Ingin Jadi Apa?

~ Alien, alien apa yang pas?

Saat kelas enam SD, sekitar tahun 1990, guru saya menyuruh setiap muridnya untuk menuliskan cita-citanya pada selembar kertas dan mengumpulkannya. Saya tidak ingat lagi maksud dan tujuan guru saya dengan tugas ini.

Yang saya ingat, kepercayaan diri saya membubung tinggi ketika menulisnya.

Saya merasa keren dengan cita-cita saya, dibandingkan dengan cita-cita teman lainnya yang ingin jadi pilot, dokter, polisi, dan tentara. Di kertas saya tertulis: cita-cita ingin menjadi Insinyur Teknik Nuklir.

Sama seperti mata yang buram seiring bertambahnya usia, cita-cita saya itu semakin lama semakin buram termakan waktu. Hari-hari saya berikutnya, yang penuh dengan kedataran hidup, cuma diisi dengan nafsu main bola, main bola, dan main bola.

Perkara cita-cita juga pernah ditanyakan ketika saya mengikuti penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), yang harus dilalui sebelum mahasiswa/i mengarungi perkuliahan yang sebenarnya.

Bagi yang tumbuh di masa orde baru, penataran P4, program yang mengajarkan tentang nilai-nilai Pancasila, sudah menjadi hal yang biasa.

Pada satu sesi, bapak pemateri memanggil mahasiswa/i di ruangan saya satu persatu ke depan. Saya mengingatnya ini semacam sesi wawancara.

Dari sekian banyak pertanyaan, bapak pemateri menanyakan salah satunya kepada saya, “Kenapa kamu memilih jurusan ini? Memangnya cita-cita kamu apa?”

“Saya ingin menjadi Ahli Genetic Engineering, Pak,” jawab saya.

Saya menjawab begitu, karena saya baru saja lulus UMPTN tahun 1996 di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) jurusan Biologi, Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH).

Saya bersyukur bisa lulus, meski FMIPA Biologi ini pilihan kedua saya di UMPTN, setelah Fakultas Kedokteran Umum.

Sebenarnya, saya tahu FMIPA Biologi ini dari teman SMA saya, Faisal. Beberapa waktu sehabis tamat SMA, dia pernah bilang, “Pilih apa nanti UMPTN? Pilih MIPA Biologi aja.”

“Kenapa?” tanya saya penasaran.

“Di situ nggak ada Matematika.”

Di berkas pendaftaran UMPTN, tanpa ada keraguan, cepat-cepat saya mencantumkan FMIPA Biologi sebagai pilihan kedua saya.

Baca Juga: Bagaimana Supaya Skripsi Cepat Selesai?

Beberapa bulan kemudian, di hari pengumuman kelulusan UMPTN di koran, saya mendapatkan Faisal datang ke rumah saya. Berita gembiranya: kami sama-sama lulus di FMIPA Biologi.

Entah bagaimana ide ini tercetus, Faisal, dengan menggunakan sepeda motor Honda Astrea 800 berwarna hitam, mengajak saya berkeliling Lampineung untuk merayakan kelulusan ini.

Saat menyusuri Jalan P. Nyak Makam, tepat di depan SMA Negeri 4 Banda Aceh, (dulu SMA Negeri 5 Banda Aceh), saya sempat berkata ke Faisal, “Nanti aku mau ciptain alien di lab.”

Rupanya, memang benar apa yang saya dengar dari orang-orang. Kata mereka, lebih mudah berbicara daripada berbuat.

Semasa proses perkuliahan berjalan, tak satu pun alien terciptakan dan cita-cita ingin menjadi Ahli Genetic Engineering terbukti hanya omong kosong belaka. Saya terlalu santai bahkan cenderung malas menjalani kuliah.

Tapi, saya tidak menyesal. Masa kuliah adalah masa yang indah buat saya.

Di semester pertama kuliah, perkataan Faisal soal “nggak ada Matematika di MIPA Biologi” langsung menguap ke langit. Saya harus duduk di kursi kayu Ruangan Kuliah Umum (RKU) satu lantai dua menghadapi mata kuliah Matematika Dasar.

