Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Kedua

Pagi itu menandai sebuah perubahan lain dalam hidup Dinda.

Saat sarapan, Ayah mengumumkan bahwa mereka semua akan pindah. Ke Aceh. Ayah akan menjual rumah ini dan membangun rumah di kampung halamannya di Aceh Barat Daya. Dinda akan masuk sekolah asrama di sana. Begitu juga Dedek. Bang Tareq bilang ia bisa memindahkan base bisnis media digitalnya ke Banda Aceh, agar tetap dekat dengan keluarganya.

Dinda tak dapat mempercayai pendengarannya.

“Ke Aceh??” pekiknya. “Menjual rumah ini?? Meninggalkan Bunda?? Ayah! Ayah sudah hilang akal ya!” Sudah belasan tahun mereka tinggal di rumah penuh kenangan di kawasan Jakarta Selatan itu. Dinda dan Dedek lahir di situ. Bang Tareq diwisuda, Dinda dan Dedek mendapat kucing pertama, Bunda sakit dan meninggal, semua di rumah itu. Dan sekarang Ayah berkata bahwa rumah itu akan dijual.

“Aku nggak mau pindah!” suara Dinda, walau serak dan bergetar, tapi tinggi menusuk. “Silakan kalau Ayah, Abang dan Dedek mau pindah. Aku tetap di sini sama Bunda!!”

“Adek,” kata Bang Tareq. Dinda mendelik padanya.

“Abang pergi saja. Kawani Ayah sama Dedek. Aku tetap di sini.” Dinda berusaha keras supaya tidak gemetar. Tapi tubuhnya tidak bisa berbohong. Terpaksa diletakkannya gelas kopi susunya, yang hampir tumpah karena tangannya bergetar hebat. “Ayah atau Abang bahkan nggak usah kirimi aku uang. Aku bisa cari uang sendiri.”

“Itu kan nggak masuk akal, Dek. Kamu harus ikut,” potong Bang Tareq. Didorongnya kaca matanya ke puncak hidung. “Kata Ayah kamu sudah beberapa hari kabur malam-malam. Pulang menjelang subuh. Kamu ke mana, Dek?”

Dinda gemetar makin hebat.

“Kan aku sudah jelaskan sama Ayah. Aku pergi sama teman-teman. Bikin graffiti!”

Baca Juga: Hologram Corona

Bang Tareq diam. Menowel-nowel telur orak-ariknya sedikit. Lalu mengangkat mug kopinya. Menyeruput. Ayah juga diam saja. Seperti melamun, terus memegangi mugnya. Matanya tak lepas dari sketsa wajah Bunda yang dipasang Dedek di rak buku sebelah sana. Sketsa itu Dinda yang membuat. Menggunakan konte hitam.

“Pindah akan bagus efeknya buatmu, Dek,” kata Ayah setelah beberapa saat. Menarik nafas panjang. “Kamu tahu kan, nggak baik anak perempuan berkeliaran malam-malam. Sama anak-anak laki-laki, lagi. Apa kata orang nanti.”

“Aku kan nggak ngapa-ngapain sama mereka, Ayah,” bantah Dinda. “Aku sudah bilang, aku—kami, cuma bikin graffiti!”

“Masalahnya, kamu keluar malam-malam, sama anak-anak laki-laki yang bukan muhrim,” kata Bang Tareq. Dari dulu Bang Tareq malas berargumen dengan Dinda, karena hampir selalu kalah. Tapi kali ini nampaknya ia bertekad bulat, harus menang. “Kamu ini orang Aceh, Dek. Kita punya aturan sendiri yang harus ditaati. Terutama buat anak gadis.”

“Kami cuma bisa bikin graffiti kalau malam, Aaa-baa-ng,” Dinda keras kepala, mengeja kata “abang” dengan nada ironis yang disengaja. “Kalau siang-siang, nanti kami ketahuan dan ditangkap Satpol PP.”

Ayah tampak sangat letih. Digosok-gosoknya keningnya, matanya tak lepas dari cairan hitam di mugnya.

“Kamu kan bisa melukis di rumah. Di kanvas, atau di laptop, kayak sama Bunda dulu. ‘Girl in the Woods’ belum selesai kan? Kamu selesaikan itu aja. Nanti Ayah bantu. Nggak usah keluar-keluar bikin graffiti lagi.” Ayah menyebut judul novel grafis yang sedang ditulis Dinda. Wajah Dinda menggelap.

“The Girl in the Woods itu projek aku sama Bunda,” ujarnya ketus. “Aku nggak mau nerusin, karena Bunda nggak ada.”

“Tapi kamu nggak bisa keluar malam terus, Dek!” tukas Bang Tareq.

“Aku udah lama keluar malam. Kenapa Ayah sama Abang nggak pernah ngomong apa-apa? Kenapa baru sekarang jadi masalah??” Dinda mengedikkan kepala dengan angkuh. “Kalau aku nggak bisa bikin graffiti, mendingan aku mati aja,” air hangat mulai mengalir, di mata dan di dalam hidung Dinda. Ditatapnya abang dan ayahnya dengan sikap menantang. “Nggak ada yang ngerti aku kecuali Bunda. Aku mau nyusul Bunda aja!” kalimat terakhir dijeritkannya. Kerinduan yang sangat, kepedihan dan putus asa mewarnai pekikannya.

“Dek!”

Dinda sudah menghilang di tangga. Terdengar pintu kamarnya dibanting menutup. Tareq menghela nafas. Berpandangan dengan Ayah. Dedek menunduk. Pura-pura sedang makan.

