I’m Still Here — Chapter 5

“Eh—Abang…!” seruan Nada tertahan di ujung lidah. Ronggur sudah melangkah mendekati ruang maintenance. Senter ponselnya masih menyala. Langkahnya perlahan, tapi pasti. Mendekati dua nyala ganjil yang sementara itu terus memandangi mereka semua dari kegelapan.

Sekitar tiga meter dari ruang maintenance, Ronggur berhenti.

Nada merasa seperti mau pipis. Ketiga kawannya yang lain membisu.

Ronggur mengangkat ponselnya. Seketika itu juga ceruk ruang maintenance diterangi cahaya senter. Nafas empat anak muda di belakang Ronggur tersentak.

Seekor hewan hitam berbulu menggelepar, sayapnya yang seperti kulit mengiris udara seraya menimbulkan suara kepak keras. Nyaris saja kepala Ronggur dan kawan-kawannya tersambar ketika binatang itu kabur terbang keluar basement.

“Kalong!!” teriak Agus. “Ngapain drakula seram itu di sini!? Nyaris dihisap darahku tadi!”

“Kalong makanannya buah-buahan, euy, bukan darah,” kata Ronggur. “Mal ini dekat taman. Banyak pohon besar di sana. Kalong tadi pasti nyasar kemari dari taman.”

“Hiih,” gumam Eri. Gadis itu rupanya sudah menemukan suaranya kembali. “Kukira setan….”

Daud tertawa. Agak serak, tanda bahwa ia pun sempat merasa tegang.

“Kupikir juga begitu.”

Terlintas dalam benak Nada, kata-kata Eri sebelum mereka melihat mata kalong tadi. Kata Eri ia mendengar suara cekikikan. Nada buru-buru menghapus hal itu dari ingatannya, sebelum sempat berpikir lebih jauh. Ia tak ingin menelusurinya. Semoga Eri juga tak membahasnya lagi.

Harapannya terkabul. Kawan-kawannya sudah menghampiri motor, mengenakan helm dan bersiap berangkat, tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Agus menstarter motornya.

“Kalian semua, langsung pulang ya. Awas kalau mampir dulu ke… mana-mana,” katanya. Ronggur dan Daud ketawa. Agus menatap Nada.

”Nad, ini sudah lewat tengah malam lho.”

“Lalu kenapa?”

“Rumahmu kan berhantu.”

“Sialan. Sudah sana pulang… hati-hati ya Bang!”

Agus ngakak seraya mengegas motornya. Pemuda itu menghilang dengan cepat, meninggalkan bau asap knalpot. Daud dan Eri menyusul, melambaikan tangan. Nada dan Ronggur membalas.

“Memangnya rumahmu berhantu, Nis?” sambil melambai, Ronggur mengerling Nada. Nada menarik nafas panjang.

“Katanya gitu. Ada sekeluarga warga Belanda yang terbunuh, sepasang kekasih yang menghilang misterius… hasilnya adalah jeritan dan tangis tanpa wujud, penampakan-penampakan… Gitu deh, cerita-cerita klise,” ujarnya, berusaha terdengar tak acuh. ”Mungkin gara-gara banyak pohon kemboja di halaman, ya…kalau malam, bayangan ranting-rantingnya yang saling menjalin itu memang agak… mencekam.”

“Maksudmu menyeramkan.” Ronggur menyeringai jail. ”Sebetulnya pohon kemboja itu cantik lho. Bunganya wangi. Tahun lalu waktu kami meneliti Mount Mauna Kea, kamar hotel kami kan menghadap taman gaya tropis. Bagian tengahnya pohon kemboja besar. Eksotis banget. Kayak di film-film.”

“Kubilang juga begitu sih. Cuma pikiran orang saja yang bikin pohon tertentu jadi seram.” timpal Nada bersemangat. Ronggur mengedipkan mata.

Tapi saat mereka berhenti di depan gerbang tinggi De Zonnen, optimisme dan semangat Nada jadi menyuram. Dalam kelam, pokok-pokok kihujan dan kemboja membentuk sosok ceranggah gelap yang asing. Pakis haji yang batangnya gemuk nampak seperti raksasa menunggu mangsa. Sementara siluet bunga-bunga matahari yang merunduk tampak seperti puluhan ksatria Templar di tiang pembakaran.

Seiris bulan perbani di ujung balkon memandikan seluruh gedung dan pekarangan dengan cahaya kebiruan, memperbesar setiap semak terkecil dan menggelapkan setiap bayang-bayang. Bencah basah sisa siraman sore berkilauan pada jalan setapak, melingkari kebun ke paviliun. Di sana gelap. Bayangan gedung rukan di depan rumah memperparah keadaan.

Baca Juga: I’m Still Here — Chapter 4

“Kamu tak menyalakan lampu teras sebelum pergi, haholongan¹,” kata Ronggur.

“Iya.” Nada segan-segan mengeluarkan kunci dari saku jinsnya. ”Lupa.”

“Lain kali jangan sampai lupa.”

Ronggur menurunkan cagak motor, membuka helm.

Nada paham maksud lelaki itu. Paviliunnya tampak gelap mengancam. Pergola tanaman yang memberi perlindungan dari panas di siang hari kini menjurai macam rambut makhluk misterius dari kedalaman rawa. Nada melangkah, menyusul Ronggur yang sudah berdiri dekat gerbang.

