Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Dua Puluh Satu

Tiba-tiba Dinda merasa bahwa ide Nana itu tidak terlalu jelek. Tidak usah menunggu sampai keduanya ada di Bennington, mungkin mereka bisa mulai merintis bisnis ini di sekolah. Sekarang. Dinda cukup yakin bahwa mereka pasti bisa mendapatkan pelanggan. Mungkin dengan begitu, kalau mereka cukup pintar dan tak tertangkap, dalam beberapa bulan lagi Dinda akan sudah bisa kembali ke Jakarta. Dan kalau ia pandai menjual, mestinya uangnya akan cukup untuk menyewa kamar kos, cukup juga untuk membiayai keperluan hidupnya sehari-hari.

“Na,” kata Dinda. “Aku berubah pikiran. Aku mau deh rokok itu tadi.”

Nana tersenyum. Kelihatan sangat senang.

“Boleh,” dirogohnya bungkusan kertas tadi dari sakunya. Diraupnya batang-batang kecil putih di dalamnya. “Sinikan tanganmu,” katanya. Dinda menyodorkan tangan. Nana menungkrupkan tangan di atas telapak Dinda. Terasa betapa batang-batang tadi itu muruluk jatuh mengenai kulit telapaknya. Dinda buru-buru mengepal. Menggenggam barang-barang itu erat-erat. Nana menarik kembali tangannya.

“Saranku, jangan banyak-banyak dulu kau coba. Nanti terlalu pusing,” katanya tertawa kecil.

Dinda mendekatkan genggaman ke mata. Membuka jemari sedikit, mengintip.

“He, banyak juga ini,” katanya riang.

“Kalau kau mau, besok kubawakan lagi. Aku masih punya banyak.” kata Nana.

Dinda menatap sahabatnya, nyengir lebar.

“Boleh.” Dinda bersandar puas ke kursinya. Rokok haram pemberian Nana dimasukkannya ke saku. Dalam kepalanya, ia berpikir-pikir, kepada siapa akan dijualnya barang itu. Ingatannya melayang pada seseorang. Di Jakarta. Bagaimana kira-kira ia bisa mengirim barang-barang ini kepada orang itu, tanpa ketahuan? Atau mungkin ia kerja sama saja dengan Nana. Tadi ia mengaku bahwa kalau tak habis dipakai, sebagian barang itu dijualnya. Jadi Nana pasti tahu, kepada siapa mereka bisa menjual.

Dinda menyeringai sendiri. Sepertinya ia boleh optimis, tiket itu akan bisa segera dibelinya.

•••

Di sekolah, Senin itu, Dinda sedang sibuk mencoba memecahkan soal-soal latihan Kimia ketika mendadak terdengar ribut-ribut. Suara seruan, orang-orang sibuk bicara, disusul suara langkah berlari-lari di gang depan kelas. Kaget, Dinda mendongak. Dilihatnya Bu Santi sudah bangkit menuju pintu. Kawan-kawan sekelas Dinda turut bangkit, sebagian mencoba mengintai keluar dari kaca panjang di pintu kelas.

Bu Santi membuka pintu. “Ada apa? Hei, ada apa?”

Seorang siswa Kelas XII yang sedang lari lewat, berhenti.

“Ada yang berkelahi Bu!”

“Hah?? Siapa? Di mana??”

“Di depan sekolah. Katanya anak-anak Smansa mendatangi sekolah kita. Lalu ada anak kelas satu yang diseret, digebuki. Bu Nona sudah menelepon Polisi,” anak Kelas XII itu tergesa menjelaskan. Bu Nona Kepala Sekolah SMA Pelita Bangsa. Agaknya urusan ini serius sekali.

Baca Juga: Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Sembilan Belas

“Apa? Telpon Polisi??” Bu Santi pucat. Ia lupa menutup kembali pintu kelas saat keluar. Akibatnya, seluruh Kelas Piri Reis ikut berhamburan keluar. Seperti jagung pletok yang baru masak dalam kuali.

SMA Pelita Bangsa yang dibangun oleh salah satu negara sahabat saat pemulihan pasca tsunami, desainnya agak serupa dengan SMA-SMA di negara asal pendonor itu. Bagian depannya ada semacam bangsal luas, di kiri-kanannya pintu-pintu menuju Ruang Guru, Kepala Sekolah dan lain-lain. Lalu sebuah tangga lebar, menuju lantai dua tempat kelas-kelas berderet di sepanjang gang yang dipenuhi loker tempat tas dan buku.

Sekarang tangga itu dipenuhi anak-anak yang berlomba mencapai pintu depan, ingin melihat apa yang terjadi. Tapi ternyata pintu depan sekolah yang tinggi besar itu tertutup rapat. Gagangnya bahkan disatukan dengan gembok dan rantai. Beberapa anak kelas XI dan XII mengguncang-guncang rantai itu, mencoba membukanya. Tapi tentu saja sia-sia.

