~ Tips apa adanya tanpa pakai mujarab

Bagaimana cara skripsi cepat kelar supaya segera bertemu dengan paraf dosen penguji dan pembimbing? Gampang, ngopi dulu. Malam lewat, saya bicara singkat dengan Editor Breedie Fuadi Mardhatillah. Rupanya, beliau sedang memasuki masa mumang-mumangnya menyelesaikan skripsi. Kalau cuaca, ini sudah mendekati pancaroba; kadang-kadang hujan, eh, besok sudah panas.

Saya bertanya persis seperti judul tulisan ini. Lalu Fuadi menjawab, “Rutin bikinnya. Ini masih berangin-angin, kadang-kadang semangat, bistu udah malas, tunda-tunda … penyaket!” Saya mencoba menjawab “kasian” tapi tak tega. Cuma cekikikan dalam hati. Saya juga tak punya tips apa yang mesti dilakukan agar skripsi dia cepat selesai. Saya yakin plus percaya, Fuadi punya cara sendiri. Kalau ia sudah mendapatkan masalah yang menjadi penghalang menyelesaikan skripsi, otomatis jalan keluarnya juga telah diketahui. Tinggal lagi eksekusi.

Selain Fuadi, bulan lalu saya bertemu Riki alias Rizki Hamid, Penanggung Jawab Media Sosial Breedie. Topiknya sama: skripsi. Bedanya, jika Fuadi sudah mulai menulis dan mengumpulkan data, Riki masih mencari judul. Jadilah pembicaraan kami berputar-putar soal judul, metode penelitian, hingga data-data apa yang mesti dikumpulkan. Lama-lama kami terlihat sangat serius. Nyamuk-nyamuk yang hilir mudik ke sekujur tubuh tak kami pedulikan. Yang penting judul harus dapat, titik.

Untunglah judul yang dicari ketemu. Sementara metode, data, dan referensi bacaan, masih berproses. Ketika minuman telah tandas, saya melirik ke arah Riki. Dia masih serius dengan laptopnya, memelototi judul yang baru saja didapatkannya. Saya minta pamit, takut kepala terlalu pusing dan trauma masa lalu datang tiba-tiba. Kenapa trauma? Karena skripsi saya tak pernah selesai.

Ilustrasi tugas menumpuk
Ilustrasi tugas menumpuk. (Resource freepik.com)

***

Jadi Breeders, judul tulisan ini tak mencerminkan isinya. Buat Breeders yang memiliki kasus dua rupa seperti di atas, membaca tulisan ini mungkin yang terpikir pertama adalah cara menyelesaikan skripsi. Salah besar. Bagaimana mungkin orang yang skripsinya tak pernah jadi, memberi saran kepada orang yang sedang berdarah-darah dengan skripsinya? Dua hal yang berlawanan, yakan?

Tapi, enjoy saja Breeders. Tak perlu keningmu berkerut-kerut tak jelas kalau skripsi belum rampung. Saya punya jalan keluar. Bukan yang terbaik tentu saja karena banyak sekali jalan menuju Roma.

Skripsi adalah benda yang menyita banyak waktu. Ia menuntutmu fokus. Misalnya, seperti kata Fuadi di atas, jangan ditunda-tunda. Sekali saja menunda, skripsi ini akan menyita waktumu lebih banyak. Tak percaya? Tanya sama Fuadi.

Namun, generasi milenial sekarang mendapati begitu banyak godaan ketika menyelesaikan skripsi. Sekarang zaman gadget. Kadang-kadang penting update instagram story dulu ketimbang mengetik barang dua atau tiga paragraf skripsi. Rasanya, tengok-tengok Facebook sejam dua jam bikin jari lancar mengetik skripsi. Ujung-ujungnya, dua jam itu berubah jadi enam jam, delapan jam, hingga tertidur di warung kopi. Pas membuka mata, warkop sudah tutup, WiFi mati. Pulang ke rumah rencananya membaca referensi tapi yang ada malah nonton Game of Thrones.

Senior-senior kita yang dulu cobaan terberat mungkin masalah mengetik. Waktu belum ada komputer, mesin ketik jadi andalan. Kalau laptop gampang diusung kemana-mana, mesin tik tentu tidak. Kecuali mesin tik mungil yang gampang dibawa serta. Itu pun sudah aneh jika dilihat orang, disangkanya tukang servis, bukan mahasiswa yang mau mengetik skripsi. Rintangan lain paling hobi-hobi kecil seperti memancing atau bermain bola. Ada senior saya yang hobi memancing hingga lupa pulang untuk mengetik skripsi. True story.

Terlepas dari itu, skripsi tentu harus selesai. Masalah lama atau tidak terpulang ke masing-masing orang. Saya tak mau terlalu jauh merambah ke bahasan itu, nanti terlihat seperti dosen pula.

