Sahur Stories: Einstein

Tadi malam, listrik padam. Saya kaget sekaligus senang. Penyebabnya, saya sedang bingung mencari topik apa yang pas ditulis untuk rubrik Sahur Stories.

Ide susah keluar mungkin karena faktor beberapa hari belum berak. Konon, katanya kalau ide buntu, itu artinya ada hak berak yang belum ditunaikan.

Lagi pula, selain bah berak, sudah lama tak mati lampu. Ini momen yang “suci” di bulan suci.

Beberapa tahun ke belakang mati lampu begitu sering. Padamnya lampu menjadi momentum “menyucikan” hati dan jiwa dari segala bentuk kebencian.

Supaya tak terpendam lama dan membusuk, dikeluarkanlah segala bentuk serapah kepada empunya urusan soal lampu, di media sosial. Tentu Anda paham siapa yang saya maksud.

Tapi sekarang sudah tak zaman lagi menyumpah-nyumpah seperti itu. Nggak keren kecuali mau kena UU ITE.

Listrik pun sudah jarang padam. Paling sesekali, seperti malam ini. Itu juga cuma sebentar. Buat apa memaki, nanti tidak dapat pulsa listrik gratis, hidupmu bakal gelap.

Hidup itu, kata Einstein, seperti naik sepeda. Untuk menjaga keseimbangan, kau harus terus bergerak.

Maka, momen padamnya lampu yang sebentar saja saya gunakan sebagai kesempatan mencuri langkah ke luar rumah menikmati malam. Supaya ada keseimbangan karena sebulan lebih absen dari suasana malam di luar rumah.

Ini Jumat malam yang basah oleh sisa hujan tadi petang. Jalanan sedikit riuh dengan anak-anak kecil yang baru bisa mengendarai sepeda motor.

Mereka rawon-rawon dengan sepeda motor yang dinaiki bertiga, yang lampunya redup betul seperti habis begadang berbulan-bulan. Di sampingnya, satu sepeda motor lain juga bernasib dan berperawakan sama.

Mereka menguasai setengah badan jalan. Entah apa yang diperbincangkan. Lebih banyak terbahak.

Saya kuntit mereka hingga ke SPBU. Bukan karena penasaran tapi karena motor saya juga butuh keseimbangan; perlu diisi minyak, sama seperti motor mereka.

Ada antrean kecil di SPBU. Padahal, ini masih jam tarawih. Namun, petugas SPBU tetap melayani para pelanggannya. Secara diam-diam tentu saja. Takut transaksi tercium patroli forkopimda.

Satu sisi, mereka tak salah karena sedang menjalankan titah pemerintah agar membuat ekonomi terus berjalan di zaman corona.

Namun, seumpama “hidup” diganti “ekonomi” pada ujaran Einsten, sesekali sepeda pasti bakal bocor bannya. Bahkan kalau terkena paku besar, ban mesti diganti.

Saat itulah, ekonomi mesti mampir dulu ke tukang tambal ban, agar bisa digerakkan lagi.

Jika saya boleh bingung, kenapa Einsten tidak mengandaikan pesawat terbang saja, yang ngebutnya dua juta kali lebih cepat daripada sepeda?

Dengan begitu, ekonomi akan terus bergerak sangat cepat, kecuali saat cuaca buruk, ya kan Pak Albert?

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here