Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Lima Belas

Kalau tidak dicegah, usaha menanam koral di perairan Kepulauan Sigupai akan sia-sia saja. Sebab selesai satu areal ditanami, areal lainnya akan sudah rusak dimangsa bintang laut.

Nelayan Teluk Sigupai tak menyukai bintang laut ini. Sebab bintang laut duri juga memangsa tiram, yang dikembang biakkan nelayan di seputar Pulau Gurita. Jadi kalau berpapasan dengan bintang laut ini, para nelayan biasa mengambil kemudian memotong-motongnya. Dulu Dinda pernah menyaksikan seorang nelayan tiram memotong-motong tiga bintang laut duri dan melemparkannya kembali ke dalam ombak. Mungkin bapak nelayan itu mengira, bintang laut itu sudah mati. Ternyata menurut ilmuwan rambut putih tadi, si bintang laut justru akan berkembang biak.

Rombongan Razak Serigala dan para ilmuwan itu tetap duduk di selingkar meja hingga pukul sembilan. Saat itu Dinda sudah mengantuk. Dia sudah terbiasa dengan jam tidur si Asrama yang selalu tepat waktu, setiap pukul 21.30. Jadi, pukul sembilan badannya sudah mulai ‘shut down’. Bersiap tidur.

Bang Tareq menghampiri. Mengatakan bahwa Dedek sudah masuk ke salah satu kamar yang ada di lantai dua.

“Itu kamar Abang. Ada tempat tidur dan kasur gulung di dalamnya. Abang mau jadikan kafe kita ini kantor Abang juga. Jadi bakal sering nginap di sini,” kata Bang Tareq. “Kamar dua lagi yang besar-besar, punya Mulkan, Sadri, Cik Anwar dan Irfan.”

“Ngapain Abang nginap di sini? Di rumah kan ada jaringan wifi juga,” kata Dinda, menyebutkan kebutuhan utama pekerjaan abangnya yang perancang perangkat lunak itu: jaringan internet. Bang Tareq mengangat bahu.

“Sekalian menjaga barang-barang kafe,” katanya. Dengan lembut diusapnya kepala Dinda. “Sana Dek, tidurlah. Kelihatan sekali kamu sudah ngantuk.”

“Ya deh,” Dinda menyetujui. Dalam hati sangat lega karena ternyata ada kamar tidur di situ. Saat menaiki tangga ke lantai dua, dilihatnya Ayah masih di dapur. Membuat mie goreng Aceh-nya, yang sangat terkenal di kalangan kawan-kawannya sesama jurnalis dulu. Dinda masih ingat bahwa Ayah sering memasak mie bila kawan-kawannya datang ke rumah, dulu di Jakarta. Kalau bukan mie, ikan  bakar. Dan masakannya selalu licin tandas.

Baca Juga: Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Tiga Belas

Kelompok ilmuwan bibi Razak juga masih ada. Mereka pindah ke bagian dalam kafe. Sekarang mereka semua menghadapi laptop. Seorang sedang memindahkan video dari kamera dan mengeditnya. Sepintas nampak sosok dua penyelam di monitor, sedang mengikatkan benih koral pada semacam petak-petak kerangka besi.

Dinda melewati balkon kafe yang masih penuh pelanggan, memasuki sebuah pintu di bagian belakang. Pintu ditutupnya lagi di belakang punggungnya. Lalu matanya berputar mengamati keadaan. Ia ada di semacam ruang duduk, diperlengkapi satu set meja-kursi kayu simantok, sebuah pesawat TV dan dream catcher tali rami putih di ambang jendela. Setelah ruang itu, ada empat pintu tertutup saling hadap. Mulanya Dinda tak tahu yang mana kamar Bang Tareq. Tapi lalu ia mengenali tulisan Kanji ‘anime wa boku no ai desu‘ (anime adalah cintaku) terlengket di pintu pertama sebelah kanan. Dinda langsung menuju pintu itu. Ia yakin, itu pasti kamar Bang Tareq. Si maniak anime. Tak mungkin Cik Anwar yang menempelkan stiker macam itu.

Benar saja. Begitu pintu dibuka, Dinda langsung melihat Dedek. Anak itu tidur bergelung di ranjang bawah yang ditarik dari kolong ranjang kembar yang ada di kamar itu. Kasur di  ranjang atasnya kosong, dan sudah dilapisi sprei. Dinda merebahkan diri di situ. Senang karena ternyata kasurnya nyaman sekali.  Bunyi ombak sayup membiaskan ketenangan. Dinda segera tertidur.

•••

Saat Dinda memutuskan untuk menyudahi kemesraan dengan selimut, dua jam selepas subuh, ia tersadar bahwa ia adalah orang terakhir yang turun dari kamar. Dedek sudah di dapur, memotong-motong sesuatu sambil mengobrol dengan Ayah. Bang Tareq menyapu halaman kafe, dibantu Bang Mulkan. Cik Anwar merapikan ruang makan bersama Bang Sadri. Bang Irfan tak kelihatan, mungkin sedang belanja ke pasar. Karena itu adalah sebagian dari tugasnya sebagai juru masak. Sedangkan Kak Yani baru akan datang setelah kafe resmi buka, pukul sembilan nanti.

