Melawan Gravitasi: Kisah Gadis Pidie Penakluk Punggung Bumi

Siang cerah di kawasan Curug Cisanggarung, Bandung Timur. Bebatuan karst menjulang perkasa ke langit bersih. Seperti sebuah kastil kuno yang penuh tantangan.

Seorang gadis berperawakan kecil namun tangguh, merayap mantap di sepanjang dinding karst yang nyaris tegak lurus. Ia sangat cekatan. Tangan dan kakinya seperti punya mata, memilih tempat berpijak pada batu yang tampak rata bagi orang awam.

Namanya Fitriani. Sepintas menatap wajahnya, senyumnya yang ramah dan terbuka jelas menggmbarkan darah Aceh yang mengalir dalam tubuhnya.

Gadis kelahiran Sigli beberapa dekade silam ini adalah atlet panjat tebing andalan Kabupaten Pidie. Ia berada di Jawa Barat untuk menambah ilmunya di olahraga ekstrem yang ditekuninya sejak bergabung dengan organisasi pencinta alam di kampusnya, Universitas Jabal Ghafur.

“Sejak awal saya memang suka olahraga ekstrem. Makanya bergabung dengan Mapala Jabal Everest,” Fitriani, akrab dipanggil Purcel, menyebut nama organisasi pencinta alam yang membesarkannya.

“Mula-mula saya ‘sekadar’ menggemari olahraga alam bebas saja. Namun kemudian saya dikenalkan pada olahraga panjat tebing. Saya langsung jatuh cinta. Saat harus mengambil ‘spesialisasi” ketika akan menjadi anggota penuh di Mapala Jabal Everest, saya mengambil bidang panjat tebing. Sejak itu saya semakin kasmaran pada olahraga ini.”

Baca Juga: Makna Menonton Langsung MotoGP di Sirkuit dari Kacamata Seorang Perempuan

Pendukung awal Purcel menekuni olahraga panjat tebing antara lain Zian Mustaqin, salah seorang pendiri Mapala Jabal Everest. Zian adalah sosok yang menghidupkan kembali FPTI atau Federasi Panjat Tebing Indonesia Kabupaten Pidie. Purcel juga didukung seniornya yang lain, Buchari.

Berbanding terbalik dengan para seniornya di Mapala, awalnya keluarga Purcel tidak gembira dengan kegiatan Purcel di bidang panjat tebing. Alasannya, menurut mereka olahraga ini lebih cocok untuk lelaki.

Purcel bahkan sempat kena “bully”, ada beberapa orangtua kawannya yang melarang anak mereka untuk bergaul dengan Purcel. Katanya, karena “pekerjaan Purcel tidak jelas”, dan karena Purcel “main gabung bersama anak-anak laki-laki”.

Namun demikian, Purcel tidak lantas jadi kapok. Ia memutuskan untuk terus mendalami passionnya di panjat tebing. Gayung bersambut, Purcel didaulat menjadi atlet Kabupaten Pidie sejak tahun 2014.

“Waktu mulai berlaga sebagai atlet, saya merasa bahwa kemampuan saya ada di bawah rata-rata,” cerita Purcel. Gadis bermental baja ini tidak patah semangat. Ia justru tertantang untuk terus memperbaiki kemampuannya. “Kalau atlet lain bisa, kenapa saya tidak,” Purcel tersenyum.

Bukan panjat tebing saja yang ditekuni Purcel dengan segala passionnya. Pada 2017 ia memperoleh beasiswa pelatihan Female Media Champion dari USAID Lestari, bersama sekitar 20 perempuan pemerhati lingkungan dari lima kabupaten dan kota di Aceh.

Selama setahun ia dilatih memahami isu-isu gender dan konservasi, khususnya untuk kawasan Leuser, salah satu berlian paru-paru dunia. Ia juga dilatih untuk merancang kampanye menggunakan media sosial dan media lainnya, terkait isu-isu tadi.

“Kami dilatih oleh ahli di bidangnya. Tentu saja, ini memperkaya pengalaman saya,” kata Purcel. “Selain pelatihan itu, saat itu saya juga mengikuti persiapan Pekan Olahraga Aceh (PORA) di Kabupaten Aceh Besar tahun 2018,” lanjut Purcel.

“Selama persiapan PORA itu, dua tahun lebih saya harus tinggal di Banda Aceh agar bisa berlatih. Karena Kabupaten Pidie belum memiliki sarana yang memadai. Terus terang, saya sangat kecewa ketika gagal meraih medali. Rasanya, dua tahun berlatih jadi sia-sia belaka.”

Pada POR Aceh 2018, Purcel kalah hanya dengan selisih dua setengah detik dari saingannya. “Untuk kategori Speed Track, saya mencatat waktu 16.25 detik sementara lawan unggul dengan 14.15 detik,” kata Purcel.