Walaupun menyita waktu dan menuntut fokus, Breeders juga harus melihat skripsi sebagai benda normal. Ia bukan benda langit yang secara ajaib tiba-tiba ke bumi. Mati-matian menyelesaikan skripsi, oke, tapi tubuh dan pikiran juga harus luwes. Misal, ketika teman mengajak ngopi di saat kamu berkutat di alinea sekian halaman sekian, jangan tolak mentah-mentah. Ingat kata orang, kopi membuatmu waras.

Jika memang tak ingin pergi ngopi, balas ajakan itu dengan nada baik-baik. Bilang kamu baru bisa ngopi besok, bukan hari ini. Jangan cepat-cepat menjadikan skripsimu sebagai tameng penolakan. Jadikan skripsimu sebagai kawan, bukan sebagai lawan, ingat ya.

Ajakan-ajakan lain seperti futsal, mancing, dll juga begitu. Tolak saja jika memang sedang betul-betul mengerjakan skripsi. Sikapmu sudah ponten 100 ketika lebih mementingkan itu. Yang jangan, menolak diajak ngopi dengan alasan sedang menulis skripsi padahal kamu sedang pacaran.

Ilustrasi kelelahan
Ilustrasi kelelahan. (Resource: freepik.com)

Mulailah menulis dengan bahan yang ada. Jangan menunggu semua bahan terkumpul lalu menulis sekaligus. Kadang-kadang hal begini bikin capek dirimu, anak muda. Menulis dengan metode menyicil seperti ini membuat waktu kita untuk membaca ulang sekaligus mengeditnya jadi lebih banyak. Tapi tidak disarankan kamu menulis daftar pustaka lebih dulu.

Selain itu, catatan-catatan kecil yang mungkin tidak dimasukkan ke dalam skripsi, perlu dituliskan. Modelnya terserah, mau ditulis di papan atau di laptop dalam note, juga boleh. Catatan kecil ini bisa menjadi pengingat nantinya ketika ada yang kurang di skripsi. Itu mungkin juga bisa jadi petunjuk kala menghadapi siksaan dosen penguji saat sidang.

Tempatkan lembar-lembar skripsi ke dalam satu folder. Jangan sampai tercerai-berai, Breeders. Jangan pendahuluan berada di drive D, sementara bagian metode penelitian ada di E. Taruh di satu tempat yang gampang dicari. Lebih oke jika di desktop. Jika dokumen itu di-print di rental, usahakan flash disk penyimpanan bebas dari virus dan folder datamu di-back up lebih dulu.

Suasana menulis juga penting. Ini sih beda-beda orang. Ada yang mampu mengetik sembari duduk di trotoar jalan atau warung kopi, ada yang butuh lokasi-lokasi sunyi. Cari tempat yang sesuai seleramu dan usahakan tidak ada gangguan. Tapi, jangan menulis sambil nonton YouTube, ya?

Diskusi dengan teman atau senior yang lebih dulu khatam skripsi. Walkhusus kepada para senior ini, Breeders juga minta arahan-arahan, supaya beliau-beliau itu ada gunanya sebagai abang leting. Tanyakan yang tidak diketahui, diskusikan yang telah diketahui. Namun, topiknya tetap pada skripsi. Jangan menjurus ke gibah-gibah yang tak perlu. Gosip-gosip murahan disimpan dulu.

Hasil skripsi yang telah dicetak lebih baik dibaca ulang. Periksa lagi typo-typo jika ada. Membaca di kertas nuansanya berbeda dengan di laptop. Lagi pula, yang diberikan ke dosen di ruang sidang nanti adalah skripsi cetak, bukan laptop.

Berbaik-baiklah dengan dosen pembimbingmu, kawan. Jaga perasaannya, bercandalah pada tempatnya. Jangan memaksa harus konsultasi terus sementara yang mau dibahas cuma soal spasi. Dosen pembimbing juga mengajar dan ia mengampu banyak mahasiswa bernasib malang seperti dirimu. Jadi, dosen-dosen ini punya waktu yang padat juga. Kalau mau konsultasi usahakan buat janji sehari sebelum bersua. Jangan jam 12 malam kamu ketuk-ketuk pintu rumahnya supaya ia mau meladeni konsultasi skripsi.

Mungkin, saran-saran ini sudah sering Breeders dengar. Namun, yang penting bukan itu. Dari banyaknya mahasiswa tiap tahun membuat skripsi, ada satu celah bisnis yang bisa Breeders lakoni. Bisnis ini tidak akan membuatmu gagal sebagai mahasiswa. Bisnis ini bahkan mampu menjagamu dari bencana kelaparan di ujung bulan. Tapi karena ini bisnis, tentu ada resikonya, untung belum jadi, gagal sudah pasti. Apa itu? Menjadi tukang ketik skripsi.

Komentar

Komentar