~ Eee … Edge

Bulan lalu, saya membuka laptop milik teman yang memakai sistem operasi windows 10. Ini sistem operasi terbaru yang dirilis Microsoft. Pertama membuka kelihatan benar si empunya laptop cuma sesekali memakai itu barang. Waktu booting alias jeda terkuras begitu lama mulai sejak menekan tombol power hingga ikon start windows muncul. Hampir habis berbatang-batang, tuan belum datang, kata Iwan Fals.

Waktu yang dihabiskan begitu lama itu karena biasanya, begitu banyak program yang dipaksa berjalan pada startup tanpa dimatikan atau di-dasble. Saya tak membuka task manager untuk mengeceknya tapi begitu melihat di bagian notifikasi ada sekitar delapan program yang berjalan. Ada antivirus, update ini, program itu, dll. Wajar berat.

Padahal, di secarik stiker yang tertempel di badan laptop tertera keterangan memory RAM mencapai 4GB. Memory sebesar ini diyakini sudah mampu menjalankan windows 10. Apalagi, keperluan laptop kawan saya itu cuma untuk browsing, mengetik, dan menonton video. Selemah-lemah iman, laptopnya nggak akan menjerit jika dipaksa memainkan game PES 2013, misalnya. Namun, kawan saya tak melakukan itu. Ia tak butuh game. Hidupnya jauh dari suntuk.

Yang jadi pokok tutur adalah peramban yang digunakannya. Ketika ia menyentuh ikon “e”, saya bilang pake Chrome saja. Dia jawab,”Edge ini oke punya juga, beda dengan IE jadul.” Saya menarik alis setinggi-tingginya. Iyakah?

IE yang dimaksudnya adalah Internet Explorer, peramban milik Microsoft yang terkenal “lemah syahwat” itu. Jika mau jujur, setiap kali melihat ikon IE itu, saya mual. Terbang pemikiran di benak saya, kok ada browser yang lambatnya bukan main, dan pengaturannya juga begitu ribet. Akibatnya, bertahun-tahun saya dibuat jatuh hati oleh Mozilla Firefox. Bahkan ketika Google Chrome muncul dengan segala kemurahan hatinya, saya tak mau move on.

Ketika laptop lama rusak, saya kemudian baru beralih ke Chrome. Penyebabnya, ketika membandingkan siapa yang lebih cepat bekerja di antara keduanya. Namun, pindah ke Chrome bukan berarti melupakan Mozilla. Saya pakai Chrome untuk keperluan pribadi seperti email sementara kebutuhan pekerjaan memilih Mozilla. Sialnya, ketika membuka banyak tab di kedua browser, laptop baru saya yang berjalan dengan memory 4GB bisa bengap seketika.

Namun, Edge kini menarik perhatian saya. Entah kenapa. Mungkin gara-gara teman tersebut. Saya pun mencobanya setelah menurunkan alis serendah-rendahnya. Fitur pertama yang menarik perhatian adalah ekstensi. Ekstensi atau extension merupakan program kecil yang dapat ditambahkan pada peramban untuk memudahkan kinerja. Misalnya, ekstensi penghadang iklan Adblock.

Edge, awalnya dikembangkan di bawah nama kode Project Spartan. Resmi dirilis pada 29 Juli 2015. Edge disebut tak mendukung teknologi warisan dari kakaknya, IE, seperti ActiveX dan Browser Helper Objects. Sebagai gantinya, ada ekstensi itu. Untuk menjangkaunya bisa diklik di ikon tiga titik di kanan atas peramban (setting and more) atau lewat kombinasi keyboard Alt+X lalu pilih ekstensions. Akan muncul aplikasi microsoft store sebagai tempat memilih ekstensi. Ada yang gratis maupun berbayar.

Oya, sebelum ke situ, ketika pertama kali membuka peramban akan muncul penawaran akan memakai bahasa yang mana. Saya pilih Bahasa Indonesia. Awalnya saya pikir semua perintah dan nama fitur bakal berubah ke bahasa tercinta kita. Ternyata tidak, semua tetap English. Okelah nggak apa-apa.

Edge yang merupakan peramban bawaan windows 10 ini menggunakan mesin pencari Bing. Bedakan dengan Bieng, ya. Bing ini reinkarnasi dari beberapa mesin pencari milik Microsoft sebelumnya seperti Live Search, Windows Live Search, dan MSN Search. Namun, di Edge ini Microsoft sepertinya tak mau memonopoli Bing sebagai mesin pencari satu-satunya secara otomatis. Pengguna bisa menggantinya dengan Google, Duck Duck Go, Presearch atau yang lainnya. Pencet Alt+X lalu pilih settings > advanced > address bar search > change search provider. Lalu set as default peramban yang mau digunakan. Jika Google tak muncul di antara daftar peramban tersebut, buku lebih dulu halaman google.com, lalu akses kembali ke change search provider.

Dari segi tampilan, Edge juga memiliki dua tampilan tema, dark dan light. Tema gelap atau dark setidaknya lebih ramah untuk mata. Tema tersebut sejalan dengan update terbaru Windows 10 (versi 1809) pada bulan ini. File explorer windows 10 sekarang juga bisa diubah ke pilihan bernuansa gelap seperti Edge.

Yang tidak kalah menarik adalah adanya tabs you’ve set aside. Fitur ini memudahkan pengguna yang suka membuka banyak tab. Ketimbang bertumpuk dan judulnya susah terbaca lebih baik dikelompokkan ke fitur ini. Letaknya di kiri atas peramban. Cari saja sets this tabs aside lalu klik maka semua tab akan berkumpul di situ. Jika browser ditutup, ketika dibuka lagi tab-tab itu masih ada di tempatnya.

Fitur lain adalah read without distractions atau membaca tanpa gangguan. Alat ini berguna kalau kamu suka membaca artikel-artikel panjang tanpa mau terganggu oleh apapun dan hanya fokus ke teksnya saja. Mirip fitur toogle reader view di Mozilla.

Ada banyak fitur menarik lain di Edge seperti memerintahkan Cortana mencari informasi terkait isi halaman yang kamu baca. Tahu kan Cortana? Kalau tidak tahu tanya saja sama yang bersangkutan. Silakan saja dieksplorasi sendiri. Sekaligus juga untuk membuktikan klaim Microsoft bahwa peramban ini lebih cepat dibandingkan yang lain. Sementara, saya masih menimbang-nimbang apakah bakal berpindah ke peramban ini atau tidak.

Komentar

Komentar