Mendengar suara ribut, Bu Nona lari keluar kantornya.

“Sedang apa kalian? Ayo kembali ke kelas. Dilarang keluar!” katanya.  Dengan lenguhan-lenguhan bernada protes, puluhan murid masih mencoba mengintai keluar lewat celah kaca pintu utama sekolah. Tapi Bu Nona dengan cepat sudah mengambil posisi, berdiri di depan pintu itu.

“Semuanya, kembali ke Kelas, sekarang! Polisi sudah datang. Ini bukan urusan kalian! Segera masuk Kelas!” suaranya yang dalam, posturnya yang tinggi, membuat siswa-siswinya sulit mengabaikan Bu Nona itu.

Dari puncak tangga, lewat jendela panjang di atas pintu sekolah, Dinda bisa melihat keluar. Nampak dua-tiga pikap Polisi diparkir melintangi gerbang. Beberapa petugas berseragam berdiri di seputar gerbang itu. Tapi tak nampak apa yang ingin Dinda lihat: anak-anak Smansa.

Suara Bu Nona sekali lagi berkumandang.

“Silakan kembali ke Kelas! Sekarang juga!”

Kemudian menyusul suara Pak Komar, guru PJOK merangkap koordinator keamanan sekolah. Badannya yang tinggi besar ditambah suaranya yang lantang memang cocok menjadi koordinator keamanan.

“Ayo, semuanya balik kanan! Masuk kelas!”

Disertai lenguh protes terakhir, seluruh siswa yang tadi berkerumun di bangsal dan di tangga, mulai mendaki kembali tangga itu. Pulang ke kelas masing-masing.

Sikut Dinda tersenggol seseorang saat ia tengah menaiki tangga. Kaget, Dinda buru-buru mendekap pinggangnya. Ia menyimpan rokok-rokok kecil tempo hari dalam ikat pinggang yang sedang dipakainya kini. Nana mengajarinya untuk membuka sedikit bagian kepala sabuk, lalu memasukkan rokok-rokok itu ke dalam celah sempit yang terdapat di antara kulit sabuk dan lipatannya.

“Kalau nggak, bisa juga diselipkan di keliman rok,” kata Nana saat membantu Dinda. “Atau di sambungan bawah celana dalam.”

“Hah?”

Nana ketawa mengikik melihat wajah Dinda.

“Percaya aja deh,” katanya.

Baca Juga: Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Dua Puluh

Debar jantung Dinda yang sempat melonjak, tenang kembali ketika ternyata anak yang menyenggol tadi sekedar tak sengaja saja. Dinda buru-buru masuk ke dalam arus anak-anak yang mengalir kembali ke kelas masing-masing.

“Aku pengen tahu, apa sih yang terjadi,” desis Dinda pada Nana, yang berjalan di sampingnya.

“Katanya berantem, kan?”

“Iya. Aku pengen tahu detilnya,” sepintas wajah si Serigala masuk ke dalam kepala Dinda. Namun segera ditepisnya.

“Nanti juga pasti kita dapat gosipnya,” Nana yakin.

Benar juga. Saat makan siang, para penghuni meja panjang yang biasa ditempati Dinda dan Nana sibuk mendiskusikan hal itu. Beritanya didapat dari mulut ke mulut, sumbernya konon anak PMR yang memberikan pertolongan pertama pada anak kelas XI yang kena pukulan.

“Siapa yang dipukul?”

“Faiz, anak XI Averous. Kenal? Yang tinggi kurus, drummer Kay Pang,” band yang disebutkan itu namanya cukup dikenal di sekolah. “Satu lagi Umam, yang motornya merah besar itu. Anak Averous juga.”

“Gimana ceritanya kok bisa kena pukul??”

“Katanya mereka izin keluar sebentar untuk fotokopi ijazah SMP. Buat syarat ujian. Lalu di jalan ketemu anak Smansa. Katanya sih anak-anak Smansa tersinggung karena debu jalan naik gegara ban motor Umam, bikin mereka batuk. Faiz dan Umam disuruh turun. Langsung kena jotos.”

“Gawat nih,” bisik Nana pada Dinda. “Dendam lama bangkit dari kubur. Taruhan, sebentar lagi bakal ada aksi balasan. Siap-siap perang nih.”

Dinda ketawa gugup. Walau pun ia menghabiskan masa SMP di Jakarta, tapi sekolahnya belum pernah terlibat tawuran. Memikirkan bahwa sekarang ini ia tinggal di Asrama, jauh dari keluarga, dan ada kemungkinan akan pecah tawuran antara sekolahnya dengan sekolah tetangga, membuatnya takut.

(Bersambung ke Bagian Dua Puluh Dua)

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here