Hologram Corona

~ Holocoro, Bree! Lockdown surganya introvert.

Sudah sepuluh hari. Bertahan di rumah, tidak ke mana-mana kecuali membeli bahan makanan. Dan umpan kucing. Soalnya mereka juga makhluk Tuhan.

Dan lebih penting lagi, kedudukan mereka meningkat tajam selama waktu karantina ini. Dari hewan peliharaan biasa, sekadar karena mereka lucu dan menyenangkan, jadi anggota keluarga penting yang meringankan masa-masa ngerem diri di rumah.

Bagi yang introvert dan memang sengsara kalau dipaksa gaul, perintah tinggal saja di rumah ini justru imbauan dari surga.

Anak-anak dan suami semua ada di rumah, terjangkau radar perlindungan. Lemari pendingin di dapur (diusahakan) penuh bahan makanan dan minuman.

Ikan dan sayuran memang tidak bisa disimpan lama, jadi sekali dua hari keluar dari benteng, membeli ke pasar dekat rumah. Terasa lebih nyaman, karena tak terlalu ramai. Lebih tenang memilih ikan yang matanya masih hitam jernih.

Lalu cepat-cepat pulang, mandi dan berganti baju. Siang nanti makanan sudah dimasak, kopi tinggal dipecah.

Rasanya seperti tikus hutan di musim gugur, yang bersiap menghadapi musim dingin. Nyaman dan aman.

Lalu, kawan di Florida kirim video rak-rak kosong di Costco. Semacam pasar induk gaya Amerika. Bahkan beras, yang bukan makanan pokok orang Amerika, habis.

Yang tersisa dari bahan makanan cuma kotak-kotak ramen udang dan pizza nenas. Publik Amerika tak suka mi udang rupanya.

Padahal di sini, mi udang itu delicatesse numero uno. Makanan lejad bin syedaf nomor satu.

Susu murni, dijual di Amerika dalam botol plastik segede jerigen minyak goreng kita, habis diborong. Mungkin mereka punya kulkas segede gaban untuk menyimpan semua susu itu agar tak basi. Atau mungkin mereka minum susu setiap kali haus.

Bukan seperti kita yang dari negara terbelakang ini, yang minum air RO harga lima ribu perak untuk satu botol isi sembilan belas liter.

Yang juga lenyap dari rak-rak itu adalah tisu wese. Berbal-bal mereka memborong tisu wese. Kereta belanja sampai penuh. Sampai melimpah. Sampai orang lansia, orang cacat tidak kebagian.

Tidak usah menyebut masker. Masker dan hand sanitizer sudah punah duluan. Dan ada juga yang sengaja memborong barang-barang itu buat dijual lagi dengan harga lipat-lipat.

Ada yang menimbun hand sanitier sampai 17.000 botol. Tisu wese sampai satu truk. Dipajang di bagian belakang mobil, seperti pedagang di Ulee Lheue menjual pot tanaman plastik. Lalu sakit kepala karena tak ada yang mau beli.

Ya siapa yang mau, tisu wese dijual seharga US$45. Dengan harga dolar yang Rp17.000 sekarang ini, artinya itu benda buat cebok harganya Rp765.000 segulung.

Ada lagi yang mendadak ramai dicari orang. Senjata api. Alasannya, kalau kebijakan lock down diterapkan, dan bahan makanan susah masuk, orang bisa jadi nekat karena lapar. Penjarahan dan perampokan bisa terjadi. Makanya penting untuk mempersenjatai diri!

Lalu muncul iklan-iklan menjual dan menyewakan bunker. Benteng perlindungan yang dijamin tidak tembus virus. Apalagi orang lapar atau zombie.

Breedie Info motion graphic zombie.
Breedie Info motion graphic zombie.

Zombie?

Tenyata bukan sedikit orang yang percaya, Covid 19 baru awal. Nantinya, menurut mereka, akan ada strain virus baru yang menyerang otak.

Memangsa amygdala dan menyisakan reptilia, sehingga manusia yang diserang kehilangan emosi, empati dan semua rasa kemanusiaan. Menyisakan kebutuhan dasar: lapar, haus, ngantuk dan keinginan seksual.