Purcel Berlatih di Bandung
Purcel Berlatih di Bandung

Tapi putri keempat dari delapan bersaudara putra-putri Bapak Arbenni dan Ibu Maryam ini tidak lantas putus asa. Tekadnya untuk lebih menambah ilmu di bidang panjat tebing semakin menyala.

Sebuah pintu ke arah kemajuan terbuka bagi Purcel dalam bentuk pelatihan yang diselenggarakan oleh VRI atau Vertical Rescue Indonesia. Lembaga yang dikomandani oleh Tedi Ixdiana ini mengadakan pelatihan untuk instruktur panjat tebing, selama satu bulan di Curug Cisanggarung. Tempat berlatih ini terdiri atas sederet perbukitan karst, yang sekaligus merupakan Markas VRI. Lokasinya di Bandung Timur.

“Pelatihan di sini terdiri atas tiga tahap,” jelas Purcel. “Kalau sudah selesai satu tahap, baru bisa mendaftar ke tahap berikutnya. Di sinilah saya baru paham bahwa teknik belaying—teknik memegang tali panjat agar aman jika terjatuh—di alam bebas SOP-nya lain dengan teknik belay untuk sport. Banyak sekali ilmu yang saya dapat di sini.”

Kini Purcel sudah menyelesaikan tahap awal pelatihannya di VRI. Ia tengah menunggu ujian, serta dibolehkan mendaftar untuk tahap selanjutnya.

“Pulang ke Sigli nanti, target saya adalah menjadi pelatih olahraga panjat tebing untuk regional Aceh. Selama ini saya sudah mulai merintis melatih di Mapala Jabal Everest, juga di Mapala-mapala kampus lain, dan di Ranting Pramuka binaan Kodim Sigli. Saya juga akan melatih di FPTI Pidie. Namun target saya yang lebih besar adalah ‘buka jalur’ pendakian untuk tebing-tebing yang ada di Aceh, di Kabupaten Pidie khususnya,” ungkap Purcel penuh semangat.

Purcel bukan hanya menyintai olahraga panjat tebing. Ia juga jatuh cinta pada ORAD atau Olahraga Arus Deras, seperti rafting (menyusuri sungai dengan perahu karet). Pidie yang memiliki beberapa sungai yang dapat disusuri, menjadi sasaran Purcel melepas rindu pada arus yang bergelora. Bagi Purcel, alam adalah kawan bemesra dan sumber inspirasi yang tak pernah ada habisnya.

Gadis penyuka kopi yang tak pernah enggan menyingsingkan lengan baju untuk membantu orangtuanya di sawah ini, adalah satu dari hanya tiga perempuan pelatih panjat tebing berlisensi nasional di Aceh.

Baca Juga: Surat dari Aceh untuk 32 Saudaranya

“Filosofi hidup saya, Tidak ada perubahan tanpa pergerakan,” tegas Purcel. “Jangan takut untuk keluar dari zona nyaman. Karena di luar sana ada sangat banyak ilmu yang bisa dipelajari, dikembangkan, dan diamalkan. Tugas kita adalah mencari dan memahami potensi diri, kemudian berusaha untuk mencapai titik maksimal dari apa yang menjadi passion kita itu. Untuk itu tak ada cara lain selain belajar, berlatih, belajar, berlatih, berlatih dan berlatih lagi,” ungkapnya bersemangat.

Fitriani a.k.a Purcel
Fitriani yang akrab disapa Purcel

Sabtu, 6 Maret 2021, Purcel memiliki satu hari senggang di tengah jadwal latihan yang padat. Ia memanfaatkan waktu untuk mempelajari karakteristik tebing-tebing karst Cisanggarung, sepotong surga tersembunyi di kawasan Bandung Timur, Jawa Barat. Saya juga memanfaatkan waktu senggang itu untuk melengkapi wawancara dengan lulusan Pendidikan Biologi Universitas Jabal Ghafur, Sigli, Aceh, ini.

“Terpilihnya Sigli sebagai tuan rumah POR Aceh tahun ini akan saya jadikan momen membuka peluang untuk lebih meningkatkan prestasi,” kata Purcel. “Semoga dunia panjat tebing di Pidie khususnya, dan di Aceh umumnya, akan lebih bersinar lagi selepas momen ini,” ucapnya penuh harap, menutup rangkaian percakapan kami.

Maju terus Purcel!

KOMENTAR

3 KOMENTAR

    • Purcel ini mumpuni: berani, tangguh, tapi juga lembut hati, sangat peduli pada sesama…. Pendeknya, perempuan jempol!

  1. MashaAllah, baru sempat baca sampe habis.
    Hehehe
    Terimakasih banyak atas dukungan nya kakak2.
    Kak dian, terimakasih banyak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here