~ Awalnya ber-kopi, ujungnya ber-gibah

Beberapa perbincangan yang saya lakukan dengan sobat saya acapkali sangat menarik. Tentunya, perbincangannya dilakukan di kedai kopi. Lain di mana juga. Di Aceh kan tidak ada bioskop. Dan biasanya, kami tidak mengategorikan perbincangan ini sebagai “diskusi.” Perbincangannya untuk ketawa-ketiwi saja. Bukan apa-apa, sih. Kadang-kadang, ada teman lain yang mengajak saya minum kopi, kesannya jadi intelek sekali. Ya, karena pemilihan kata “diskusi” tadi.

“Bro, ngopi yook. Kita diskusi-diskusilah. Udah lama kita nggak jumpa.”

“Bro, besok kita ngopi, ya. Mana tau ada hal-hal yang bisa kita diskusikan.”

Saat kejadian minum kopinya benar-benar terlaksana, eh, topik diskusinya malah menggunjing orang lain, menggosip, dan mengobrol tidak jelas. Atau, sebenarnya, selama ini saya yang salah, ya? Saya menganggap kata ‘diskusi’ itu terlalu berat. Yang namanya diskusi itu, di benak saya, kita membincangkan sesuatu yang ilmiah, atau bertukar pikiran tentang sesuatu yang bermanfaat. Pulang minum kopi, isi kepala penuh dengan pengetahuan-pengetahuan dan pemahaman-pemahaman baru. Intinya, ada sesuatu yang dibawa pulang. Ah, tak tahulah, mungkin memang saya yang salah.

Balik ke suasana perbincangan ketawa-ketiwi tadi. Di satu momen, saya mengajukan pertanyaan ke sobat saya, “Bro, kemaren ada liat wawancara Si Polan di TV nggak? Dia ngejelasin tentang konsep blablabla untuk lingkungan hidup di Aceh. Padahal, menurut aku, yang dijelasin tu ada kesalahan. Selow aja dia. Malah menggurui lagi. Kok bisa pede gitu dia, ya? Di TV itu, lho. Dilihat semua orang.”

“Haduuh, bro. Haha. Jaman sekarang ini yang paling penting tu ngomong, pede, penampilan oke, selesai! Mau salah atau enggak yang diomongin, itu masalah nomor seratus. Yang penting air liur tu ada gunanya. Makanya, muncul..muncuull!!!” jawab sobat saya dengan muka ngejeknya.

Saya hanya bisa manyun. Preetlah! Saya tidak tahu, dari mana sobat saya itu punya pemikiran seperti itu. Serasa ia pernah masuk TV saja, seleb bukan, konon lagi penonton bayaran.

Yang bedebahnya, pulang ke rumah, perkataan sobat saya tersebut masih saja terngiang-ngiang. Macam tae ayam di dalam oven saja. Hangaaat terus minta dibahas.

Memangnya iya begitu? Apa zaman sekarang harus seperti itu?

Ya, tidak harus juga, sih. Semuanya tergantung sama orangnya masing-masing. Terserah maunya bagaimana. Mau menjadi orang seperti yang sobat saya katakan, silakan. Tidak mau, boleh juga. Bebas-bebas saja.

Lalu, apa saya mau menjadi orang yang seperti sobat saya katakan? Yang penting ngomong dulu, salah urusan belakangan.

Kelihatannya, saya tidak mau. Akan besar sekali resiko yang akan saya terima di kemudian hari. Yang saya bayangkan kira-kira begini. Saya sedang menjelaskan sesuatu di TV, atau di depan publik. Sudah keren, bersih, pede, wangi dan dilihat semua orang, eh, tahu-tahu yang saya jelaskan salah. Wadaw, ini sih judulnya ajang mempermalukan diri sendiri.

Belum lagi, di antara orang-orang yang melihat saya, ternyata ada yang sadar dan tahu bahwa saya membuat kesalahan dalam menjelaskan. Mereka pasti akan mengolok-olok saya. Mengolok-olok level ilmu pengetahuan saya. Dipandang remehlah, pokoknya. Bakal dicap cuma punya modal moncong, ilmu pengetahuan minus empat derajat Celcius.

Sialnya, olok-olokan tersebut bisa dijadikan stok lelucon di brankas mereka. Suatu saat pasti bisa dikeluarkan untuk menyerang saya. Atau, setidaknya, menjadi bahan di perbincangan-perbincangan mereka. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk menertawakan saya.

Masih mendinglah jika hanya menjadi olok-olokan, stok lelucon dan tertawaan mereka. Apalah itu. Masih sanggup saya terima. Namun, bagaimana kejadiannya jika mereka mematahkan penjelasan saya yang salah langsung di depan khalayak ramai? Penjelasan saya yang salah dikoreksi dengan telak di depan khalayak ramai. Aduh, ini yang paling kacau. Malunya berlipat-lipat. Ketahuan penguasaan ilmu saya belum mumpuni. Bisa jatuh marwah saya ke dalam jurang kenistaan. Mau ditaruh di mana muka saya? Tamat sudah. Tak ada lagi yang bisa dilakukan selain diam dan terpaku, serta cengar cengir bagai kambing. Mbeekk.

Terus, setelah mengembik sekambing-kambingnya. Ups, salah. Maksud saya, setelah mengambil keputusan tidak mau menjadi orang yang seperti sobat saya katakan, saya maunya menjadi orang yang bagaimana?

Nah, kalau saya, nih. Saya maunya menjadi orang yang mandi dua kali sehari. Pagi dan sore. Membersihkan perkakas-perkakas di badan dari daki-daki dengan air. Bukan itu saja, ada satu hal lagi yang tidak saya lupakan. Otak saya perlu dimandikan juga. Perkakas-perkakas di dalam otak perlu dibersihkan dari daki-daki dengan ilmu pengetahuan. Membaca, membaca, dan membaca. Masa otaknya tidak pernah dibersihkan sama sekali biar wangi sama ilmu pengetahuan. Perbanyak dan perdalam dulu ilmu pengetahuan, baru berbicara.

Tiba-tiba, ada suara yang menyahut dari dalam hati saya. Entah siapa, saya pun tak tahu. “Gayamuuu…sok perbanyak dan perdalam ilmu pengetahuan dulu. Kapan ngomongnya? Kapan munculnya? Lemah-lemaah. Jadinya nggak dikenal orang, kan? Nggak dapat job, kan? Nggak dapat proyek, kan? Tau akibatnya untuk hidupmu? Hidupmu terpuruk!”

Masa, sih? Memangnya hidup saya terpuruk?

Oh, shit, man! Hidupku terpuruk. Dan, diriku memang lemah. Lemah ekonomi.

Komentar

Komentar