Berdua mereka menyusuri jalan semen, wanginya kemboja yang luruh memenuhi udara malam.

“Segar sekali. Seperti di gunung,” gumam Ronggur. ”Lucu, kalau diingat bahwa ini di tengah kota.”

“Ya.” Nada mengambil tangan Ronggur, setengah bergelayut. Ronggur bergerak kecil, melingkarkan lengan ke seputar badan si gadis dan menariknya mendekat. Nada tahu, pada saat-saat seperti itu wajah Ronggur selalu diliputi nuansa yakin diri bercampur kerinduan lembut yang membuat penasaran. Nada mendongak, ingin melihat ekspresi favoritnya itu pada wajah Ronggur. Tapi tepat saat itulah sudut matanya menangkap sesuatu.

Teras-teras tertutup pada De Zonnen atapnya rata, dapat digunakan sebagai tempat duduk-duduk mencari angin. Permukaan beton atap teras dekat paviliun sudah agak retak, dan ada bunga rumput tumbuh pada celah-celahnya. Tapi atap itu masih cukup kuat untuk menampung beberapa pot besar berisi tanaman bugenvil. Di dekat salah satu bugenvil itulah Nada melihatnya.

Suatu sosok tinggi ceking, putih pucat. Berdiri setengah membungkuk, sikap tubuhnya seakan tengah mengawasi sepasang manusia yang berjalan di bawahnya. Bulan memberi sentuhan tiga dimensi pada keremangan di bawah tulang alis, sehingga cekungan mata sosok itu tampil berupa corong gelap, terarah garang pada Nada dan Ronggur.

Nafas Nada tersentak. Seluruh tubuhnya merinding seperti dirayapi semut api. Langkahnya terhenti.

Mendengar sentakan nafas Nada, Ronggur langsung waspada.

“Ada apa, Nis?”

“Eh—“ Nada hendak menunjuk, namun segera mengurungkan niat. Sebab tiba-tiba saja sosok tadi menghilang. Tak ada apa-apa dekat pokok bugenvil tadi kecuali bayangan tanaman itu sendiri, bergerak perlahan dalam angin malam.

“Nis?”

“Eh—nggak.” Nada bergidik sedikit, meluruskan berdirinya dan menggerakkan kepala, seolah mengusir bayangan buruk dari sana.”Ini… Dingin.” Nada mengangkat tangan, mengeratkan pelukan lengan Ronggur di sekitar tubuhnya.

Ronggur memandangnya sejurus. Kentara dari caranya menatap bahwa ia tahu, bukan itu yang hendak dikatakan Nada tadi. Tapi ia tak mengatakan apa-apa. Hanya pelukannya mengerat.

Ronggur baru melepaskan Nada ketika gadis itu harus membuka kunci pintu. Tangan Nada menggapai ke dalam, menyalakan lampu teras. Bayangan seketika mundur diterjang sinar hangatnya. Ronggur berdiri di teras. Meringis penuh arti.

“Kau tidak mengundangku masuk?” katanya, menyodorkan ransel dan tabung gambar Nada yang sedari tadi disandangnya. Nada tersenyum menghampiri. Menerima.

“Sudah malam,” sahutnya. ”Besok, kalau matahari masih di langit, Abang boleh duduk di sini selama Abang mau.”

“Duduk? Cuma duduk saja?” Ronggur menarik ekspresi kecewa. Nada pecah ketawanya, maju mendekat.

“Ya… duduk saja, minum teh, makan biskuit.” Dilingkarkannya lengannya ke tengkuk Ronggur. Mereka berciuman selintas, lantas dengan menyesal Nada menjauhkan diri. ”…Hati-hati di jalan, ya? Telepon aku kalau sudah sampai rumah.”

“Hmm.” Ronggur mengedip. Melangkah ke undakan. ”Lekas kunci pintu, Nis.”

“Ya.” Nada masih menatap Ronggur menuruni undakan. Lalu menutup pintu. Disibakkannya tirai yang mengalingi pintu sedikit, dan dari situlah ia mengawasi Ronggur hingga menghilang di kegelapan.

Setelah Ronggur tak kelihatan lagi, agak tergesa Nada memutar kunci pintu dua kali, mengaitkan selot dan meyakinkan bahwa tirai sudah terkatup rapi. Setelah itu ia memandang berkeliling ruang. Pada dipan, cermin besar, meja dan kursi-kursi. Matanya terkait pada sofa serupa dipan kecil, dan cermin itu. Bingkainya hitam, dengan tiga lempeng besi berbentuk bunga matahari menghiasi bagian atasnya. Bagian tengah bunga matahari besi itu berukir wajah-wajah anak kecil gendut yang sedang tersenyum. Cherub, malaikat kecil.

Nada meneguk ludah. Di malam hari, wajah-wajah kerubin itu terlihat lain. Senyum mereka seperti menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang jahat. Diam-diam Nada menyesal karena tak meminta Tante Hanum menyingkirkannya. Tadinya ia berpikir dipan itu lumayan sebagai bangku tambahan, karena ia sendiri tak punya sofa. Dan cermin itu cukup artistik untuk diletakkan di pojok. Tapi sekarang, benda-benda itu membuat bulu kuduknya berdiri.

 


¹Kekasih, bahasa Batak

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here