Kesaktian Perangkat MikroTik yang Mampu Membagi Jaringan Internet Secara Adil dan Beradab

~ Yang bikin kesal kalo jaringannya ikut lockdown

Saya terlambat menguasai perangkat MikroTik. Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia komputer dan jaringan internet, wajib tau perangkat MikroTik.

Minimal pernah login Winbox-lah—teknisi jaringan pasti paham dan sumringah kalau dengar kata Winbox.

Sebelum melanjutkan ke paragraf kedua, saya yakin pembaca Breedie yang biasanya suka membaca curhat dan cerita-cerita receh lain di situs ini, pasti bingung dengan kata MikroTik dan Winbox. Ya, kan?

Jadi, tulisan ini sangatlah teknikal sekali. Nah, Akak-akak Bree yang suka baca resep masakan, saya rasa boleh di-skip sampai di sini saja.

Sayang, kan, sudah tulisannya panjang, bertele-tele, topik pembahasan masalah jaringan pula. Anak kuliah IT saja pusing tujuh keliling memahami isi dari dalam MikroTik itu seperti IP, DNS, Gateway, DHCP, Firewall, NAT, dkk.

Apalagi saya, duh, sangat bingung dengan istilah-istilah tersebut. Konon lagi Akak-akak Bree sekalian.

Tapi … ada tapinya.

Kalau Akak Bree mau buka bisnis warung pecel lele yang dilengkapi fasilitas WiFi, artikel ini wajib dibaca sampai habis.

Kalau pun tidak memahami, setidaknya Akak Bree tidak dikibuli oleh tukang pasang jaringan internet plus set up WiFi Hotspot di kedai pecel lele nantinya.

Kebiasaannya begini, tukang IT akan memasang tarif mahal bila menemukan pelanggan yang lugu kek anak kucing. Makin pelanggan tidak paham soal perangkat, makin naik harga perbaikan atau pemasangan.

Contoh yang sangat sederhana sekali adalah biaya install ulang perangkat smartphone di beberapa kedai dekat persimpangan jalan besar di kampung saya. Bisa tekor Rp150 ribu kalau tidak kenal orangnya.

Padahal kalau Akak Bree tau, pencet sendiri tombolnya reset HP yang selepe itu, urusan pun beres. Uang tadi bisa dipakai untuk beli belanjaan bawang dan kawan-kawan bahan ketahanan pangan hingga cukup setengah bulan.

Untuk kasus MikroTik ini kurleb sama. Siapa tau setelah membaca tulisan ini, Akak Bree sedikit banyak paham dan ini bisa menjadi “modal” untuk menego harga dengan tukang.

Jadi, entah kenapa tiba-tiba saya kepincut membeli perangkat MikroTik. Serasa mendapat wangsit dari endatu.

Tapi, kalau dirunut-runut lagi, yang pasti karena efek kelamaan lockdown.

Baca Juga: Hologram Corona

Akibat terlalu lama dikurung di rumah, orang-orang hijrah ke dunia maya yang bebas terbuka tanpa dihantui virus corona. Kalau pun bervirus, paling yang error cuma gadget, bukan kepalamu.

Gelombang hijrah yang terjadi secara besar-besaran ini diisi oleh pekerja yang work from home, pelajar yang study from home, seminar-seminar daring, konser-konser virtual, dan sebangsanya.

Mereka saling berdesak-desakan berebutan downlink di jaringan WiFi. Akibatnya, internet pun lambat.

Bayangkan itu terjadi di warung pecel lele Akak Bree. Sudahlah fakir internet, jaringan lambat, dan salah satu gadget dengan rakusnya melahap quota. Apa tidak cenat-cenut pelanggan yang lain?

Di sinilah diperlukan sebuah perangkat yang mampu mengatur arus jaringan internet secara adil, teratur, tertib, dan aman sentosa untuk setiap perangkat yang terkoneksi dalam satu jaringan WiFi.

Maka perangkat MikroTik itu ada. Kalau dianalogikan ke dalam bahsa yang sangat sederhana, MikroTik bak polantas pengatur arus lalu lintas.

Padahal sudah ada lampu merah dan rambu yang automatik untuk menertibkan lalu lintas, tapi masih ada pengendara yang nakal serobot arus.

Di dalam koneksi jaringan internet, analogi arus lalu lintas itu sama persis nggak ada bedanya.

Kalau jaringan WiFi Indihome di rumah sudah nambah quota masih lelet juga, pasti ada user curang yang selalu rakus quota.

Maka, sekali lagi, diperlukan MikroTik untuk membatasi quota secara adil dan beradab. Sehingga dalam satu jaringan semua anggota keluarga bisa berselancar aman tampa ada yang merampok jatah quota orang lain.

Sampai di sini saya rasa, akak Bree sudah sedikit pahamlah, ya, sama MikroTik. Centang yes biar kita lanjut ke tahap berikutnya.

MikroTik pada dasarnya sama dengan sebuah perangkat komputer. Dia memiliki sebuah keluarga harmonis yang terdiri dari processor, memory, dan hardisk.

Cuma bedanya, MikroTik dibuat spesial untuk mengatur secara spesifik dan mendetail manajemen jaringan internet.

Mikrotik RB952Ui-5ac2nD-TC dengan colokan USB Modem Huawei E3372. (© Breedie/Fauzan My)
Mikrotik RB952Ui-5ac2nD-TC dengan colokan USB Modem Huawei E3372. (© Breedie/Fauzan My)

Istilah keren untuk bagian pengaturan jaringan internet disebut dengan router. Kalau bingung memahami router, bisa disederhanakan konsepnya seperti “rute” dalam sebuah peta atau jalan raya.

