Abdul Samad, Kuda, dan Lembu

NAMA panjangnya Abdul Samad. Orang memanggilnya Samad. Ia mulai aneh. Ia percaya betul, pernah ada suatu masa di zaman silam manusia dengan binatang dapat berkomunikasi dan saling mengerti bahasa antara satu dengan lainnya.

Namun itu terjadi pada waktu yang lampau sekali. Kepercayaan itu kini membuat Samad kerap berandai-andai. Samad berharap bisa kembali terulang zaman itu di masa sekarang. Samad punya sebuah kitab tua tentang doa-doa kuno yang jika dihafal serius akan membuat seseorang mengerti bahasa binatang.

Tingkah Samad seperti itu sebenarnya dikarenakan Kuda dan Lembu yang dipeliharanya mulai menunjukkan sikap tak biasa. Samad merasa kedua binatang itu sering mengerjainya.

Setiap kali saat membersihkan kandang, Kuda dan Lembu itu secara bergantian menamparkan ekornya pada punggung Samad. Mulanya ia mengira itu hal wajar. Tapi di lain waktu binatang itu juga berkali-kali menyemprot kotorannya hingga melumuri pakaian Samad.

Seiring waktu berlalu, Samad mulai menaruh curiga dan menduga ada unsur sengaja pada tingkah binatang itu. Samad juga mulai sering memergoki kedua binatang kesayangannya itu merusak kandang, memakan bunga di halaman dan si Lembu mulai bermalas-malasan saat digiring membajak sawah. Demikian juga Kuda, mulai bertingkah setiap hari Minggu saat mengangkut belanjaan dari kota.

“Di belantara hutan begini apa yang lebih penting dari menguasai bahasa binatang? Tidak ada!” Begitulah suatu hari Samad membuka perbincangan dengan istrinya tentang apa yang dipikirkannya selama ini. Samad merasa bodoh dan frustasi saat tak bisa mengerti apa yang sehari-hari binatang itu bicarakan.

Kepada istrinya ia menjelaskan perihal Kuda dan Lembu yang dianggapnya sangat mengganggu pikirannya itu. “Aku harus kuasai doa itu,” Samad berujar dengan yakin sekali. Ia tak sabar ingin mengetahui apa yang dibicarakan Kuda dan Lembunya itu setiap harinya.

Suatu malam Samad menemukan keajaiban. Ia bermimpi didatangi seorang kakek tua yang mengenakan pakaian serba putih. Kepada Samad, kakek itu memberikan sesuatu yang telah dibungkus rapi dengan kain berwarna putih juga. “Terimalah!” kata si kakek. Kakek itu kemudian pergi dan menghilang begitu saja.

Samad sangat ketakutan dalam mimpi itu. Tiba-tiba ia terbangun dan mendapati tubuhnya dibasahi keringat dingin. Malam itu Samad bingung. Ia sempat duduk merenung sesaat sebelum akhirnya mendengar kegaduhan di luar rumah.

Betapa terkejutnya Samad. Di tengah malam buta itu ia memergoki Kuda dan Lembunya tengah memperebutkan tempat tidur. Mereka memperebutkan api unggun yang setiap malam disediakan Samad di kandang itu. Si Kuda ingin memperoleh tempat tidur paling dekat dengan api, sementara sang Lembu tak mau berbagi sedikitpun.

Melihat itu, berdebarlah dada Samad. Bukan pada apa yang dilihat, tapi pada apa yang didengar. Kuda dan Lembu berbicara, dan Samad mengerti persis apa yang binatang itu bicarakan. “Oh, tidak! Tidak mungkin! Aku telah kuasai doa ini?” Samad seakan tidak percaya. Ia girang bukan main.

Malam itu dia tidak melanjutkan tidur dan memutuskan untuk terus mengintip lakon unik yang sedang diperagakan kedua binatang peliharaannya. Samad menghabiskan malam itu dengan menguping pembicaraan Kuda dan Lembu. Ia benar-benar tidak tidur sampai pagi menjelang, sampai istrinya bangun salat subuh dan memasak nasi.

