~ Mac memang keren, tapi laptop-laptop windows adalah petarung yang sesungguhnya

Saya buat judul ini dengan nada merajuk. Jujur saja, dari beberapa tips yang dipamerkan di Breedie menyasar para fanboy. Penggemar macos itu dimanja dengan story-story tentang mac. Saya kan keki, jadinya. Pegang mac tak pernah, seumur hidup cuma berpindah dari windows xp sampe windows 10 sekarang. Sial. jengah juga sih, tapi apa daya, kantong belum mampu berbicara.

Tapi buat para pengguna windows, tenang, berkawanlah kita. Sebagai sesama pengguna windows kita perkuat barisan. Eh, kalau pengguna Apple disebut fanboy, kita cocoknya dipanggil Winboy? Bisa begitu? Kesannya nggak kreatif, ah, biarlah, Bro.

Sekarang mainan saya Asus X441U. Laptop yang masih cupu dibandingkan yang Breeders pakai sekarang. Ini hadiah dari kantor setelah mereka kasihan melihat saya tak mampu membeli laptop. Ya, pengguna Windows emang banyak yang miskin meukuwien.

Laptop pertama saya Benq. Body-nya montok dikit. Laptop itu saya peroleh sekitar tahun 2010. Sistem operasinya masih XP. Itu lho yang desktop-nya foto pemandangan sebuah padang rumput berbukit tanpa semak berduri. Memorinya 512MB. Eits, jangan menghina dulu, kawan. Memori sekecil itu tangguh dimainkan games sekelas Pro Evolution Soccer alias PES 2006. Walaupun game tersebut sudah rilis bertahun-tahun sebelumnya dan baru saya mainkan di tahun itu.

PES saya mainkan dengan kartu grafis AMD. Lumayan jera juga. Begitu PES dimainkan, kipas laptop akan sawan seketika. Bunyi suwingnya melebihi suara baling-baling helikopter BLack Hawk Down (ini bukan merek tapi judul film). Si Benq langsung kejang seketika tanpa perlu disuruh. Suhu badannya langsung naik melebih panas kompor. Jika begitu, kerap kali ia mati tanpa disuruh.

Untuk menjaga supaya PES lancar jaya dimainkan, saya menaruh kipas di bawahnya. Lumayan, walaupun ujung-ujungnya setelah dua jam, ia mampus lagi dikoyak-koyak sepi.

Namun, berbulan-bulan setelah itu baru saya tahu kenapa si Benq win XP ini sering mati. Rupanya dari empat baut yang mengikat chipnya, satu hilang. Saya cari-cari tak ketemu. Mau beli ke toko malas, takutnya dikasih baut antena TV.

Akhirnya, salah satu baut body laptop saya copot dan pasangkan di situ. Tak cocok sih, tapi mau bagaimana lagi, yang penting mengikat.

Saat seliweran ke Google, ada yang sarankan chip dilapisi odol supay kuat mencengkram. Saya lakukan itu. Kasus mati mendadak hilang. Tapi dua pekan kemudian kambuh lagi. Lama-lama, stok odol di kamar mandi saya menyusut.

Tak cuma PES, game lain yang bisa dimainkan di situ adalah Need For Speed alias NFS. Saya tak ingat NFS edisi berapa tapi pengaturan kualitas gambarnya harus low. Jika disetel high, si Benq langsung ngeden di tempat.

Game yang lain, Deadliest Catch Storm Alaska. Ini game kapal pencari ikan. Lumayan oke, walaupun gambarnya sering slow motion. Minimal suara ombak dan burung-burung terdengar jelaslah.

Pernah juga Benq ini saya pasangkan Linux Ubuntu menjadi dual boot. Artinya, di laptop “busuk” itu ada dua sistem operasi berbeda. Lumayanlah, kalau bosan di Windows pindah ke Ubuntu.

Apakah Mac kepunyaan fanboy bisa dual boot? Dulu mana bisa. Sekarang saja sudah ada tren begitu. Itu pun cuma edisi Mac Pro keluaran akhir 2013 yang bisa. Sedangkan Mac mini yang tahun 2012 punya. Artinya, pengguna Mac lawas memang tidak disarankan memasang OS lain. Kasihan nggak tuh? Mau berekspresi saja susah, semua dibatasi. Lama-lama fanboy jadi kayak warga Korut, semua diatur negara, heuheuheu…

Kenapa harus itu yang dipaparkan? Supaya Breeders paham sejauh mana ketangguhan laptop tersebut. Game bisa, dual boot bisa, konon lagi browsing, nonton video, atau sekadar mengetik, ya kecillah Bro…

Walaupun sering kumat, saya sayang sekali sama Benq itu. Pernah ia saya ajak berhujan-hujan sepulang dari kantor. Sampai di rumah ia ikut kuyup. Begitu dimiringkan, keluar air dari body-nya. Setelah dijemur beberapa hari hingga gosong, ia kembali siap tempur mencetak gol atau mancing ke Alaska.

Tapi, sebandel-bandelnya bandet, suatu hari tobat juga. Setelah sering kena BSOD alias Blue Screen on Death, Benq ini berhenti beroperasi selamanya. Saya tak mampu lagi mengurusnya. Terlalu banyak energi saya yang terkuras ketika harus menginstall ulang berkali-kali.

Setelah dia pergi, yang bisa saya lakukan cuma mengambil harddisk. Nahasnya, ketika dicolok ke komputer lain, harddisk itu masuk kategori totally broken. Tak ada satu pun data saya terselamatkan.

