Hewan juga Perlu Berak, Punya Tahi, Punya Gaya

~ Jangan samakan kucing dengan pisau belati

Seorang teman baik saya, Dot Muray, membuat sebuah survei mengenai berak di Instagram dan Facebook. Kata dia, surveinya, yang keikutsertaan publiknya minimalis, cuma kecil-kecilan saja dan tidak mengandalkan metode ilmiah apa pun.

Tidak ada yang salah, memang. Namun, semakin lama dan semakin hati-hati saya mendalami survei berak ini, saya, tanpa disadari, bisa menemukan harta karun di hati Dot Muray.

Harta karunnya tentu saja bukan tahi, tetapi niat tulus menggaungkan berak sebagai tema kehidupan yang maha penting. Mungkin Dot Muray kepingin bilang bahwa, hidup seorang manusia selalu berjalan beriringan dengan berak.

Dan kadang, hidup memang berak. Kadang keras, kadang mencret.

“Bau apa ni? Tahi kucing, heh,” ujar teman saya yang baru tiba di kedai kopi langganan kami.

“Itu dia tahinya!”

“Pantesan dari tadi ada bau-bau tak sedap,” sahut saya, bangkit dari kursi dan melongok ke arah yang ditunjuk teman saya, di bawah meja paling sudut.

Setelahnya, saya hanya mendengar gerutuan “Bajingan-bajingan!” dari mulut pemilik kedai kopi.

Semerbak tahi kucing mengejutkan saya pada satu kenyataan: hidup seorang manusia tidak melulu menjadi pusat semesta berak.

Hidup seorang manusia, selain beriringan dengan beraknya sendiri, juga berjalan beriringan dengan hewan-hewan yang berak.

Dot Muray tidak menyinggung hal ini di tulisannya.

Pernah kamu melihat hewan-hewan sedang yang berak? Kalau saya tentu pernah. Seperti kucing, hewan favorit saya, misalnya, saya pernah memperhatikannya mulai dari pencarian tempat berak hingga selesai menutup tahinya dengan pasir.

Kucing, seraya berjalan, akan mengendus-ngendus di seputaran pasir yang akan di-marking. Andai tempatnya cocok, dia perlahan melakukan pose jongkok, dengan dua kaki depan menapak pasir. Mata biasanya menatap lurus ke depan dengan radius pandangan 180 derajat.

Bersamaan dengan keluarnya tahi pertama, kedamaian pun merasuk ke dalam tubuh dan jiwa kucing. Dengan mata masih menatap lurus ke depan. Kedamaian berproses dan berproses seiring bongkah-bongkah feses keluar satu demi satu.

Di ujung lepasnya tahi terakhir, dia akan menoleh ke kanan atau ke kiri. Lalu memutar badannya ke belakang. Apa yang dilakukan si kucing? Yak, memandang tahinya sendiri.

Tentu itu bukanlah tatapan kosong tanpa arti. Dia telah punya rencana matang.

Tak lama, dia akan menarik-narik pasir berulang kali dengan kaki depan untuk menutupi tumpukan tahinya. Oh, betapa menawannya kucing saat melakukan tahap demi tahap prosesi beraknya.

Lain waktu, kucing yang sedang berak mengingatkan saya kepada dosa masa kanak-kanak. Jika saya, bersama teman main lainnya, tak sengaja menjumpai kucing yang sedang berak, kami bakal berusaha mencari perhatiannya.

Saat si kocheng menatap kami lama, kami mempraktikkan satu kepercayaan aneh.

Masing-masing kami mengaitkan jari tengah tangan kanan dengan jari tengah tangan kiri di depan dada, kemudian menariknya kuat-kuat ke arah berlawanan.

Katanya, kalau kucing yang lagi berak melihat ini, tahinya akan sukar keluar, atau tahinya akan keras. Tujuannya membikin kucing yang lagi berak tersiksa.

Saya tak tahu dari mana kepercayaan ini mulanya bersumber. Dan siapa orang pertama yang mempraktikkannya.

Padahal cara seperti ini membuat jari tengah sakit dan membikin kami bosan karena ternyata tahinya keluar lempeng saja. Terkadang kami hanya menunggui tahi yang keluarnya setengah nanggung karena kucing tak leluasa berak.

Momen ini merupakan waktu yang tepat untuk kami mengejar si kucing. Anda bisa membayangkan sedramatis apa kucing yang kaget dan lari terbirit-terbirit dengan muka sebal karena tahinya masih tergantung di ujung rektum, atau belepotan kemana-mana.

Kami tertawa senang, sekaligus berlumuran dosa.

Kami tidak sekali pun terniat mempraktikkan kepercayaan aneh ini kepada anjing, yang cara beraknya mirip dengan kucing. Mungkin karena kami takut anjing.

Berpapasan dengan anjing saja, hati sudah waswas. Apalagi digonggong, kami langsung siap-siap melarikan diri.

Belakangan saya pikir-pikir, dosa sama kucing memang menghantui saya sampai dewasa.

Suatu malam, warung jualan pulsa teman saya sempat terhenti pergerakan bisnisnya beberapa jenak. Penyebabnya: saya membawa serta tahi kucing di sandal, dan menyebarkannya di lantai warung, seperti stempel yang dicap berkali-kali di atas selembar kertas.

Ranjau, kata teman saya, telah aktif gara-gara saya.

Dari dalam warung menguar keharuman yang kecut. Saya, yang merasa tidak enak, malu, dan terkucil, mesti menyaksikan teman saya bersusah payah mensterilkan warungnya.

Untung dia tidak marah, meski mukanya sempat tersirat keinginan menombak saya dengan tiang telepon depan warung.

Kembali lagi ke waktu kecil dulu, saya juga pernah melihat sapi dan kambing yang sedang berak di sekitar lapangan tempat saya dan teman-teman bermain bola.

Tahinya tak jarang kami dapati berada di tengah lapangan. Bila datang sifat rajin atau posisi tahinya di area yang fatal, misalnya di area gawang, kami menyekop dengan potongan triplek dan memindahkannya ke luar lapangan.

Tapi, seringnya kami cuek-cuek saja. Kami bermain bola sambil menghindari tahi-tahi. Kalaupun ada yang menginjak, tak ada satu pun pemain yang mengasihaninya. Bagi kami, masih lebih penting menjaga ritme permainan.

Sapi dan kambing, dari yang saya lihat, beraknya dengan cara berdiri (ya iyalah masak pakek toilet).

Namun, sapi mempunyai ciri khas tersendiri, yakni sapi akan mengangkat ekornya tinggi-tinggi sesaat sebelum berak. Terangkatnya ekor sapi tinggi-tinggi ini seperti terangkatnya tiang bendera.

Tiangnya sudah tegak, benderanya, rambut yang tumbuh di ujung ekor sapi, ikut berkibar-kibar. Dan, bom alias tahi pun jatuh.

Kalau kata kami, bendera naik, bom jatuh.

Omong-omong tentang bom alias tahi yang jatuh, saya sempat mengalami peristiwa misterius di masa kuliah.

Sore hari kelar jam mata kuliah, saya dan tiga teman seangkatan nongkrong makan gorengan di Darussalam. Lokasinya terkenal hanya memiliki meja dan kursi yang berada di area terbuka. Saat itu, masih jarang ada model warung seperti itu di Banda Aceh.

Selagi berbincang, tiba-tiba jatuh setumpuk tahi di atas paha kanan saya. Kain celana jeans yang tidak waterproof tak kuasa untuk tak menyerap tahi encernya, meninggalkan inti agak padat yang berwarna krem.

Saya menengadahkan kepala, tidak ada dahan-dahan pohon, yang menjadi tempat lalu lalang hewan atau bertengger burung. Saya arahkan pandangan ke langit, tidak ada burung yang berseliweran.

Kebingungan, saya bilang ke tiga teman saya, “Coba tengok, aku diberakin, tapi nggak jelas diberakin sama apa.” Kemudian, saya menerangkan pengamatan-pengamatan yang telah dilakukan.

Mereka tertawa dan mengejek. Saya menyesal memberitahukannya.

Dengan perasaan terkoyak-koyak, saya mengambil tisu dari atas meja, dan mulai membersihkan tahinya.

“Kayaknya, ini tahi dari burung yang terbangnya super tinggi. Mata nggak nyampe ngeliatnya di langit. Gila, jauh juga perjalanan tahi ni,” kata saya dalam hati.

Komentar

Komentar

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here