Besoknya adalah hari Minggu. Saatnya pergi belanja ke kota. Ini waktu yang ditunggu-tunggu Samad. Ia ingin balas dendam. Maka berangkatlah Samad dengan Kuda, sementara istrinya menggiring Lembu membajak sawah di belakang rumah.

Hari itu cuaca panas sekali. Setelah berbelanja Samad kembali menunggang Kuda dan pulang. Dalam perjalanan pulang itu, Kuda yang ditunggangi Samad terdengar bersiul-ria dan bernyanyi. Samad memasang kupingnya baik-baik.

“Manisnya hidup menjadi Kuda, Lembu binatang malang…

Indahnya bangunan kota, Lembu tak pernah melihatnya…

Na na na na…

Manisnya hidup menjadi Kuda, Lembu malang membajak sawah…

Manisnya hidup Tuan Samad, Lembu dan Kuda dipaksa kerja…

Na na na na…”

Begitulah si Kuda terus bernyanyi dan Samad berlaku seperti biasa, berpura-pura tak tahu, Samad menahan tawa.

Hari telah sore saat Samad tiba di rumah. Istrinya telah berdiri di pintu pagar menyambut Samad. Barang belanjaan dimasukkan ke dalam rumah, sementara Samad menggiring Kuda masuk kandang dan menyiapkan kayu bakar untuk menghidupkan api unggun.

Di sana, Lembu sudah menanti. Lembu itu tengkurap murung sambil memakan sisa rumput.

“Na na na na … Ada yang ngambek bosan di kandang, saya baru pulang bersenang-senang …” Kuda bernyanyi lagi.

Masih seperti nyanyian tadi, si Kuda membanggakan diri dan mengejek Lembu.

Tak tahan, Lembu merespon juga akhirnya.

“Sudah nasib di kandung badan, aku hanya Lembu yang malang,” kata Lembu.

“Dan kau tahu siapa yang lebih celaka?” tanya Kuda kemudian.

“Tuan Samad majikan kita … Tuan Samad paling celaka … Dia setiap hari bersihkan kotoran kita…”

Kuda dan Lembu menyanyikan kalimat itu berdua. Mereka terus mengulang kata itu sambil tertawa terbahak.

“Kurang ajar!” Samad menggerutu dalam hati.

“Awas kalian!” hati Samad panas benar. Ia lalu keluar kandang setelah membersihkan kotoran Kuda dan Lembu.

Tebakannya selama ini ternyata benar. Kuda dan Lembu mengerjai dirinya. Samad kesal sekali. Dan semburan kotoran Lembu maupun Kuda yang selama ini kerap mengenai bajunya ternyata disengaja.

Samad sungguh kesal. Tapi ia harus bersabar. Ia ingin memulai misinya. Samad menyusun strategi balas dendam.

Malamnya Samad kembali menyelinap di balik kandang. Ia ingin mendengar lagi apa yang dibicarakan Kuda dan Lembu. Ia ingin tahu apakah mereka masih bernyanyi dan mengejek dirinya.

Dugaan Samad benar lagi. Kuda dan Lembu sedang membicarakan dirinya.

“Kud, kota itu gimana ya?” tanya Lembu pada Kuda.

“Aih, susah aku jelaskan. Kau kan belum pernah pergi ke manapun selain ke sawah dan sungai.”

“Justru itu. Masa kamu nggak mau cerita.”

“Sebenarnya aku mau cerita, tapi percuma, kau pasti tak akan paham jua.”

“Cerita aja dulu. Masak tega gitu kamu.”

Kuda dan Lembu terus berbicara sementara Samad menyimak dengan baik. Ia tak mengira gigitan nyamuk di kakinya. Tetap saja dia berdiri mematung di balik pohon pisang di belakang kandang untuk mendengar binatang peliharaannya itu berbicara.

“Berarti enak sekali kamu bisa ke kota tiap bulan,” si Lembu mengucap itu dengan nada putus asa setelah mendengar penjelasan tentang keindahan kota dari Kuda.

