~ Breeders, kami punya tips untuk kamu yang mau menghindari typo. Tips ini ditujukan kepada orang yang punya kemauan kuat melawan typo.

“Nah ini baru pernyataan toko2 yg di anggap benar2 toko bangsa,perntataanya bgtu indah.” Komentar ini kami kutip dari seorang netijen di situs mojok.co. Mungkin, para guru Bahasa Indonesia yang sempat membaca komentar itu bakal mengurut dada dibuatnya.

Itulah typo, singkatan dari ‘a typographical error’. Menurut Kamus Merriam-Webster typo didefinisikan sebagai ‘an error (as of spelling) in typed or typeset material’. Sementara Wikipedia menjabarkan typo sebagai kesalahan yang dibuat pada saat proses mengetik. Istilah ini mencakup kesalahan karena kegagalan mekanis atau slip tangan atau jari. Tetapi tak termasuk kesalahan yang timbul akibat ketidaktahuan penulis, seperti kesalahan ejaan. Kesalahan tipografi dapat disebabkan oleh jari yang menekan dua tombol papan ketik yang berdekatan secara bersamaan.

Singkatnya, Wikipedia ingin “membela” typo sebagai ‘bukan merupakan kesalahan yang disengaja’. Ingat ya, tak disengaja. Namun, apa betul begitu? Di sekitar kita saban hari typo menjamur. Yang paling umum dalam percakapan media sosial. Ada saja yang salah menulis ‘ketiak’ padahal maksudnya ‘ketika’ atau ‘ngantor’ menjadi ‘ngantar’, bahkan sebaliknya.

Typo dapat mengubah arti kata bahkan arti kalimat. Memang, banyak orang paham apa yang kita tuliskan. Mereka pun akan memaafkannya dengan segera. Namun, bila berulang kali dilakukan, namanya manusia, ya, kan, jengah juga.

contoh typo chat -yukepo
Contoh typo chat. Yukepo.com

Jika dipikir-pikir typo dapatlah dihindari. Salah satu faktor typo adalah jempol. Sejak smartphone hadir, jempol kian jera. Dulu, saat Nokia 3315 atau hape sebangsanya masih menggunakan keypad ABC123, hanya jempol kanan yang kapok. Ia bekerja sendiri untuk mengetik SMS, mengecek pulsa, hingga bermain game ‘ular yang mati menabrak ekor sendiri’.

Namun, kerjanya agak ringan dibandingkan saat Blackberry datang dengan pongahnya mengubek-ubek pasar smartphone lewat keypad QWERTY-nya. Kerja jempol kanan bertambah. Tak lagi aktif mengetik SMS tapi hilir mudik di status medsos, chat di WhatsApp, LINE, Facebook, Twitter, dan lain-lain. Ia kemudian tak mampu sendiri, mesti mengajak kembarannya di kiri.

Keduanya bekerja siang malam. Tenaganya diperas mati-matian. Namun, mereka tak pernah protes. Terus bekerja, bekerja, dan bekerja. Untung mereka bukan kuda yang butuh minum. Bayangkan saja, jika jempolmu lelah dan merengek minta minum, sesak pipis atau pengen berak.

Lambat laun, jempol kiri dan kanan beradaptasi. Tiap hari kamu tekan keduanya ke keypad, mereka jadi terbiasa. Mereka menganggapnya relaksasi. Tetapi, ibarat kakimu memakai bakiak kayu untuk mengusir rematik, jika dipakai saban detik, betismu tentu bakal naik ke pinggang. Begitu juga jempol, tak ada enaknya memang. Dari situ typo hadir. Ada saatnya kedua jempolmu meriang sehingga tanpa bisa dikontrol meluncurlah kata ‘tai’ padahal yang mau kamu tuliskan adalah ‘tau’.

Contoh typo chat - yukepo
Contoh typo chat. Yukepo.com

Ketika layar sentuh hadir dan tombol-tombol menghilang, jempol-jempol juga beradaptasi dengan hal baru. Walaupun kini mereka menyentuh permukaan rata nan licin, tetap saja keduanya tiap detik kamu bentur-benturkan. Dan keduanya kian lelah bekerja.

Apalagi, jika kamu tipikal netijen yang suka muncul di mana-mana. Di setiap status orang kamu ada. Sekalinya buat komentar, bulu-bulu hidung orang kamu komentari. Isi statusnya begini, komentarmu begitu. Lama-lama melebar dan meluber ke mana-mana. Yang awalnya canda berubah jadi tak terduga. Tapi kamu enjoy saja. Kamu sadar apa yang kamu lakukan, tapi tak pernah memahami betapa lelah jempolmu. Di situlah typo hadir. Gara-garanya, maaf cakap, jempolmu tak lagi sinkron dengan saraf di kepala.

Netijen di Indonesia punya jiwa korsa mengupat yang tinggi. Mereka akan bertahan semampu mungkin dengan egonya yang kelewat dahsyat. Tak mau peduli ada orang berkomentar baik atau menyuruhnya membaca isi artikel atau status supaya paham. Mereka nggak gampang didikte. Para pendikte siap-siap saja kena serangan balik habis-habisan. Memang begitu hukum alamnya.

Naasnya, ketika sibuk berbalas komentar, tak sadar kamu typo. Bakbudik. Bisa kamu tulis bila, cinta kamu tulis cina, mata kamu tulis mati. Memang banyak yang tidak protes karena pembalas komentarmu juga sama typo. Raskan, tulismu. Padahal maksudnya rasakan.

Hemat kami yang masih awam ini, typo terjadi selain karena hukum alam tadi juga karena konsentrasi berkurang. Di situ kamu mirip sipir, eh, sopir truk yang menyetir dua hari dua malam tanpa singgah di pangkalan. Hatimu bisa panas dan matamu masih nyalang dari layar gawai tapi jempolmu itu, tengoklah, betapa malang si kembar tersebut.

Saran kami, istirahatlah. Jangan terlalu memaksakan diri. Pijit jempolmu, berikan “me time” untuk dia. Bila perlu basuh dan rendam dengan air hangat dicampur garam. Ajak mereka bobok siang lalu sorenya jalan-jalan ke taman kota.

Lakukanlah ini supaya typo berkurang. Setidaknya supaya aib bangsa kita tak terlalu banyak kamu umbar di media sosial. Malu kita, kawan.

Selain jempol yang perlu kamu lakukan adalah banyak membaca. Pahami apa status atau percakapan yang sedang kamu ikuti. Jangan terlalu terburu-buru berkomentar. Tunggulah momen pas setelah itu ketiklah komentarmu dengan se-slowly mungkin. Sebelum terposting atau terkirim, baca ulang, sudah benar atau salah.

Tips soal menjaga kesehatan jempol ini tak mutlak ditiru. Belum tentu apa yang kami bilang ini benar semua. Bisa jadi salah semua. Terkadang, memang ada hal-hal teknis yang tetap bikin typo ketika kita sudah hati-hati dan jempol tak terlalu lelah. Misalnya, kamu mengetik ketika kawan di depanmu mengajak bicara. Akan susah untuk konsentrasi. Pikiran terbagi dua. Jika iya kamu bisa fokus tentu bagus. Hal teknis lainnya, bisa jadi disebabkan oleh keyboard smartphone-mu yang memang sudah waktunya diservis berkala. Jika begitu tak mengapa juga, yang penting jempolmu sehat-sehat saja. Ingat kawan, jempolmu harimaumu. Sayangi mereka, ya?

Komentar

Komentar