For ‘Lukman’, Sebuah Film Tak Jadi Benar

~ The luck man movie

Beberapa pekan terakhir penikmat film di Aceh bisa menonton film-film pendek hasil garapan para sineas yang unjuk gigi di kompetisi film pendek Badan Narkotika Nasional Provinsi Aceh.

Namun, dari sekumpul judul, ada satu film yang menarik perhatian untuk saya tonton. Film tersebut berjudul ‘Lukman’.

Telat? Ya, memang saya akui sangat telat karena baru menontonnya sekarang. Padahal, begitu banyak orang telah memberi tepuk tangan di media sosial; memuji film ini.

Ada alasan-alasan yang perlu saya beberkan seperlunya saja di sini untuk menjawab pertanyaan—jika ada yang bertanya—kenapa saya telat menyaksikan ‘Lukman’.

Pertama, dari awal kemunculan film itu, saya memang tidak se-excited orang lain untuk menontonnya.

Kedua, sampai sekarang—maaf—saya masih suka underestimate dengan film-film nasional.

Jadi memang, film produksi Indonesia belum pernah menjadi daftar wajib tonton buat saya. Yang jadi daftar wajib tonton bagi saya kebanyakan film barat sesekali Korea.

Sekali lagi maaf, bukan bermaksud melecehkan film nasional.

Namun bagi saya hanya ada beberapa film nasional yang memang benar-benar bermutu. Baik dari segi cerita, akting para pemain, pesan yang disampaikan, maupun sinematografinya.

Hingga akhir pekan lalu, saya pun memberanikan diri menonton ‘Lukman’. Lebih karena didorong oleh rasa penasaran dan dipicu haba dari radio bergigi bahwa banyak aneuk muda Aceh membicarakan film ini.

Baca Juga: Daftar Film Akhir Pekan yang Jarang Terdengar

Katanya, film tersebut bagus, menyentuh, begana, begini, bla … bla … bla … hantu blau dan sebagainya.

Akhirnya setelah menonton, ini yang saya dapatkan dari ‘Lukman’.

Pertama, akting para pemainnya tampak kaku.

Saya tidak tahu apakah karena aktor dan aktrisnya yang jelek berakting atau karena skenarionya yang jelek.

Kalau dari segi aktor dan aktris saya rasa tak mungkin. Dari mata saya yang tidak berkacamata, mereka saya nilai sebagai pemain-pemain film berpengalaman.

Kecuali sepasang orang tua yang berperan menjadi arwah dari bapak dan ibu Lukman.

Kedua, diceritakan tokoh Lukman seorang buruh cengkeh yang hidup di bawah tekanan ekonomi.

Tetapi dalam film itu yang mengidentifikasi bahwa dia seorang buruh cengkeh hanya pakaiannya saja.

Itu pun sudah tidak relevan lagi. Menimbang kenyataan bahwa buruh-buruh di era 4.0 sekarang tidak se-menyedihkan itu lagi dalam segi mode.

Hal tersebut menyiratkan masih ada jarak yang terbangun antara Lukman dengan profesinya.

Mungkin ini berhubungan dengan script yang kaku. Setidaknya seperti itu yang saya lihat dalam film tersebut.

Selanjutnya mari kita masuk ke pembahasan penulisan cerita.

Setelah menonton film ini seketika saya teringat guru pelajaran Bahasa Indonesia saya di SMA. Beliau pernah bilang kalau ingin membuat sebuah cerita—terutama fiksi—yang bagus itu diawali dengan hal yang biasa dulu; datar.

Lalu, lama-lama naik. Lama-lama makin kelihatan konfliknya sampai memuncak. Setelah itu baru turun lagi. Mulai ada penyelesaian konflik dan akhirnya datar lagi.

Inilah alur cerita atau sebagian orang memanggilnya dengan sebutan plot.

Dari beberapa fiksi yang pernah saya baca dan tonton, akan lebih bagus lagi ketika di tengah-tengah cerita menuju konflik utama, diselipkan konflik-konflik kecil yang langsung terselesaikan.

Namun, beda ketika saya menonton ‘Lukman’. Jalan ceritanya dari yang datar tiba-tiba langsung naik ke konflik utama.

Ceritanya sangat datar, hanya menceritakan dari mimpi Si Lukman menuju ke percakapan dengan orang yang tidak jelas perannya, yang membahas persoalan menghasilkan uang dari narkoba.

Itu pun percakapan yang terjadi di atas sepeda motor saat berpapasan di jalan.

Bahkan ketika akan mulai memuncak, tiba-tiba ceritanya datar lagi, saat Lukman menuju ke kuburan orang tuanya untuk berziarah.

Namun, tiba-tiba di tengah perjalanan pulang dari kuburan, konfliknya sudah memuncak. Saat munculnya arwah ibu dan bapak Lukman di siang bolong.

Saya bukannya terharu atau tegang tapi malah melongo, kok, tiba-tiba begini?

Tadi kayaknya jalan cerita masih datar, kok, tiba-tiba sudah ada semacam wejangan dari arwah tersebut untuk tidak menjadi penjual narkoba.

Isi nasihatnya menegaskan seolah-olah Lukman sudah kukuh mengiakan ajakan dari abang-abang yang ia jumpai di tengah jalan untuk menjadi penjual narkoba.

Padahal, dalam ceritanya tidak terlihat bahwa Lukman mengiakan ajakan tersebut.

Baca Juga: Ketika Narkoba Tak Pernah Jadi Musuh Bersama

Di satu sisi, kemunculan arwah di siang hari juga menjadi tanda tanya besar bagi saya. Motifnya apa? Menurut saya itu aneh.

Overall, saya paham kenapa banyak aneuk muda Aceh membicarakan film ini. Tabik saya buat kru dan pengarah film ini.

Tidak saya pungkiri bahwa memang ada sisi inspiratif dari ‘Lukman’. Cuma mungkin pengemasannya kurang maksimal.

Yang jelas akan lebih inspiratif lagi ketika kau mengalami sendiri bagaimana rasanya hidup di bawah tekanan ekonomi.

Itu yang pernah saya pelajari sendiri dari perjalanan menempuh hidup di bawah tekanan ekonomi, TANPA HARUS MENONTON FILM INI!

Maju terus perfilman Aceh.

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here