Tentu, Faisal ikut duduk juga, sebelah-sebelahan dengan saya.

Yang bikin keringat saya kian merembes di kening, dosennya seperti percampuran antara film horor dan film action. Ruangan kerap berada dalam suasana tegang.

Suatu hari, Pak Dosen yang angker membuat satu soal matematika di white board, dan kami diperintah maju bergiliran ke depan untuk menyelesaikannya. Ada yang mencoba mengutak-atik soal, tetapi hasilnya akhirnya salah.

Ada yang berdiri lama memandang soal di white board, seolah sedang berpikir serius, tetapi ujung-ujungnya tidak melakukan apa-apa. Ada yang baru membuka tutup spidol di depan white board, seketika sudah diperintahkan balik ke tempat duduk.

Tensi di dalam kelas ikut meninggi karena belum ada satu pun yang berhasil.

Tibalah giliran abang senior yang sedang memperbaiki nilai mata kuliah Matematika Dasar. Dia, saya duga, umurnya tidak beda jauh dengan Pak Dosen. Suara Pak Dosen terdengar lantang, “Maju!”

“Pass!”

“Apa pass-pass! Maju!”

Saya, yang hanya berselang dua kursi, bisa melihat muka suramnya, sewaktu dia beranjak dari kursi.

Abang senior ini percaya diri sekali menjawab “pass” yang artinya lewat, seperti kuis-kuis televisi, atau main batu. Mungkin, karena merasa sudah senior, lalu Pak Dosen akan memberikan pengecualian.

Hal kayak gitu ternyata tidak berlaku untuk Pak Dosen. Sama abang senior kerasnya begitu, apalagi dengan kami yang junior ini, pikir saya. Badan saya mengkerut, nyali menciut.

Baca Juga: Beberapa Larangan untuk Mahasiswa Saat Bergelut dengan Skripsi

Sekian bulan berlalu, semester pertama usai ditandai dengan bertebarnya nilai-nilai akhir mata kuliah di papan pengumuman. Saya memperoleh nilai C untuk mata kuliah Matematika Dasar.

Tidak ada selebrasi berlebihan atau kekecewaan mendalam dari saya. Dan tidak ada juga tekad yang muncul, misalnya, “Semester dua harus lebih baik!” sambil mengepalkan tangan kanan di udara. Saya biasa-biasa saja.

Memasuki semester kedua dan semester-semester selanjutnya, saya sudah lupa dengan alien dan cita-cita saya. Rambut mulai dibiarkan memanjang. Jadwal-jadwal kelas mata kuliah kadang terlewati, karena keasyikan “bertausyiah” di kantin. Tertawa dan berbicara panjang lebar bersama teman-teman.

“Mengalir gak abes2nya (maksudnya habis). Terbang menembus awan. Sampe ke bibir surga…(dunia),” tulis saya mengekspresikan kesantaian diri dalam berkuliah di meja tak terpakai, dekat gerbang MIPA.

Belakangan, tanpa sengaja, saya menemukan sebuah kenyataan konyol, meski ini tidak selalu terjadi, mengenai kebiasaan saya berlama-lama di kantin.

Setiap kali saya ada kelas mata kuliah, semisal pukul 10.00 pagi, saya bakal hadir di kampus 30 menit atau satu jam lebih awal.

Kantin adalah pilihan pertama yang saya datangi. Dua kue dan segelas teh hangat menjadi simpanan tenaga yang sempurna untuk menyerap materi-materi mata kuliah nantinya. Bila ada teman-teman yang datang dan bergabung, kadang, obrolan menjadi seru.

Di lima menit sebelum pukul 10.00, yang merupakan waktu yang tepat untuk mengangkat bokong dan masuk ke kelas, mendadak semua rencana berubah. Suara hati bilang, “Malas kalilah masuk kuliah.”

Dan malas bisa saja bersambung pada kelas mata kuliah pukul 12.00 serta pukul 14.00.

