Kegagalan Bertahan Hidup dengan Rambut Gondrong yang Bermartabat

Berkibarlah selalu rambut gondrongku. Tunjukkanlah kepada dunia, kita pantas ada.

Rambut gondrong adalah idaman sebagian para pria pencari kerja. Dulu, menurut beberapa teman saya yang istikamah dengan gondrongnya, rambut panjang itu mengesankan sikap rebel; pemberontak. Seolah-olah dengan gondrong, apalagi yang agak ikal, si orang ini telah dirasuki soul-nya Che Guevara. Jadilah ia seorang Che milenial yang sudah pasti tak boleh mengidap ideologi sosialis kominis yang terlarang itu.

Ada juga yang memanjangkan rambut demi mengikuti gaya artis tertentu yang menjadi idolanya. Dengan rambut panjangnya ia serasa mirip dengan sang artis. Walaupun kalau dilihat lebih dekat, kemiripannya sangatlah terpaksa.

Bahkan—yang ini luar biasa—ada teman saya yang sengaja memanjangkan rambut karena terinspirasi dari Baginda Rasulullah, yang menurut sejarah panjang rambutnya sampai ke atas kedua bahu. Subhanallah.

Dari ketiga hal itu, saya akhirnya tertarik memanjangkan rambut (lagi). Dulu, ketika masih mahasiswa saya sempat memanjangkan rambut walaupun hanya semampunya. Dorongan ini datang karena melihat kelakuan beberapa senior yang saban hari ke kampus membawa rambut gondrongnya yang selalu berkibar-kibar tertabrak angin. Mirip bendera yang tak pernah turun dari tiang.

Bermacam-macam model rambut gondrong mereka. Ada yang tipe gondrong Melayu, lurus ke belakang tapi ujungnya sedikit tergelung ke kuduk. Mirip tentakel gurita. Ada juga yang gondes alias gondrong desa. Yang ini saya tak tau kenapa nama desa dibawa-bawa dalam urusan rambut.

Ada pula yang gondrong dengan meniru gaya mafia Cina. Dicukur sisi kiri, kanan, dan belakang. Yang tinggal di bagian atas kemudian dikucir. Si pemilik rambut terkesan sangar. Dan memang iya, abang leting saya yang gondrong mafia Cina ini memang sangar sedikit brutal. Namun di balik itu, hati beliaw sangat lembut laksana kapas baru panen.

Tapi, bagi saya, urusan memanjangkan rambut sebuah perjuangan berat. Pertama, berat di ongkos. Uang saku jatah bulanan sebagai anak kost hanya sanggup menebus sampo sasetan di kios Bang Min depan rumah. Itu pun mereknya ganti-ganti karena pas sudah pake satu merek, pengen ganti lagi ke merek yang lain. Akibatnya, rambut saya pun rusak. Menurut seorang bijak di dunia persampoan, gonta-ganti sampo adalah sebuah syubhat.

Rambut saya yang tengah menapaki masa pertumbuhan pecah-pecah. Muncul warna semacam pirang yang tak enak dilihat dari jauh apalagi dekat. Mirip rambut anak tambak, kata seorang kawan. Beberapa bahkan mual melihatnya.

Seenggaknya bisa dibayangkanlah gimana perasaan saya saat itu. Beberapa kali batin ini tertekan. Ingin memangkas tapi mengingat suka-duka yang kami alami bersama, saya urungkan niat itu.

Kedua, berat di tindakan. Senior-senior yang menginspirasi (hmm, ada juga yang “mengipasi”) saya untuk gondrong ternyata tak memberikan tutorial lengkap cara bersikap sebagai mahasiswa gondrong. Salah satunya, ini yang terpenting: cara menghindari dosen.

Sudah bukan rahasia lagi kalau sebagian dosen, terutama yang wanita, sangat anti terhadap mahasiswa gondrong. Rambut panjang kerap dianggap semacam hama yang mengusik keindahan taman celosia bernama kampus.

Pada suatu hari yang cerah, ketenangan perkuliahan akan terganggu ketika dosen memicingkan mata ke seorang mahasiswa yang tafakur di sudut ruangan. Si mahasiswa terlihat khusyuk. Matanya tak terlepas dari buku. Seolah-olah ia sedang menemukan metode baru tentang cara mengawinsilangkan badak Jawa dengan harimau Sumatera. Padahal, ini cuma trik dia bertahan hidup dari amukan dosen tersebut.

Baca Juga: Beberapa Larangan untuk Mahasiswa Saat Bergelut dengan Skripsi

Ia terlambat sepersekian menit. Berkat naluri yang terasah bertahun-tahun, tanpa perlu dikasih tau, sang dosen sudah merasakan hawa kehadiran hama di dalam ruangan. Hawa-hawa dari mahasiswa yang tamat kuliahnya lebih lama dari anak SD.

Dia pun mendongakkan kepala, dan dengan ekor matanya yang tajam—karena sering diasah—dosen itu kemudian “mengusir” si mahasiswa tersebut dari ruang kuliahnya. Cukup dengan mata. Tanpa kata, tanpa nada.

Si mahasiswa pun terperangah. Padahal, ia sudah berusaha keras menyembunyikan kucir chipmunk-nya di balik kerah kemeja. “Kok bisa tau?” sungutnya dalam hati. Seketika, ia tak lebih mirip dari kecoa yang dihempas sapu ketika beringsut-ingsut menuju pintu. Langkahnya gontai, mukanya sedikit mewek, seperti baru siap nonton drakor.