“Jelas enaklah. Dan bahkan jauh lebih enak dari yang bisa kamu bayangkan,” jawab Kuda dengan nada serius.

Ia benar-benar meyakinkan Lembu akan keindahan kota, sehingga Lembu semakin terlihat cemberut. Keduanya lalu diam. Mereka berbagi tempat tidur dengan adil sekali malam itu. Keduanya tidur melingkari api unggun yang dibuat Samad tadi sore.

“Tapi, Lem,” Kuda memulai lagi percakapan. “Kamu juga bisa ikut ke kota asal kamu mau!”

“Hahh? Yang betul, Kud,” Lembu semakin keheranan. “Gimana caranya,” tanya Lembu lagi.

“Minggu depan waktu aku ke kota sama si majikan bego itu, kau diam-diam ikut aja. Kau ikuti terus jejak aku sampai ke kota,” Kuda meyakinkan Lembu.

Sesekali Kuda itu melirik ke arah wajah si Lembu. Kuda selalu ingin mengetahui raut muka si Lembu setiap mendengar kata-katanya.

Kuda menikmati itu. Ia puas bisa membuat hati Lembu menjadi sendu-sendu galau begitu.

“Wah benar juga, ya,” Lembu menjawab dengan girang. Mereka kemudian tertawa bersamaan.

Di balik pohon pisang di belakang kandang, Samad juga tertawa keras dalam hati. Tapi Samad merasa belum pada posisi menyerang. Ia ingin terus melakukan operasi penyelinapan dan mengumpulkan data intelijen. Bukan berarti tidak kesal dengan ulah Kuda dan Lembu. Tapi Samad harus tetap bersabar.

“Kud, kamu tau nggak. Aku juga bosan membajak sawah terus. Cape kali aku,” keluh si Lembu kemudian.

Kuda melirik raut muka Lembu dan tersenyum puas. “Ehm, sebenarnya aku bisa bantu kamu.”

“Benarkah? Bantu aku. Kumohon, Kud,” pinta Lembu dengan iba.

“Sebenarnya cukup gampang. Besok kamu hanya perlu pura-pura sakit. Mudah, kan?” Kuda memberi ide cemerlang dan Lembu girang bukan main. Keduanya lalu tertawa keras.

“Na na na na… majikan kita bodoh sekali…” Kuda dan Lembu menyanyikan lagi lagu itu sambil tertawa dan akhirnya tidur.

Malam itu larut dengan pelan. Samad berjalan perlahan masuk rumah dan tidur di samping istrinya yang entah mungkin sedang bermimpi. Ia terus berpikir rencana balas dendam.

Paginya Samad sampai kesiangan bangun. Ia berjalan lesu menuju dapur. Membasuh muka dan sarapan sendiri. Dari sumur terdengar suara istrinya menimba air. Selesai sarapan Samad bergegas mengganti baju. Ia memakai baju kerja dan pergi menuju kandang. Mereka akan membajak sawah hari itu.

Seperti biasa, Samad mengambil langai yang diletakkan di sudut bagian luar kandang.

Samad lalu memasang tali pada leher Lembu dan berusaha menggiringnya keluar. Tapi bukannya bangun, si Lembu malah tidak berkutik sama-sekali. Binatang itu tidur tengkurap di dekat sisa bara api. Matanya tidak terpejam. Ia melotot dengan sedikit sayu. Dari hidungnya keluar cairan, dari matanya juga. Sesekali ia bersin. Sementara di sampingnya berdiri si Kuda. Si Kuda membelakangi Lembu. Ia menatap kosong keluar kandang.

Samad tidak menyerah. Dia kembali menarik tali agar Lembu bangkit berdiri. Tapi Lembu sepertinya sakit dan tak sanggup berdiri. “Kenapa begitu, apa kamu sakit?” Samad berkata pelan seolah berbicara sendiri.

Padahal Samad tahu kalau Lembu dan Kuda sedang membohongi dirinya.

