~ Candu membentuk peradaban, peradaban yang ‘terkendali’

Konon, di satu pemukiman yang terseok-seok usai mair membekap di sepanjang waktu, akan datang siklus di mana ‘hidup normal’ menyambut. Walaupun sosiolog Ariel Heryanto pernah bergumam bahwa, “sejarah manusia adalah sejarah ketimpangan,” dan kita seperti gemar menghibur diri bahwa masa damai setelah puluhan tahun berkonflik itu benar adanya, tak salah jika meletup-letup utopia di pikiran ini. Sama seperti cerita 1984.

Tahun itu (1984) adalah judul novel George Orwell. Pria ini pintar merangkai satir perihal sosial dan politik masa otoritarian di Soviet, sebelum porak-poranda. Saya juga harap Anda pernah membaca ‘Animal Farm’, karya monumental lain Orwell yang bercerita tentang tingkah babi yang mengadaptasi moralitas manusia. Tak apalah, lain waktu kita bicarakan isi bacaan itu.

Saya memimpikan, di satu pemukiman yang baru pulih dari konflik berkepanjangan, harapan adanya tatanan utopis kemudian melenggang liar menuju kegamangan. Dalam tatanan itu terbelahlah dua kubu. Pentolan dari masing-masing kubu itu, sebut saja namanya Toni Aspoedoen dan Kojak Marboemi. Keduanya punya nama alias, disapa Jakar dan Pentung, sehari-harinya. Entah si sakit mana yang menjuluki mereka seperti itu.

Tumbuh di rentang masa-masa kelam, baik Pentung dan Jakar membaur dalam masyarakat yang tengah dijangkit distopis–lintasan masa depan yang suram. Krisis sembako, sempitnya lapangan kerja, perampokan rawan, penduduk yang memadat, got-got sepanjang jalan yang bau, sampah menumpuk dan genangan air yang penuh sarang nyamuk.

Orang-orang seperti ini lebih nyata terlihat oleh keseharian masyarakat. Tidak sama dengan mantra-mantra pejabat yang terlihat mustajab jika disertai beberapa lembar uang kertas. Bagi penduduk gang sempit yang sewaktu-waktu tergusur, keberadaan preman adalah realitas, sedangkan aturan yang disuarakan pejabat adalah hal rumit yang tak dapat mereka sentuh. Imbuh mereka, “Jangan sampai tontonan debat orang yang berebut kuasa di panggung-panggung kota mengganggu jadwal masturbasi kita.”

Preman-preman bergerak leluasa atas komando Jakar dan Pentung. Mereka berdagang candu dengan serampangan. Bertakhta di pojok-pojok pasar, jalanan, sekolah, rumah bordil, sampai ke loji peribadatan. Preman-preman ini bahkan punya meja resmi di teras-teras kantor birokrat.

Candu yang dijual sembarang itu, bukan candu biasa. Selain fisik, mereka juga menyasar pikiran dan perasaan orang-orang. Untuk membuai badan, mereka menyorong alat isap pada umumnya. Tapi untuk candu perasaan, ada satu kenikmatan, namanya ‘keghaiban’. Ya, segaib mucikari berdasi beberapa bulan memelas ke kampung-kampung menjajakan janji, lalu mengendap hilang.

Si Jakar dikenal sebagai kepala kelompok Pecinta Langit, sedang Pentung jadi ketua di divisi agitasi kelompok Pemuja Bumi. Mulanya, mereka berasal dari satu moyang, darah yang sama merah, organ yang sama jumlah.

Perpecahan bermula karena berebut potensi air saat kemarau. Janjinya pada warga, air akan diminum sama-sama. Syaratnya, masing-masing kampung harus pilih wakil untuk mengatur penyalurannya.

Didapuklah Jakar dan Pentung. Mereka bikin tim, untuk permudah urusan, semacam kabinet. Dan mereka tempati hirarki masing-masing kelompok, semau mereka.

Entah sial dari mana, singkatnya, lantaran sulit dapat air, mereka memancang batas pelan-pelan. Lama-lama mereka malah saling rebutan wilayah air yang debitnya di mana-mana ada, tapi di mana-mana juga dangkal.

Lantaran ribut dingin ini, mereka sibuk sendiri, tak lagi memikir warga. “Minum nanti saja, sekarang kita pastikan dulu mana batas wilayah sumur-sumur kita,” katanya.

Yang menyamakan mereka, adalah pekerjaan membagi dan menjual candu. Candu berupa obat bubuk maupun rangkaian retorika orang-orang berpengaruh. Karena bagi mereka, candu bisa mengunci otak orang agar tenang dibuai mimpi. Dengan demikian, cukup mereka yang berseteru, sementara warga dibuat teler.

“Candu membentuk peradaban, peradaban yang ‘terkendali’,” kata Kojak dalam satu malam yang memabukkan. Candu bikin warga bisa diatur, dipantik, dan dilepas liar jika perlu.

Saya tak ingat keributan macam apa yang terjadi lagi sesudahnya. Mungkin kapan-kapan kita bicarakan rusuhnya seperti apa. Sampai di sini dulu, daya imajinasi ‘sekolahan’ saya juga tumpul. Kadang Anda aneh jika terlalu banyak berkhayal yang tidak-tidak saat usia belasan tahun. Namun saya kerap membatin, suatu saat harusnya saya ada di kehidupan tokoh-tokoh fiksi tadi.

Ide, seakan mengendap. Ia pecah ke beberapa bagian sebagai sisa ingatan terhadap apa yang dibaca dan ditafsirkan. Selembar halaman buku, cuplikan artikel yang dibaca tadi pagi, baliho yang tegak di seberang lampu lalu lintas, mural di tembok pinggir jalan, ocehan penyiar di radio, semua hanya lalu sekian saja.

Lagi pula, berhubung prinsip ‘tafsirkanlah sesuatu sebelum itu suatu saat dipersoalkan’ masih melekat di kepala, maka penting berimaji liar, menghubung-kaitkan istilah candu, air, keghoiban, rusuh, dan barbarisme yang belakangan menyasar orang-orang. Seraya membiarkan kebingungan menjalar ke mana-mana. Karena candu membuat semua tindakan kerap membingungkan lagi tak bernalar.

*Foto ilustrasi: potongan majalah Tempo edisi 19 Februari 2018

Komentar

Komentar