Dinda keluar ke halaman. Duduk di depan sebuah meja. Ada cangkir berisi kopi, dan sepiring kue aneka jenis di situ. Mungkin punya Bang Tareq.

“Dek, jangan duduk aja, ayo bantu!” seru Bang Tareq. “Ada sapu satu lagi di gudang. Sana ambil!”

“Nggak ah.  Abang sama Bang Mulkan aja yang sapu. Kan halamannya nggak begitu kotor,” ujar Dinda seenaknya.

“Malas sekali adikku,” kata Bang Tareq. Suaranya kesal sekaligus agak geli. “Kalau begitu, sana buatkan kopi untuk Abang!”

“Kan ini sudah ada!” tunjuk Dinda.

“Itu bukan punya Abang,” kata Bang Tareq. Ia baru akan melanjutkan bicara ketika seseorang duduk di kursi di samping Dinda.

“…itu kopiku,” suaranya. Dinda kaget, menoleh. Langsung bertatapan dengan si sepatu merah kemarin. Bibi Razak. Pagi itu ia mengenakan pashmina secara longgar, sehingga Dinda dapat melihat rambutnya yang berpangkas pixy. Juga giwang kecil di telinganya.

“Kopi di sini luar biasa. Nasi gorengnya juga. Makanya aku kemari setiap pagi untuk sarapan,” kata perempuan itu.

“Oh…hm…ya,” Dinda kikuk.Tak tahu harus berbuat apa.

“Kau kawan Acak, kan?”

“Kawan acak?” Dinda tercengang. Otaknya kesulitan memproses frasa itu. Apa maksudnya, kawan acak? Random friend? Jadi, bukan semacam kawan yang khusus, begitu? Tapi kawan siapa maksudnya?

“Keponakanku, Razak. Di rumah, panggilannya Acak,” bibi Razak tertawa kecil, melanjutkan: “Kawan-kawannya manggil dia Ajak. Akhirnya, nama panggilan dia berubah. Jadi “Wolf” alias serigala. Karena ajak ‘kan jenis anjing liar, agak mirip serigala.”

“Ooooh,” Dinda mengeluarkan ‘o’ panjang karena benar-benar mengerti sekarang, dari mana asalnya julukan ‘serigala’ itu.

“Kalau libur, Acak biasanya ikut aku ke sini. Dia suka sekali nasi goreng kafe kalian. Eh… kamu nggak sekolah? Kenapa?”

“Aku sekolah asrama. Sabtu pulang,” kata Dinda.

“Oh… Pelsa?”

“Ya.”

Dinda terdiam. Suasana jadi kaku. Untung saat itu Bang Sadri muncul. Menenteng baki berisi nasi goreng, acar nenas dan gelas tinggi sari jeruk nipis. Diletakkannya bawaannya di meja, di hadapan bibi Razak. Perempuan itu langsung menegakkan duduknya, menggeret piring ke dekatnya.

Baca Juga: Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Empat Belas

“Hmmm…. sedap nih,” katanya. Disuapkannya sesendok. Kelihatan sangat menikmati. “Enak. Banget. Ayahmu pandai sekali memasaknya.”

Badan Dinda jadi kaku rasanya. Ayah yang masak nasi goreng itu? Mana boleh begitu! Ayah hanya boleh memasak untuk Bunda. Atau anak-anak dan teman-temannya.

“Bukan Ayah yang masak, eh…. Tante. Cook kami Bang Irfan,” kata Dinda. Agak ketus. Tapi Bang Sadri, yang masih ada di dekat situ melap sebuah meja, menyela:

“Itu Dedek yang bikin, Kak Dinda, bumbunya Bapak yang racik. Soalnya Irfan lagi beli ikan,” katanya. Mendengar itu Dinda merasa otaknya gatal. Seperti dirayapi semut api. Dengan kaku ia bangkit.

“Oh gitu… Ya… Ayah memang jago masak,” katanya. “Saya ke dalam dulu, Tante.”

“Kami akan putar film dan adakan diskusi di Dermaga hari ini. Datang, ya, nak!” kata bibi Razak sebelum Dinda pergi. Dinda hanya mengangguk sepintas. Lalu lari masuk kafe.

Dari jendela lebar tempat makanan yang selesai dimasak diletakkan sementara, sebelum diambil waiter, Dinda melihat Dedek dan Ayah. Keduanya duduk di meja racik, menghadapi tempat-tempat bumbu dan sayuran. Memilah yang masih baik dari yang busuk. Bang Tareq dan Cik Anwar juga ada di situ sekarang. Minum kopi.

Dinda masuk ke dapur. Langsung menghampiri Ayah.

“Ayah,” katanya. Dinda sadar suaranya bergetar. Ditenangkannya diri. Lalu mulai bicara lagi. “Ayah,” ujarnya. “Boleh aku minta sesuatu?”

(Bersambung ke Bagian Enam Belas)

KOMENTAR

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here