Dahlan 1909: Jangan Naik Becak Abang Itu, Milain!

“Aduh, gawat nih. Mana Milain lagi datang bulan. Bakal kena pijak nih,” Dahlan menggerutu sambil keluar kelas. Kutu-kutu di rambutnya serasa sedang nge-jam session.

Ilustrasi Dahlan 1909. (Breedie/Freepik)

~ Terinspirasi dan terngiang-ngiang dari “Dia Adalah Dilanku Tahun 1991” by Pidi Baiq

Siang itu cuaca sedang sangat terik. Keterikannya merambat masuk ke dalam salah satu kelas XII di sebuah SMA Negeri X. Guru pelajaran Geografi masih terus menjelaskan di jam pelajaran terakhir itu.

Di sudut kelas yang mejanya dipenuhi sayatan cutter bertuliskan “I love U”, duduk termenung seorang murid yang bertampang sangat biasa. Namanya Dahlan. Dan ia dikenal sebagai siswa kurang teladan di sekolahnya. Dahlan juga dikenal sebagai murid yang sering berkelahi dan ngutang di kantin. Banyak ibu kantin tidak suka pada Dahlan.

Muka Dahlan terlihat bosan mendengar gurunya berceramah di depan kelas. Dahlan menopang kedua pipinya dengan telapak tangan hingga biji matanya tak terlihat lagi. Dari detik ke detik, level bosannya terus bertambah … menuju stres.

Sementara itu, puluhan meter dari meja Dahlan, dipisahkan oleh beberapa dinding bangunan sekolah, Milain (baca: Mailein) juga hampir menemukan stres yang sama. “Uh! Mana sih ini Dahlan. Enggak tahu panas apa orang itu?” Milain menggerutu di parkiran sekolah karena yang dinanti tak kunjung tiba.

Milain ini pacar Dahlan. Anehnya, sebagai anak yang tergolong pintar di kelasnya, Milain sangat menggilai Dahlan yang gila. Padahal, banyak anak perpus dan anaknya ibu kantin tertarik pada Milain. Mereka acap mendekati Milain mencoba mencari perhatian dengan membawa bunga, cokelat, bahkan boneka santet. Entah kenapa, keteguhan hati Milain pada Dahlan tidak pernah goyah.

Hari itu, kelas Milain lebih cepat bubar. Gurunya beralasan mendadak ikut rapat siskamling. Padahal, setelah diselidiki ternyata gurunya sedang kehabisan bahan ajar dan kecapean karena semalam sibuk jalan-jalan ke mall bareng suaminya.

Bel pulang sekolah sudah berbunyi tapi gurunya Dahlan masih terus betah mengajar. Sepertinya lagi banyak bahan ajar. Ternyata setelah diselidiki, gurunya Dahlan ini jomblo dan tiap malam hanya membuat bahan ajar saja sebab tidak ada yang mengajak chat di WhatsApp.

Ilustrasi Milain. (Breedie/Freepik)
Ilustrasi Milain. (Breedie/Freepik)

Lima belas menit pascabunyi bel pulang, akhirnya gurunya Dahlan bersiap-siap mengakhiri pelajaran hari itu. Air muka Dahlan perlahan-lahan mulai jernih.

“Baiklah, sampai di sini saja pembahasan hari ini. Ada pertanyaan?”

Seisi kelas hening. Semua siswa sepertinya berharap tidak ada yang bertanya lagi. Namun, tiba-tiba dari meja barisan depan, sebelah tangan teracung. “Hmm … ada yang ngajak karaoke rupanya,” keluh Dahlan dalam hati.

“Oh ya, Susi, Kau mau nanya apa, nak?” Sang Guru balik bertanya.

Siswa yang bertanya itu adalah juara umum di sekolah. Susi juga langganan ikut olimpiade IPS tingkat kabupaten.

Air muka Dahlan berubah lagi. Dari jernih kini menjadi becek berlumpur.

Mungkin, tak hanya bagi Dahlan. Ini merupakan momen terkesal sepanjang hayat bagi mayoritas anak sekolah.

Akibat ulah Susi Pudjiastuti tersebut, kelas Dahlan bubar sejam setelah bunyi bel.

“Aduh, gawat nih. Mana Milain lagi datang bulan. Bakal kena pijak nih,” Dahlan menggerutu sambil keluar kelas. Kutu-kutu di rambutnya serasa sedang nge-jam session.

“Gara-gara Susi ini. Sudah jadi istrinya Andika Pratama pun”, tambah Dahlan.

“Itu Ussi, Lan…” Gurunya Dahlan nimbrung dari belakang.

“Eh, Pak, maaf Pak, Hehehe.”

Ilustrasi Dahlan. (Breedie/Freepik)
Ilustrasi Dahlan. (Breedie/Freepik)

Dahlan pelan-pelan kabur dari kelas. “Ini pun nyambung aja si botol kecap,” ucapnya dalam hati.

Dahlan menuju parkiran untuk menemui Milain. Milain yang sudah menunggu lebih sejam sudah menampilkan raut cemberut. Ditambah lagi, bedaknya mulai luntur karena keringat.

“Kau tahu enggak sih aku nunggu lama kali,” ujar Milain.

“Iya, itu guruku lama kali ngajarnya. Terus si Ussi juga pake nanya-nanya segala.”

“Susi….”

“Iya, itu maksudku.”

“Alah, banyak omong kau. Bilang aja kau enggak sayang lagi sama aku. Kau enggak lihat ni, bedak lima puluh ribuku mulai luntur,” balas Milain dengan nada panas sepanas teriknya matahari. Entah apa merek bedak yang dipakai Milain. Dahlan memang beberapa kali mendapati bedak tersebut meleleh jika Milain berpeluh banyak

“Kok ngomong gitu kau, kan bukan salahku.”

“Pokoknya salah kau udah buat aku nunggu lama.”

“Ya udah, kau jangan nunggu, berat, kau enggak akan sanggup. Biar aku saja,” Dahlan merayu Milain. Entah apa maksud Si Dahlan ini. Merayu di siang bolong saat orang kepanasan, bukannya membeli es krim.

“Alah eek kucing kau. Enggak kau bilang gitu pun aku tahu kalau nunggu itu berat. Aku enggak suka dan juga memang kau aja, aku enggak mau.”

Kalimat dari ucapan terakhir Milain tak begitu dipahami Dahlan. Tapi ia mulai panik. Sepertinya Dahlan menangkap makna tersirat.

“Ya udah, aku antar kau pulang aja ya. Aku jagain kau. Kalau ada yang ganggu kau, besok orang itu akan hilang.” Dahlan membujuk dan mencoba merayu lagi.

“Enggak usah, Lan. Kau yang enggak usah ganggu aku lagi. Dan kau aja yang menghilang dari hidup aku. Enyah kau dari penglihatanku keparat“.

“Milain, maksud kau gimana?” Dahlan makin panik. Raut mukanya sudah tak enak untuk dilihat.

“Kau punya kuping dan bisa dengar cakap aku kan?”

“Iya aku dengar. Ya udah, aku antar pulang aja kau ya?”

“Enggak usah, aku pulang naik becak aja. Udah ya Dahlan.”

“Kalau kau pulang, itu hak kau. Asal jangan naik becak abang itu!”

[Arief Dermawan]

Diperbarui pada ( 3 Maret 2024 )

Facebook Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *