Dua (ekor) lalat bertengger di salah satu sudut meja makan. Satu kurus kering badannya, satu lagi gemuk buncit. Lalat kurus berkata, “enak sekali hidupmu, bisa makan sepuasmu dan berat badan gampang naik.”

“Itulah hebatnya aku, sering numpang makan di rumah orang kaya,” jawab lalat gemuk.

“Memangnya kau tidak pernah kena timpuk?”

“Tidak, aku masuk diam-diam saat mereka selesai makan,” ungkap si gemuk sembari membersihkan sisa-sisa makanan di giginya.

“Kau tahu,” ia melanjutkan, “Di rumah orang kaya itu saban hari ada berkilo-kilo makanan sisa.”

“Banyak sekali duit mereka, ya?” Si Kurus mencoba menganalisa.

“Ya, tapi yang kutahu dari bisik-bisik pembantu, sebagian isi meja makan mereka dari kredit.”

“Oya?!”

“Iya, aslinya mereka tak punya duit. Karena malu sama tetangga, mereka juga memenuhi isi rumah dengan segala perabotan mewah, biar tak kalah gengsi.”

“Jangan-jangan tetangga mereka begitu juga,” ucap si kurus.

“Begitu gimana?”

“Ya, ikut kredit juga! Atau itu hasil korupsi?”

“Ha..ha..ha..! Jangan-jangan kau iri sama mereka. Korupsi kan bahaya, bisa di-OTT sama KPK.”

“Kau tidak sadar ya, kita cuma lalat, Cuma bisa mengunyah remah, tak bisa kredit apalagi korupsi. Apa untungnya aku iri!” ucap lalat kurus kesal. Ia lalu menerbangkan tubuh cungkringnya berayun-ayun menembus angin.

Komentar

Komentar