“Hah, tiap hari semangat pergi ke kampus. Pas jamnya masuk kuliah, eh, malah nggak masuk,” kata saya, disambut kekeh teman laki seangkatan.

Pada periode ini, rambut saya juga perlahan melampaui bahu. Saya membebaskannya berkembang alami, sampai bablas mengalami pecah-pecah. Saya tidak melakukan perawatan khusus selain mencuci rambut dengan shampoo.

Memang, kebanyakan orang di era 90-an menganggap rambut panjang alias gondrong itu kece tetapi saya tidak memusingkannya. Yang tertanam di kepala saya ialah, saya kepingin memanjangkan rambut dan saya mewujudkannya.

“Janji, ya, dipotong rambutnya. Kalau dipotong, jadi kelihatan lebih rapi,” dosen wali saya mengingatkan.

Kata-kata itu—yang keluar saban saya meminta tanda tangan pengesahan KRS alias Kartu Rencana Studi—tak jarang memantik perdebatan saya dan dosen wali. Mau sehebat apa pun perdebatannya, saya selalu kalah.

Saya pasti berjanji memangkas rambut dan mendapatkan tanda tangan pengesahan KRS dan esoknya, rambut saya masih tetap panjang mewangi berkibar sepanjang hari. Saya boleh kalah di perdebatan, tetapi saya menang di perbuatan, pikir saya.

Untuk apa saya merepotkan diri dengan urusan memangkas rambut, kalau saya tidak rutin bertemu dengan dosen wali saya? Saya bisa menghindarinya dan menikmati rambut panjang saya. Senyum saya pun mengembang.

Namun, seperti nasihat orang-orang bijak. Katanya, tak ada yang abadi di dunia ini. Demikian juga dengan rambut panjang saya.

Senyum saya luntur ketika mengambil mata kuliah wajib yang diampu dosen wali tersebut. Tiap minggu saya mesti bertatap muka dengannya. Mulanya, saya senang karena penampilan saya tidak dipermasalahkan tetapi malapetaka datang di hari ujian midterm.

“Iwan, mau memilih ikut ujian atau memilih rambut? Kalau mau ikut ujian, Iwan harus janji potong rambut, dan hari Senin menjumpai Ibu dengan rambut sudah terpotong,” ancam dosen wali saya, sesudah menyuruh saya ke mejanya.

Saya terdiam sejenak.

“Saya memilih rambut, Bu.” Saya kemudian membalikkan badan dan keluar dari kelas. Sejak saat saya itu tak pernah kembali lagi.

Baca Juga: Romantika Sekuntum Rindu Dek Cut dan Dek Gam dalam Bus Lobur Mahasiswa

Akhir semester, sikap sok idealis tak tahu tempat itu berbuahkan nilai akhir yang paling ajaib, dan saya terpaksa memperbaikinya di tahun berikut, dengan stelan rambut pendek dan rapi. Sungguh, tak ada yang abadi di dunia ini.

Andai mampu memutar ulang peristiwa keluarnya saya dari kelas, saya ingin menoleh ke arah dosen wali saya. Saya membayangkan betapa sedihnya wajah beliau melihat sikap anak didiknya ini.

Atau barangkali, beliau dengan naluri keibuan yang takut anaknya tidak sukses, berpikir, “Rambut panjang … ujian tidak dipedulikan, ingin jadi apa kamu di masa depan, Nak?”

Namun, bayangan melankolis saya ini terganggu dengan raungan sepeda motor RX King yang memasuki halaman parkir FMIPA.

Treng-teng-teng-teng-teng!

Itu Riza Fadhlan, teman seangkatan saya. Dia berambut gondrong dan memakai kacamata hitam berframe silver. Suatu kali, ucapannya di gerbang MIPA tentang masa depan cukup menyentak sanubari saya.

“Kita,” ujarnya berapi-api, “lulusan FMIPA Biologi ini, nggak dipake di Indonesia. Kita dipakenya di Uni Eropa!”

Apakah ini sebentuk optimisme atau sindiran halus karena putus asa, saya tak tahu juga. Saya lupa menanyakannya ke Riza sampai sekarang.

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here