Sahur Stories: Sambai On Peugaga

Selain es kepal milo, penganan berbuka yang juga saya rindukan di puasa tahun ini adalah sambai on peugaga.

Sambal yang oleh sebagian orang Aceh disebutnya lambai (tanpa me) on peugaga atau lambai on 44 (peut ploh peut).

Angka genap ini konon merujuk pada 44 jenis daun yang menyusun sambai on peugaga sebagai salah satu kuliner warisan endatu.

Namun, dari info yang saya curi dengar, angka 44 tersebut tidaklah pasti. Faktor utama karena sudah langkanya beberapa jenis daun.

Secara harfiah penampakan sambal ini memang komposisi dari banyak daun yang dirajang halus. Daunnya apa saja? Saya kurang ingat.

Beberapa referensi menyebut daun jambu muda, daun mengkudu, daun jarak, dan daun jeruk perut. Selain itu bunga pepaya, rebung, dan bawang merah ikut dicampur ke dalamnya. Ke atas racikan tersebut kemudian ditaburi kelapa parut.

Terus rasanya bagaimana? Meukeutam. Entah cocok ungkapan ini disematkan.

Yang pasti aromanya membuat hidung sempoyongan karena harum. Sementara rasa gurih, pedas, dan asam mengundang selera makan. Bahkan berlebih.

Sambal ini dimakan dengan cara dicomot sedikit-sedikit. Ketika mulut tengah maraton mengunyah, sedikit sambai on peugaga akan menjadi delay sebelum hidangan tuntas.

Seolah sambai on peugaga adalah pit stop sebelum finish.

Selain dua hal tersebut, sambai on peugaga memantik kenangan akan kuliner masa kecil.

Dulu, nenek-nenek saya di kampung tak absen menyuguhkan penganan ini setiap puasa tiba.

Tentu tidak tiap hari. Tapi nenek saya membuatnya diam-diam.

Tak pernah bikin deklarasi semisal mau merancang per-masak-an ayam. Di mana semua orang diberikan tugas seperti mencari bumbu, mencari kayu bakar, menyiangi ayam, dan tugas-tugas lain sesuai bakat masing-masing.

Seolah sambai on peugaga masakan istimewa dan rahasia.

Karena dibuat tanpa diketahui khalayak, ia menjadi penganan surprise. Entah dari mana daun-daun itu diperoleh. Apakah jumlahnya pas atau kurang, saya tak pernah diberitahu.

Tahu-tahu pas buka puasa itu sambal sudah tersaji dengan meusaneut di dalam ceupe.

Jumlahnya pun tak banyak. Mungkin karena status semua sambal__termasuk sambai on peugaga__hanya pelengkap, maka tidak dibuat dalam porsi jumbo.

Mungkin juga nenek saya tahu tidak semua orang menyukainya. Karena itu beliau mengenalkan masakan ini tidak secara sporadis.

Terutama kepada lidah cucu-cucunya yang baru kenal kenikmatan kuliner duniawi.

Nenek-nenek saya telah lama tiada. Bila puasa tiba dan saya tiba-tiba rindu mereka, saya akan mencari sambai on peugaga lagi.

Lalu saya akan mencicipinya sedikit demi sedikit, mampir ke setiap pit stop-nya. Persis seperti cara yang dulu pernah mereka ajarkan kepada saya.

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here