“Seharusnya hari ini kita selesaikan membajak sawah. Besok kita mulai menanam,” kata Samad seperti berbicara sendiri lagi. Ia berdiam sejenak di sana. Samad melirik Lembu yang masih tengkurap murung.

“Oh, kamu kelihatan kurang sehat, sayang sekali. Ya sudah, kamu istirahat hari ini, nanti saya bawa pulang kamu rumput segar yang banyak supaya lekas sembuh,” kata Samad. Ia melirik lagi wajah si Lembu, tampak semakin sendu muka binatang itu.

Di belakang Lembu masih berdiri si Kuda. Ia masih menatap kosong ke luar kandang.

Samad berdiri di antara Kuda dan Lembu.

“Hmm, Kalau begitu.. Saya punya ide,” kata Samad dengan suara sedikit keras.

“Berarti… berarti.. Kuda harus ganti Lembu membajak sawah!!,” kata Samad tiba-tiba.

Tanpa pikir lama. Samad segera melepaskan tali pada leher Lembu dan memasangkannya pada leher Kuda. Si Kuda kemudian digiring ke luar kandang dan terus ditunggang menuju sawah untuk membajak.

Sepeninggal Samad, si Lembu bangkit dan bersorak ria sekali. Ide si Kuda memang cemerlang sekali. Lembu tertawa puas. Keadilan akhirnya berpihak padanya. Lembu juga tertawa mengingat ide si Kuda yang kemudian menjadi senjata makan tuan bagi dirinya.

Seharian itu Lembu tidur sepuasnya di kandang. Saat siang hari tiba, istri Samad datang membawa rumput segar banyak sekali. Lembu melahap itu sendiri dan dia senang sekali.

Hari itu cuaca memang sangat panas. Ketika sedang asik makan, Lembu sempat berpikir akan nasib Kuda di sawah. Tapi dia berpikir biarlah, yang penting ia bisa merasakan santai sekali ini.

Saat matahari mulai memerah di ufuk barat, barulah terlihat si Kuda pulang ditunggangi Samad dari sawah.

Kuda kemudian digiring menuju kandang. Mereka telah menghabiskan waktu seharian membajak sawah. Terlihat sekali raut lelah pada wajah Kuda. Ia berjalan tertatih dan berat sekali.

Tak ingin sandiwaranya diketahui Samad, si Lembu buru-buru tengkurap dan memasang wajah murung.

Seperti biasa. Di kandang, Samad menyiapkan api unggun dan bergegas keluar menuju sumur untuk mandi.

“Hiks… hiks… Tidak! Ini tidak adil,” terdengar si Kuda menangis demikian pilu. Kuda terus menangis dan mengeluarkan banyak air mata. Lembu mencoba menyikapi secara dewasa.

“Inilah hidup, Kud. Kamu baru sekali ini ke sawah sudah menangis,” kata Lembu menenangkan Kuda.

“Kau tak boleh menangis, aku tiap hari membajak tidak pernah menangis,” kata Lembu lagi.

Kuda terus saja menangis, tapi sejenak kemudian ia berhenti. “Bukan itu masalahnya, Lem. Aku menangis bukan karena lelah,” si Kuda menjawab.

“Terus kenapa?”

“Aku nangis karena…”

“Karena apa??”

“Karena, kata majikan…”

“Apa kata majikan??”

“Kata majikan, kalau kamu masih sakit juga, besok kamu akan disembelih!” si Kuda mengatakan itu dengan sangat serius.

Terperanjatlah Lembu dan seketika itu ia bangkit berdiri. Merinding bulunya mendengar itu. Lembu takut sekali. Tidak ada kata-kata yang dia ucapkan. Keduanya kemudian diam. Si Kuda melirik wajah si Lembu dan lalu ia tersenyum. Si Kuda yang banyak akal merasa menang lagi.

Sementara keduanya tidak mengetahui bahwa Samad sebenarnya telah menguasai bahasa binatang dan sejak tadi berdiri di balik pohon pisang di belakang kandang.

[Ibnu Hadjare]

Komentar

Komentar