Beranda Label Cerita horor

Label: cerita horor

I’m Still Here — Chapter 16

Kedua burung itu sudah mati. Kepala mereka terpuntir hingga menghadap ke belakang. Isi perut keduanya tertekan keluar.

I’m Still Here — Chapter 15

Kak, tadi waktu aku dan Kak Dini memasukkan sangkar Laila Majnun, aku lihat ada robekan-robekan kertas di bawah tangga teras belakang. Jangan-jangan—“

I’m Still Here — Chapter 14

Di dalamnya nampak dua burung hijau cerah berparuh melengkung. Bulu di tenggorokan dan punggung bawah mereka merah menyolok.

I’m Still Here — Chapter 13

Sontak, keempat gadis itu terpekik. Empat pasang mata melihat ke arah pintu dapur. Tuas pintu bergerak. Dua kali berturut-turut.

I’m Still Here — Chapter 12

Dahulu juga kami mengadakan selamatan dan ternyata—“ Tante Hanum terdiam. Parasnya seperti mengingat-ingat. Sehelai ekspresi getir turun menyelubungi wajahnya.

I’m Still Here — Chapter 11

“Biar sajalah hantunya di situ. Mereka kan punya alam lain. Kita punya alam kita sendiri juga.”

I’m Still Here — Chapter 10

Perlahan, perlahan sekali, sosok itu mendongak, menatap Nada, dengan ceruk mata yang sangat cekung hingga nampak gelap belaka.

I’m Still Here — Chapter 9

Di sisi lain, Nada belum pernah bercerita pada siapa pun tentang hal-hal aneh yang dialaminya di rumah itu. Termasuk pada Eri.

I’m Still Here — Chapter 8

Badan Nada menegang. Seperti membeku kaku. Punggungnya serasa mengkerut. Kulit kepalanya bagai dirayapi ribuan semut api.

I’m Still Here — Chapter 7

Bodoh, Nada memaki dirinya sendiri. Seharusnya jangan mencoba berkomunikasi. Bagaimana kalau itu membuat mereka marah—atau sebaliknya, semakin betah?

I’m Still Here — Chapter 6

Artikel berikutnya terasa lebih relevan. “Screaming spirits”. Arwah yang menjerit. Nah!

I’m Still Here — Chapter 5

Di malam hari, wajah-wajah kerubi itu terlihat lain. Senyum mereka seperti menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang jahat.
- Advertisement -