Melalui perangkat MikroTik, bisa dibangun manajemen routing sehingga jaringan yang tadinya saling berebutan, saling terobos, dan adu jotos yang kuat perangkat rakus quota, menjadi lebih stabil dan adil.

Setiap user mempunyai jatah hidup quota speed downlink yang sama.

Biar lebih jelasnya, mari kita coba selesaikan kasus jaringan internet lelet di sebuah rumah yang dihuni keluarga bahagia.

Ada empat anggota keluarga menumpang hidup di rumah itu. Bapak bekerja sebagai karyawan bank, ibu guru kelas dan dua anak, satu SMA dan satu SMP.

Sebelum corona, rumah ini adem ayem koneksi internetnya. Semua orang mendapat jatah yang sama.

Eh, tiba-tiba datang corona yang mengharuskan orang-orang bekerja dari rumah. Dari sinilah, petaka dimulai. Semuanya jadi berantakan.

Si Bapak harus meeting via Zoom. Ibu masih bisa kirim tugas via WhatsApp. Tapi dua anak harus online terus. Antara belajar online, belum lagi main game, update stori Instagram, dan vical sama pacar.

Duh, ampun deh, jika dipakai dalam waktu bersamaan mereka pasti mencak-mencak karena jaringan Indiehome paket bulanan 10 Mbps akan terasa sangat lelet (pake banget). Belum lagi ada tetangga yang ikut numpang akses internet.

Di saat itu, perang Amerika-Cina rebutan akses internet pun terjadi. Si Bapak meeting online jadi putus-putus. Si ibu kirim salinan foto ke murid jadi lama.

Si anak yang lagi belajar online, diam-diam streaming Youtube pula untuk menambah mood belajar.

Nah, tetangga yang numpang internet gelap ternyata lagi download update software bajakan terbaru. Segede gaban file-nya, pakek IDM (Internet Download Manager) pula, tuh.

Hancur minah itu jaringan. Bak satu rusa dikeroyok tujuh ekor harimau. Ada yang bawa lari paha, ada yang dapat usus putus. Yang dapat kepala, ya, bisa gigit saja tanpa bisa menelan kenyang. Bahkan ada yang cuma dapat jatah jilat sisa darah di tanah.

Baca Juga: Modem Huawei MiFi Teman Setia Kala Malam Tiba

Itulah problem yang dirasakan sebagian orang yang WFH.

Solusinya, memasang perangkat MikroTik di jaringan WiFi Indihome. Saya nggak promo, ya. Toh, MikroTik itu sendiri sudah menjadi sebuah merek yang generik di kalangan instalasi jaringan.

Terutama bagi pebisnis jaringan tembak WiFi RT/RW, pasti itu senjata utamanya. Tampa alat itu, kolaps usaha meraka.

Belum satu bulan jalan, sudah dikomplain oleh pelanggan, dan akhirnya nggak dibayar, kerana jaringan yang didistribusikan tidak stabil.

Maka berterimakasihlah kepada perusahaan pencipta MikroTik yang tinggal di sebuah negara Eropa yang tidak begitu jelas tampak di peta itu.

Mereka menciptakan perangkat router dengan sebuah board komponen seukuran telapak tangan, yang cukup canggih, stabil, bisa online 24 jam tujuh hari tanpa henti.

Coba kalau komputer bersistem operasi windows yang ditugaskan mengatur jaringan, dua hari saja tidak dimatikan pasti akan hang.

Belum lagi konsumsi listrik komputer lumayan boros. Sedangkan MikroTik cukup ditenagai dengan sebuah charger handphone.

Itulah kenapa dinamakan MikroTik, karena ia memang komputer mikro yang berjalan pada sebuah board modul yang dirancang seefisien mungkin tapi tangguh.

Jadi, kembali lagi ke kasus keluarga tadi.

Singkat cerita, Si Bapak mendapat saran dari anak IT di kantornya untuk memasang MikroTik.

Hari berikutnya, Si Bapak dapat kiriman perangkat MikroTik yang sudah siap pakai, karena sudah diatur oleh anak IT tadi.

Setelah di pandu via WA call, Si Bapak cukup menyambungkan saja satu kabel dari modem Indihome ke perangkat MikroTik.

Maka jaringan WiFi di rumah langsung berubah nama SSID-nya menjadi beewifi.my.id, yang mengusung tagline internet segesit tawon.

Baca Juga: Melihat Cara Orang Kota dan Orang Desa Menggauli Internet

Beewifi ini mirip jaringan hotspot WiFi.id Telkom dong. Iya, dengan perangkat MikroTik kita bisa membuat sendiri sistem jaringan sendiri layaknya WiFi.id Telkom.

Setelah MikroTik terpasang, koneksi internet di rumah keluarga bahagia itu menjadi lebih stabil dan adil.

Kini, daging seekor rusa dibagi sama rata jatahnya untuk tujuh harimau, macam tumpukan daging kurban. Akses internet pun sama cepatnya.

Bahkan, untuk si tetangga yang rakus quota, tidak bisa lagi ngegas quota suka-suka dia. Seberapa hebat di punya perangkat gadget kalau jatahnya 256 kbps, ya, itu sudah jadi deritanya.

Kalaupun dia ngegas download atau ditancap perangkat WiFi eksternal, tambah aplikasi IDM, tetap speednya 256 kbps karena MikroTik telah mengaturnya demikian.

Sungguh sebuah perangkat yang sangat sakti bukan? Makanya, jangan macam-macam sama MikroTik.

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here