Bertahun-tahun setelah itu saya membeli lagi laptop bermerek ngAsus. Warnanya putih. Beda dengan Benq yang hitam mutlak. Asus putih ini RAM-nya 1GB. Lumayanlah, ada peningkatan. Harganya cuma lima juta dollar rupiah.

Yang bikin saya girang, PES 2006 dimainkan tanpa kesulitan. Tapi, saat itu saya mulai kepincut PES 2013 walaupun memang tetap ketinggalan tahun rilis. Namun, ketika diinstall, PES 2013 ini mengulah. Setelah mengandalkan patch dan crack ilegal, diutak-atik, barulah lancar dimainkan.

Asus ini juga dijadikan dual boot. Satu boot untuk windows vista, satu lagi untuk linux ubuntu. Belakangan, Ubuntu saya buang, diganti dengan Kali Linux. Lalu vistanya juga diganti windows 7.

Asus putih ini lebih banyak dipakai untuk bermain PES 2013. Ia seolah menjadi rental PS berjalan. Di mana pun ada yang mengajak bertanding, dia selalu dibawa. Warung kopi oke, di kantor pun jadi. Cukup dipasangkan stik PS, game bisa dimainkan pengguna tanpa dipungut bayaran. Rekor terpanjang yang pernah ia pegang, dipakai bermain PES 2013 dari sore hingga ayam berkokok.

Di Asus ini cuma game itu saja yang terpasang. Saya tidak berminat menaruh game lain karena memang tidak suka. Jika ada pun, susah sekali dipasangkan. Paling mentok IGI2 tapi saya tidak minat untuk menembak-nembak orang.

Tak seperti adiknya Benq, Asus ini tidak pernah bermasalah dengan BSOD. Pernah ia kelelep virus saking banyaknya tapi setelah itu normal kembali.

Yang menjadi masalah justru perawatan. Warna putih badannya itu langsung terlihat kotor walaupun cuma seekor lalat saja hinggap. Karena agak capek membersihkannya, saya akali dengan menempel aneka rupa stiker di body-nya. Ia pun mirip anak punk; lebih sangar tapi tidak menakutkan.

Puncak masalah adalah PLN. Chargernya hangus akibat listrik yang byar pet. Waktu itu selepas magrib, hujan rintik-rintik. Listrik mendadak mati lalu kurang dari 10 detik hidup lagi. Waktu itu, posisi charger bertengger di stop kontak. Baterai si Asus tengah merangkak naik menuju 100 persen.

Awalnya saya cuek. Menjelang pukul 10, muncul peringatan baterai low. Seterusnya yang terjadi adalah kepanikan sejati.

Beruntungnya, setelah dirogoh-rogoh ada charger lain yang nganggur karena laptopnya bermasalah. Syukurlah, bentuk ujungnya sama. Ketika dicolokkan, charger itu mampu mengaliri arus ke baterai.

Asus ini menjadi tempat saya menyalurkan hobi membersihkan kipas. Tau sendiri kipas laptop. Jika jarang dibersihkan, debunya bertumpuk. Akibatnya suara kipas bakal terdengar berat. Cek kipas laptopmu Breeders, siapa tau ada anak kecoa mati di situ.

Sebagai orang yang tidak pernah kursus laptop, mulanya susah juga membongkar Asus itu. Baterainya di dalam. Kabel-kabel keyboard tersambung ke papan sirkuit. Mencari sisi untuk membongkar lewat tepi body juga rumit. Mesti pakai uang logam. Itu saya tahu setelah “kursus singkat” di YouTube.

Berbeda dengan Benq. Baterainya berada di luar. Membukanya cukup pakai obeng pipih. Sekali songket langsung terbuka.

Karena semua ada masa pakai, Asus putih ini kemudian menyerah saat waktunya tiba. Persoalannya adalah, kabel kecil penyambung ke charger putus. Harusnya bisa disolder tapi saya memutuskan untuk tidak memakainya lagi. Cukup mengambil harddisk-nya sebagai kenang-kenangan. Untunglah masih bisa terbaca datanya.

Jadi, mainan saya sekarang seperti disebutkan di atas adalah Asus X441U. Tidak dijadikan dual boot. Sedangkan game-nya sudah agak canggih: PES 2018 dan FIFA 2018. Lumayan kan? Tak terlalu ketinggalan zaman now. Saya juga menambahkan Mudrunner; game tentang offroad dan pembalakan liar.

Baterai Asus X441U ini tahan hingga dua jam jika dipakai menonton, membaca, dan menulis. Memorinya 4GB, HDD 500GB. Jantung mesinnya dipompa dengan Intel Core i3 dan kartu grafis Nvidia Geforce. Tapi, garansinya cuma dua tahun.

Duh, kenapa ya, laptop-laptop untuk windows itu rata-rata umurnya begitu singkat seperti usia batang toge? Apakah para penciptanya sudah mengadopsi pepatah mati satu tumbuh seribu? Kalau laptop windows-mu rusak, tenang, kami buat versi baru, mungkin begitu kata mereka.

Wajar kalau akhirnya winboy tak usah pilih tanding dengan fanboy. Apa yang mau diadu, coba? Dari segi tampilan luar dalam, Fanboy bisa bilang, kami ini mentereng. Lalu patutkah Winboy menjawab, kami juga lho, biarpun pasaran? Tidak Ferguso. Jawab saja, kami memang lemah soal garansi tapi kamilah para petarung sejati yang kau cari itu, Pulgoso!

Komentar

Komentar