lekat. Bubuk ini pun akan dikunyah, bila semalam suntuk mendesain dan besoknya ada kuliah jam tujuh pagi.

Sebungkus bubuk kopi dari merk paling terkenal (karena paling banyak iklannya), pasti siap juga dalam ransel. Disobek diam-diam, tangan tetap dalam ransel, kopi dicolek sedikit-sedikit sambil menahan kuap, mencegah mata terkatup mendengarkan dosen yang suaranya sayup sampai.

Sebenarnya affair cinta saya dengan kopi dimulai jauh sebelum itu. Ketika Ayah yang penyuka botani menunjukkan pohon berdaun mengilap dengan juntaian buah-buah merah dan hijau, di kota perkebunan nan dingin di Selatan Bandung, tempat kami sedang mengunjungi kerabat.

Baca Juga: Menelusuri Lorong Ingatan, Jajanan Bandung dari Masa ke Masa

Buah merah tua itu dagingnya manis enak. Kami sesaudara mencicip dengan rakus. Lalu kanak-kanak yang mendengar penjelasan Ayah bahwa biji buah itulah yang kelak akan dijadikan kopi, benar-benar terkejut. Sebab bagaimana mungkin buah merah manis itu bisa menghasilkan kopi yang hitam pahit? Ini seperti penyamaran karakter yang sungguh sempurna!

Affair berlanjut pada masa kuliah, yang diakhiri usaha keras menyelesaikan skripsi. Skripsi menuntut bertambahnya dosis kopi, mencoba mengejar kelinglungan otak yang ditimbun sekian ratus literatur. Maklum, Makcik Google belum lahir saat itu. Bolak balik ke Perpustakaan dan menyurati (surat lho, dengan amplop dan perangko!) berbagai pihak meminta dibolehkan mengopi dokumen untuk dijadikan acuan, adalah tradisi.

Belum lagi ketika draft skripsi harus segera masuk, dosen pembimbing ke Jerman dan baru pulang dua hari setelah tenggat habis. Stres memuncak seperti Anak Krakatau memendam lava. Secangkir kopi benar-benar jadi penyelamat, yang sanggup meredakan tegang kulit kepala. Saya dibuat tak jadi menendang terbalik meja pegawai rektorat yang kerjanya lambat, menghalangi usaha memasukkan KRS (Kartu Rencana Studi) terakhir.

Kemudian datang masa kerja: ketika setiap pagi di atas meja saya di kantor disediakan secangkir kopi panas. Saya satu-satunya yang setia disuguhi kopi oleh janitor. Kawan-kawan yang lain tidak pernah. Akibatnya saya kena julukan “perempuan macho.” Karena, tentu saja, stigma “kopi adalah minuman lelaki” masih jadi trade mark di mana-mana. Padahal di kantor saya dulu itu, yang minum kopi justru hanya saya. Yang perempuan, yang berhijab ini.

Kecintaan saya pada kopi berkembang subur saat pasca tsunami pindah ke Banda Aceh mengikuti suami yang ingin mengabdi di kampungnya. Begitu landing, langsung dibawa ke Ulee Kareng menikmati secangkir kopi. Cairan hitam berkepul panas yang diletakkan di depan saya tampak berbeda: hitamnya kecoklatan, agak transparan, berlainan dengan kopi Tanah Jawa yang biasa saya konsumsi. Ini kopi saring, kata lelaki Aceh yang saya pasrahi jiwa raga, dan yang mengajak saya ke kedai di Ulee Kareng itu. Pastilah lain dengan yang di Jakarta. Apalagi dengan S*****ck, dia meringis.

Baunya sedap sekali, itu kesan awal. Jadi saya angkat cangkir itu ke bibir. Baru kali itulah lidah ini mencicipi kopi saring!