•••

Keputusan Ayah sudah bulat. Sebulan setelah pagi itu, pulang sekolah Dinda menemukan semua rak-rak dan lemari buku sudah kosong. Buku-buku Ayah dan Bunda, pensil-pensil, cat akrilik, soft pastel dan berbagai peralatan menggambar ilustrasi milik Bunda sudah dipak rapi dalam kardus-kardus. Beberapa barang lain yang penting juga sudah dipak. Kemudian dikirim dengan kargo ke Aceh. Mebel-mebel dijual, begitu juga city car kecil Bunda. Pakaian dijejalkan ke kardus dan kopor. Dimuatkan ke mobil SUV besar Ayah.

Bang Tareq mengurus surat-surat pindah Dinda dan Dedek. Dinda menginterogasi Dedek, menanyakan soal ke sekolah mana Ayah mendaftarkan mereka nanti.

“Kata Ayah sekolahku namanya SMP Harapan Bangsa. Sekolah Tata namanya SMA Pelita Bangsa,” kata Dedek. “Kata Abang sekolah kita nanti dekat pantai! Dari halaman sekolah kita bisa melihat sebuah pulau!” Dedek sangat suka berenang. Kemungkinan bersekolah di dekat pantai membuatnya sangat bersemangat.

“Sekolah kita? Aku nggak mau satu sekolah sama kamu, Dek,” ujar Dinda ketus. Dedek acuh tak acuh mengangkat bahu.

“Terserah Tata. Pokoknya kata Ayah begitu.”

Kemudian ternyata Dedek yang benar. Sekolah baru mereka terletak di satu kompleks besar di dekat pantai. Kompleks pendidikan itu terdiri atas sekolah-sekolah mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga SMA, yang dikelola sebuah yayasan. SMP dan SMA itu memiliki asrama. Tinggal di asrama tidak diwajibkan bagi siswa. Mereka yang memilih untuk tinggal di Asrama mendapat pelajaran tambahan dalam koridor kurikulum pesantren.

Dinda benci sekali mendengar bahwa Ayah mendaftarkannya ke Asrama.

“Ayah memang nggak sayang sama aku dan ingin aku nggak ada ya!” jerit Dinda ketika mendengar hal itu. “Mula-mula aku dilarang bikin graffiti. Dipaksa pindah ke kota primitif di negeri antah berantah. Terus sekarang dimasukkan Asrama! Ayah maunya apa sih! Kenapa Ayah nggak pernah tanya dulu padaku, apa sebenarnya yang aku mau??” jeritan Dinda berakhir pada isak. Bang Tareq bangkit hendak menenangkannya. Tapi Dinda menepisnya. Dipandangnya ayah dan abangnya dengan mata menyala-nyala.

“Kalian bakal menyesal nanti,” desisnya. Lari keluar ruangan sambil tersedu. Ayah tertunduk. Mendadak ia nampak bertambah tua beberapa tahun.

“Aku kangen ibumu, Tay,” gumam Ayah ketika Bang Tareq hati-hati duduk di sampingnya. “Cuma Bunda yang tahu bagaimana menghadapi adikmu yang satu itu.”

Baca Juga: Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Pertama

Bang Tareq menyeduh kopi. Membuka stoples keripik pisang, kesukaan mereka berdua. Kedua lelaki itu duduk tanpa suara hingga Dedek pulang bermain, menjelang magrib. Remaja itu kaget melihat ayah dan abangnya duduk di lantai dapur dalam keremangan.

“Ayah sama Abang ngapain sih?” katanya. “Ayah! Kita jadi berangkat hari Sabtu ini?”

“Tentu saja,” Ayah berusaha tersenyum.

“Aku mau ke makam. Pamitan dulu pada Bunda, Yah,” ujar Dedek. Duduk di hadapan Ayah. “Sayang sekali Bunda nggak bisa ikut….”

“Bunda ikut, kok, Dek,” suara Ayah terdengar aneh. “Di sini. Bunda ada dalam hati kita semua. Jadi, Bunda akan selalu ikut ke mana pun kita pergi.” Ayah menempelkan telapak tangan kanan ke dada kirinya. Dedek terdiam. Lalu mendadak menyerbu ke depan, menjatuhkan diri ke lantai dan memeluk Ayah erat-erat. Ayah mengangkat lengan, balas memeluknya. Lantas Bang Tareq menggeser duduk. Dipeluknya Ayah dan Dedek sekaligus.

•••

Perjalanan menuju Aceh dimulai selepas Subuh. Dinda tak bisa berhenti menangis. Diselubunginya dirinya dengan syal Bunda, seraya mengenakan kupluk beanie dan mendekap boneka kucing hadiah ulang tahun ketujuh dari Bunda, Dinda meringkuk di pojok SUV. Menolak roti, kopi susu kesukaan, gorengan, apa pun yang disodorkan Ayah, Bang Tareq atau Dedek. Kupingnya disumpal dengan mikropon yang tersambung ke telepon genggam, terus menerus mendengarkan lagu-lagu sound track anime.

Telepon genggamnya dipenuhi pesan-pesan singkat dari Abie, Hasan, Akbar, Haidar dan kawan-kawan sekolahnya yang lain. Sementara akun sosial medianya meledak, dibanjiri komentar para followers-nya yang mengucapkan selamat jalan dan “hati-hati di jalan”. Banyak dari mereka yang bertanya, apakah Dinda masih tetap akan berkarya setelah pindah nanti.

“Aceh kan berbeda,” komentar seseorang. “Apa Mbak Dinda masih bisa terus bikin graffiti di sana??”

(Bersambung ke Bagian Ketiga)

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here