DI Banda Aceh lahir lagi satu buku dari rahim Komunitas Kanot Bu, berjudul “Judul di Belakang,” kumpulan artikel oleh delapan orang yang namanya tidak pernah dikenal sebagai penulis, tiba-tiba saja nama mereka muncul begitu saja di belakang sampul. Bukan tanpa sebab, ada hal yang membuat mereka tiba-tiba keranjingan menulis. Yaitu ketika munculnya media sosial baru yang membayar penggunanya dengan mata uang virtual yang bisa dicairkan ke dalam rupiah, steemit.com.

Setiap pengguna yang menayangkan tulisan, foto dan video di Steemit, maka berkesempatan mendapatkan pemasukan uang yang membuat kita persetan dengan pengumuman penerimaan CPNS dalam bentuk apapun. Jika sudah kecanduan Steemit bisa-bisa jadi pegawai sudah tidak penting lagi. Pun begitu, mendapatkan uang yang banyak, tak semudah membalikkan telor goreng dalam wajan. Ada reputasi yang perlu dibangun setiap pengguna mulai dari tangga bawah. Melewati proses dan konsisten berkarya dengan kualitas mumpuni bukan tak mungkin kita akan mudah mempersunting calon pengantin.

Geliat Steemit itu disambut para punggawa Komunitas Kanot Bu. Mereka tak melepas angin saat mengumpulkan reward yang didapat dari Steemit. Konten dalam bentuk tulisan terus-terusan diproduksi dengan membabi buta, tanpa meninggalkan kualitas tentunya. Yang paling mereka sadari, tulisan yang berserakan tidak akan membekas jika tidak dibukukan. Selain penting untuk melestarikan literasi, Kanot Bu juga ingin membuktikan, menerbitkan buku tidak seeksklusif yang orang pikirkan, tanpa nama besar dan uang dari pemerintah, semua orang bisa menerbitkan buku.

Minggu, 14 Januari 2018, kumpulan tulisan dari beberapa pengguna Steemit, resmi diluncurkan di umpung Komunitas Kanot Bu, Bivak Emperom, Banda Aceh. Hari itu bagi saya menjadi hari besar dalam sejarah penerbitan buku. Bagaimana tidak, buku itu dirancang dengan kemasan yang membuat teuhah abah pembaca sekaligus menggelengkan. Daripada meucawo, ada baiknya saya ulas saja satu persatu, keunikan buku 164 halaman yang diterbitkan Tansopako Press tersebut, salah satu lini aksi Komunitas Kanot Bu.

1. Judul yang tak biasa

Di sampul depan sangat jelas tertulis “Judul di Belakang (JdB)”. Saya pastikan jika Anda menggenggam buku ini, otomatis akan membalik, menengok ke sampul belakang. Apa lacur, di sana juga tak ada jawaban karena tertulis “Judul Ada di Dalam”. Merepotkan? Merasa di-pingpong? Memang begitulah strateginya untuk memancing rasa penasaran calon pembeli, tidak seperti buku lain dengan format yang begitu-begitu saja.

Komentar: Dari hasil penelitian Breedie sejak zaman purbakala, sepertinya ini buku pertama dengan judul di sampulnya yang begitu dahsyat

2. Tata bahasa seenak bacot penulis
Ya, buku JdB ditulis dengan bahasa yang tidak mementingkan kaidah-kaidah yang mesti menjunjung tinggi kesempurnaan. Sejauh tulisan itu enak dibaca dan punya isi, dalam bentuk apa saja, ya udah, layak dikonsumsi. JdB sangat pantas dijadikan alasan bahwa menulis itu mudah dan tak rumit. Bisa bersumber dari hal-hal terkecil di sekitar kita sendiri.

Komentar: Benarkah demikian?

3. Tanpa ISBN
Sampai sekarang saya masih belum tahu apa kepanjangan ISBN, dan terus terang saya juga tak ingin tahu menahu, sebab tanpa ISBN, buku tetaplah buku, tidak lantas menjadikannya haram seperti makanan tanpa label halal di bungkusan. Meski tidak dipungkiri bahwa ISBN itu penting, tapi yang namanya kreativitas, bukankah tak mengenal batas?

Komentar: Ya, itu betul

4. Cara ungkap yang berbeda
Ada delapan penulis dalam JdB. Hebatnya, mereka punya gaya sendiri dalam menjabarkan isi tulisan. Seperti masakan, beda orang, beda pula dalam penyajian dan rasa. Namun sedapnya tetap sama jika bumbu diramu oleh tangan-tangan yang cakap di bidangnya. Selebihnya paragraf ini tak usah bertele-tele nanti malah lari ke resep masakan, intinya sudah ada di list nomor dua.

Komentar: Buku ini ibarat restoran

5. Steemit benar-benar celaka
Tanpa kehadiran Steemit, barangkali JdB tidak akan pernah ada. Begitu juga dengan penulis-penulis muda itu, tidak akan ada orang waras yang berharap meminta tanda tangan, sehingga mereka dapat merasakan sensasi macam pejabat-pejabat penting kantoran. Mewabahnya Steemit patut disyukuri, meski tidak dipungkiri semangat menulis mereka karena memang dikompori pundi-pundi uang. Pertanyaannya siapa yang tak butuh uang? Lagipula, bukankah kita perlu alasan untuk melanjutkan kehidupan?

Komentar: Steemit memang celaka karena tidak punya fitur recovery password, hehehe

Itulah kiranya hal-hal yang perlu diketahui kenapa JdB di terbitkan. Anda tak perlu menjawab pertanyaan di atas, ini sekedar pemberitahuan bukan ujian nasional. Sebenarnya masih ada beberapa lagi hal-hal yang membuat pembaca geleng-geleng, putar-putar kepala, memikirkan kehidupan dengan masalah yang tak kunjung selesai. Sangat jelas, hanya Anda sendiri yang mengetahui masalah itu. Saya hanya menyarankan, sambil memikirkan persoalan itu, tak ruginya membaca JdB, siapa tau ada hikmah yang bisa dipetik dari pohon berbuah. Loh kok?

[Zulham Jusuf; Stemian dan Penunggu Serial Game of Thrones]

Komentar

Komentar