Otomatis, manusia yang tak punya emosi lagi itu akan jadi zombie. Dan dengan sifat virus yang cepat viral, nyaris tanpa musuh, segera saja dunia akan dipenuhi manusia mati otak yang hanya bisa merasa lapar.

Haaah!

Perjalanan browsing mencari informasi virus mendarat di situs yang selama ini validitasnya diakui secara internasional. Jreng! Mereka punya artikel bertajuk Use these adventure skills to survive the zombie apocalypse. Artinya kira-kira, gunakan keahlian khusus dalam bertualang berikut ini sebagai alat bertahan dalam Kiamat Zombie.

THE ZOMBIE APOCALYPSE, Bree! Are you kidding me!! Majalah ini! Majalah yang reputasi ilmiahnya diakui internasional sejak awal abad 20!

Bayangan desain bunker dan self-sustained farm, dengan pembangkit energi tenaga matahari, pengolahan air, pertanian dan peternakan sendiri, berkelebat-kelebat.

Kalau sampai seluruh dunia koleps—dengan alasan apa pun—orang-orang ini tinggal masuk bunker masing-masing dan tutup pintu. Blam! Aman sudah!

Biar saja di luar orang bunuh-bunuhan berebut sebungkus mi instan atau air kemasan.

Bayangan bunker berganti bayangan rumah kami. Halaman memang lumayan agak ada. Tapi tanpa pagar, hanya ada dua pohon temurui dan satu pohon mangga yang sedang berbuah.

Jendela dan pintu tanpa teralis. Kiri-kanan-depan-belakang terbuka ikhlas.
Kalau ada zombie—bukan, kalau sampai terjadi kekurangan pangan dan orang semakin nekat, rumah kami adalah sasaran empuk.

Rasanya tengkuk mendadak geli kayak dijamah kuntilanak. Orang Indonesia terkenal optimis. Bangsa lain sudah heboh menutup diri, Indonesia menyambut turis asing.

Bangsa lain heboh menyiapkan rumah sakit, menteri di Indonesia cengengesan meyakini bahwa Indonesia takkan mengalami kegawatan demikian.

Bahkan ketika dua gubernur sudah menyatakan wilayahnya mengalami kegentingan, sekelompok pejabat BUMD mengira dirinya sakti mandraguna macam tokoh wayang, memilih liburan ke Eropa.

Bukannya diam di rumah! Ini berlibur. Ke Eropa pula. Kenapa tidak lantas nyemplung ke kandang buaya sekalian?

Kelakuan orang Amerika dan Eropa membangun bunker dan menimbun persediaan makanan, yang tadinya terasa menggelikan, mendadak terasa rasional dan bijak.

Mendadak saja, membeli 30 kilogram beras di awal bulan untuk makan lima orang, terasa sangat kurang. Mendadak saja, keluar rumah terasa bagai jalan di pulau Jurassic Park.

Mendadak saja, punya rumah terasa belum cukup. Mendadak saja, seperti dalam lagu lawas Whitney Houston, All At Once, semua berubah. Mendadak saja, hidup terasa begitu rapuh.

Kejumawaan inosen bahwa besok matahari akan bersinar lagi dan pasar tempat belanja akan selalu ada, mendadak digelapi bayangan zombie.

Kekuasaan makhluk ukuran mikron yang kedudukannya dalam Kingdom Animalia bahkan masih diragukan, ternyata jauh melebihi kekuasaan manusia yang konon adalah makhluk paling sempurna.

Mendadak saja terpikir, bila masa dua pekan ini berakhir, dan keluar rumah kembali dibolehkan, apa jadinya kalau ternyata tak ada apa-apa lagi di luar sana?

Apa jadinya bila ternyata selewat batas jembatan dekat Blangpadang itu, semuanya hanya hologram?

Blang Oi, 25 Maret 2020

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

1 KOMENTAR

  1. Subhanallah…Merinding ambo baca kak *sambil tahan nafas dan membayangkan spt di film zombie…Smoga Allah azza wajalla melindungi, merahmati dan menyelamatkan kita utk tetap dalam kemanusiaan yg penuh rasa cinta, welas asih terhadap sesama…sehingga atas ridho Sang Pemilik Jagad Semesta, segala azab dan bahaya dilenyapkan dr bumi…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here