Dan ternyata, kopi itu tidak enak. Melainkan, uenaaaaak! Cita rasanya memiliki sentuhan gurih lezat yang belum pernah saya cicipi sebelumnya. Seperti diberi sejumput garam, yang mengikat rasa dengan sempurna. Tanpa gula pun enak betul. Justru makin enak. Cangkir munggaran (pertama) di Ulee Kareng itu benar-benar cinta pada seruputan pertama!

Sejak kenal kopi saring, gangguan tekanan darah rendah saya lenyap. Sakit pinggang belakang yang sering datang kalau tekanan darah sudah terjun bebas, hilang total. Sakit kepala, juga kesulitan konsentrasi sebagai akibat sering bergadang, musnah. Untuk pertama kalinya, saya bahkan bisa mendonorkan darah! Lucunya, kopi tidak membuat gastritis saya kambuh. Padahal orang bilang kopi adalah “musuh”nya gastritis.

Gara-gara pengalaman yang bertentangan dengan arus utama itu saya coba cari tahu lebih lanjut tentang kopi. Yang saya temukan, ternyata kopi mengandung anti oksidan yang cukup tinggi kadarnya. Anti oksidan ini bekerja lebih baik bila tidak ada gula, yang menghambat pembentukan rantai kimianya. Anti oksidan ini dapat membantu mengurangi risiko terkena diabetes tipe 2, bahkan juga dementia yang disebabkan Alzheimer.

Jadi kenapa saya tidak linglung lagi setelah minum kopi, terjawab sudah. Kenapa tekanan darah saya jadi normal, dan saya jadi lebih cerdas, juga terjawab. Tapi kenapa sakit lambung saya tidak kambuh bila minum kopi saring, tetap misteri sampai sekarang. Karena sebagian besar literatur tetap mengatakan bahwa kopi memancing keluarnya asam lambung yang berlebih.

Barangkali lambung saya sekedar cinta bin cocok dengan cara orang Aceh merendang biji kopi, sehingga tidak bereaksi negatif. Atau mungkin ada zat tertentu dalam kopi yang disaring, yang bersahabat dengan gastritis saya. Entahlah.

Cinta sejati itu sempat terputus ketika sedang menyusui. Kawan-kawan melihat saya tetap menenggak kopi, berteriak prihatin. “Nanti bayimu nggak bisa tidur! Nanti bayimu kurus! Nanti bayimu kembung! Dia ‘kan minum kopi itu, dari ASI-mu!”

Baca Juga: Izinkan Aku Menyesapmu dalam Secangkir Kopi

Mereka memaksa saya putus hubungan dengan si tercinta. Berat hati, saya terpaksa putus dengannya. Tidak lama. Karena lalu datang bencana, berupa sakit kepala berdenyut yang bukan main menyiksa. Saya coba redakan dengan ibuprofen. Masih. Dengan parasetamol. Masih.

Hampir empat hari saya tanggung rasa sakit itu, lalu menyerah. Pagi terakhir itu saya jerang air. Pecah kopi. Dan begitu seruput pertama melewati lidah, abrakadabra. Rasa sakit di kepala musnah. Kepala enteng, otak bening seperti danau di lembutnya pagi.

Jadi selama menyusui pun saya tetap minum. Secangkir sehari, setiap pagi. Sama seperti lambung saya, bayi-bayi saya juga menerima kopi dengan baik. Mereka tidur nyenyak, berat badan bertambah dengan sangat baik, yang bungsu bahkan mengajari dirinya sendiri membaca dalam bahasa asing, dalam usia empat setengah.

Saya rasa hubungan cinta saya dan kopi benar-benar cinta sejati tanpa selingkuh dan sakit hati. Dan hubungan ini akan kami pelihara hingga ujung jalan.

(#mulai: sound effect musik saksofon Kenny G. Cahaya memudar, kamera menyorot silhuet saya sedang mengangkat secangkir kopi, berlatar belakang laut Ulee Lheue, sosok Pulo Aceh dan mentari terbenam). Saya, Dian Guci, dan kopi. Till death do us part.

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here