Dalam hati ia bertanya lagi, apa pasal rambut gondrongnya bisa menjadi masalah? Dia ingin berargumen. Setidaknya memaparkan beberapa “dalil” bahwa rambut gondrong tidak terlarang di kampus. Mana ada peraturan kampus yang melarang mahasiswa memanjangkan rambut? Yang penting kan SPP lancar?

Belum sempat berujar sesuatu, langkahnya sudah tiba di depan pintu, saat dosen itu berkata: “Tolong tutup pintunya dari luar!”

Pintu ditutup. Ruangan yang sebelumnya dipenuhi gumam dan bisik seketika lengang kembali. Hama telah disapu, kuliah kini dilanjutkan kembali. Mahasiswa yang lain lebih memilih menyimak sang dosen ketika memikirkan apa yang bakal terjadi dengan hama itu.

Sementara di luar pintu, mahasiswa tadi menyeret sepatu pinjaman dari kawannya, menuju kantin, memesan segelas kopi, lalu “mengadu” kejadian itu kepada kawan-kawannya yang lain. Ceritanya tidak disambut dengan solusi tetapi ejekan, hinaan, dan an-an lain yang tak berfaedah sama sekali. Ibarat kata, sudah dihantam sapu, malah ketiban dandang.

Besoknya, si mahasiswa itu tak pernah masuk lagi mata kuliah tersebut. Di akhir semester, tanpa melihat KHS, tanpa perlu pergi ke dukun, dia sudah yakin akan mendapat nilai E. Bisa jadi malah X.

Sementara di kepalanya, rambut gondrong kini makin rusak dan bercabang. Dia ingin memotongnya hari itu juga ketika di kantin, seorang senior yang sedang bersemangat menyusun skripsi, bercerita hal yang mirip dengannya.

Senior itu mengatakan kasus yang dialami mahasiswa itu belum apa-apa, masih selevel rengginang. Senior ini bercerita, gara-gara kegondrongannya, dia pernah diminta menghadap seorang dosen yang memberikannya dua opsi: boleh masuk kuliah tapi rambut dipangkas. Atau sebaliknya, silakan gondrong tapi tidak boleh masuk mata kuliah si ibu dosen itu. Intinya, senior itu memilih opsi terakhir. Beliaw lebih memilih hidup bermartabat bersama rambut gondrongnya yang selalu berkibar diterjang angin puting beliung di atas robur, ketimbang menyerah pada si ibu dosen.

Singkat kata, cerita senior itu membuat si mahasiswa tadi merasa ada “teman seperjuangan”. Setidaknya ada orang yang bernasib sama dengannya di kampus yang permai dan terkenal hingga mancanegara itu. Ia pun memutuskan tak jadi potong rambut.

Namun, ketika tahun berganti dan robur sempat mogok beberapa kali, senior tadi mesti menghadapi sidang skripsi. Rambut gondrongnya terpaksa dibabat pendek karena ini syarat ikut sidang skripsi. “Abang udah nggak sanggup bertahan lagi, Dek. Maafin Abang ya, Dek,” ungkap si senior dengan galau ketika ditanya kenapa ia merelakan rambut gondrong ikal hitam legamnya itu di-make over ke cepak.

Walhasil, tekad si mahasiswa tadi untuk mempertahankan rambut gondrongnya seketika runtuh. Hari itu juga, dia memilih pulang cepat-cepat menuju pangkas Bang Man. Perjuangan selama dua tahun akhirnya pupus dalam hitungan menit.

Baca Juga: Romantika Sekuntum Rindu Dek Cut dan Dek Gam dalam Bus Lobur Mahasiswa

So, kalau itu perlakuan yang diterima di kampus, bagaimana di keluarga? Sedikit banyak hampir sama. Sama-sama ditolak dan ada yang hampir tak diakui sebagai anak. Bisa dibayangkan bagaimana seorang anak yang ketika dilepas orang tuanya di kampung untuk merantau ke Banda Aceh, rambutnya masih 2 senti, tetiba pulang membawa rambut gondrong lengkap dengan poni alakadar dan kuciran karet gelang.

Seorang senior saya di kampus berbeda bercerita, satu kali ketika pulang kampung, ia hampir tak dikenali lagi oleh orang tuanya. Bahkan, dengan tegas ayahnya memangggil dia dengan sebutan: Kak. Kecewakah dia? Saya kurang paham karena malas menanyakannya. Tapi beberapa pekan setelah kejadian itu, dia juga memutuskan memangkas rambutnya.

Dua tahun lalu, ketika sempat wara-wiri di kampus, saya tak menemukan lagi mahasiswa gondrong. Tak ada juga mahasiswa yang kuliah dengan sandal jepit, sandal gunung, baju kaos, atau jins butut dipadu ransel mungil yang sama bututnya. Mahasiswa sekarang kebanyakan bersepatu, berkemeja, dan wangi-wangi berkat parfum isi ulang.

Mahasiswa gondrong kemungkinan masih ada satu dua orang yang bertahan. Tapi, mereka sudah jadi spesies nokturnal yang langka. Keluarnya cuma malam karena tak sanggup menghadapi kejamnya kehidupan kampus saat siang. Berani keluar siang, sudah pasti diusir dosen. Tentu mereka tak mau jika tiap hari mesti tutup pintu ruang kuliah dari luar. Lebih baik mereka hidup bermartabat bersama rambut gondrongnya dan memilih dilupakan oleh dunia.

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here